Screen Time Usia Dini Berdampak pada Memori dan Prestasi Sekolah

Smallest Font
Largest Font

Penggunaan layar digital atau screen time pada anak usia dini berisiko memengaruhi perkembangan kognitif mereka. Dampak ini terutama menyasar anak-anak pada rentang usia 1 hingga 8 tahun.

Seperti dilansir dari Detikcom, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama American Academy of Pediatrics menyarankan agar anak di bawah usia 18 hingga 24 bulan terhindar dari paparan layar. Sementara untuk anak berusia 2 sampai 5 tahun, batasan durasinya disarankan tidak melebihi satu jam setiap hari.

Aktivitas yang tergolong dalam penggunaan layar ini meliputi interaksi dengan smartphone, komputer laptop, televisi, hingga permainan elektronik.

Berbagai temuan mengindikasikan bahwa durasi anak-anak menatap layar kerap melebihi panduan resmi. Riset bertajuk "Screen viewing time from age 1 to 8 years and subsequent academic performance and working memory" dalam World Journal of Pediatrics Volume 22 membeberkan konsekuensi kondisi tersebut.

Paparan layar yang terlalu lama pada masa bayi dan awal sekolah memicu penurunan prestasi akademik pada usia 9 tahun. Peneliti juga menemukan penurunan kemampuan memori kerja saat anak menginjak usia 10,5 tahun.

Studi ini memantau perkembangan 502 anak di Singapura sejak bayi hingga usia kanak-kanak pertengahan. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan durasi penggunaan layar di enam fase usia berbeda terhadap kemampuan memori dan nilai akademik mereka.

Masa Paling Sensitif Perkembangan Otak

Pengaruh paparan layar menunjukkan dampak paling dominan pada periode bayi serta saat persiapan masuk sekolah formal. Hal ini menandakan adanya masa-masa rentan dalam pertumbuhan kognitif anak.

"Besaran efek yang kami amati pada usia 1 tahun merupakan yang terbesar dibandingkan seluruh titik waktu yang kami teliti," kata para peneliti seperti dikutip dari Science Daily.

"Hal ini mengisyaratkan masa bayi awal mungkin merupakan periode dengan tingkat sensitivitas tinggi, saat otak yang sedang berkembang, sangat rentan terhadap tergantikannya interaksi pembelajaran oleh aktivitas penggunaan layar," kata mereka.

Menariknya, kaitan signifikan tidak ditemukan pada penggunaan layar di usia 2 dan 3 tahun. Namun, efek negatif tersebut kembali menguat ketika anak mencapai usia 6 tahun.

Usia 6 tahun merupakan masa transisi penting menuju sekolah formal. Pada fase ini, anak mulai dihadapkan pada tuntutan fokus, memori, dan konsentrasi belajar yang lebih tinggi.

Langkah Pencegahan Sejak Dini

Para ahli menegaskan pentingnya memegang prinsip meminimalkan durasi menonton. Meski penambahan durasi layar satu jam sehari tidak langsung berdampak drastis pada individu, akumulasi dampak secara populasi tetap signifikan.

Langkah pengurangan waktu layar akan memberikan hasil optimal jika diterapkan sejak bayi dan diperketat menjelang usia sekolah. Peneliti menambahkan bahwa aspek durasi bukanlah satu-satunya faktor penentu.

Studi lanjutan masih diperlukan untuk mengamati variabel lain, seperti kualitas konten, jenis perangkat, hingga kehadiran orang tua saat mendampingi anak menonton.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed