Benarkah Tong Kosong Nyaring Bunyinya Berlaku di Politik Jatim 2026
Saya melihat fenomena "arti tong kosong nyaring bunyinya" kini tidak lagi sekadar menjadi hiasan di buku pelajaran bahasa Indonesia baku, melainkan menjelma menjadi peluru sinisme dalam panggung politik praktis terkini. Ungkapan klasik ini mendadak kembali ramai diperbincangkan publik setelah dipakai untuk saling serang oleh para elite organisasi massa Islam dan partai politik terbesar di Jawa Timur. Sebagai seorang pengamat yang kerap memperhatikan dinamika sosial, saya merasa penting untuk menguliti kembali apa maksud sebenarnya dari peribahasa tersebut dan bagaimana relevansinya saat ditarik ke dalam konflik nyata.
Secara harfiah, kita semua tahu bahwa sebuah wadah yang tidak memiliki isi akan mengeluarkan suara dentangan yang jauh lebih keras saat dipukul dibandingkan dengan wadah yang penuh.
Jika merujuk pada dokumentasi formal linguistik, seperti Kamus Dewan Edisi Keempat dari PRPM DBP Malaysia, kata tong didefinisikan sebagai tempat air atau padi yang dibuat daripada papan kayu bulat torak bentuknya, atau bisa juga berupa tin maupun kaleng yang besar untuk mengisi minyak. Dari bentuk fisik itulah lahir filosofi mendalam mengenai perilaku manusia yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari.
Definisi Berdasarkan Kamus dan Sastra Klasik
Kamus Dewan Edisi Keempat secara tegas menguraikan bahwa arti peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya' atau 'tong kosong berbunyi nyaring' adalah orang yang bodoh itu biasanya banyak cakapnya. Menariknya, khazanah sastra kita juga mengenal variasi lain yang maknanya senada, yakni 'adakah air yang penuh dalam tong itu berkocak, melainkan air yang setengah tong itu juga yang berkocak'.
Menurut catatan literatur yang sama, variasi peribahasa tersebut memiliki arti bahwa orang yang tidak berilmu juga yang biasanya paling banyak bicara atau sesumbar. Dari kacamata kritis saya, kekurangan dari penggunaan peribahasa ini dalam komunikasi modern adalah sifatnya yang sangat subjektif dan rawan dijadikan alat pembunuhan karakter. Ketika seseorang melabeli pihak lain sebagai 'tong kosong', penilaian itu sering kali didasarkan pada kebencian personal atau rivalitas kelompok, bukan atas dasar pengujian kecerdasan yang objektif secara ilmiah.
Saling Tuding Konflik PBNU dan PKB tentang Regenerasi Cak Imin
Sentimen mengenai peribahasa ini memuncak secara konkret dalam panggung politik nasional, khususnya ketika tensi hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memanas.
Pertarungan opini ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah ungkapan tradisional digunakan secara tajam untuk mendelegitimasi kekuatan politik lawan.
Garis besar perseteruan ini memanas saat muncul isu "konflik pbnu dan pkb tentang regenerasi cak imin" yang sudah memimpin partai tersebut dalam waktu yang sangat lama.
Pertarungan narasi antara elite parpol dan ormas kini beralih dari adu program menjadi adu kuat legitimasi basis massa melalui sindiran peribahasa.
Persoalan internal ini mencuat ke publik dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak yang berada di lingkaran kekuasaan kedua lembaga tersebut.
Akar Masalah dari Pernyataan Sekjen PKB
Konflik ini memanas berawal pada Kamis, 18 April 2024, ketika Sekjen DPP PKB M. Hasanuddin Wahid atau yang akrab disapa Cak Udin memberikan pernyataan pers yang menyentil sosok Gus Ipul.
Pernyataan dari pihak PKB inilah yang kemudian memicu serangan balik dari kubu PBNU karena merasa martabat tokoh mereka direndahkan di depan media massa.
Publik pun mulai bertanya-tanya mengenai alasan di balik ketegangan ini, termasuk mencari tahu lewat pencarian internet tentang "kenapa gus ipul disebut tong kosong oleh pkb" dalam dinamika parpol tersebut.
Pembelaan Keras dari Wasekjen PBNU
Tidak butuh waktu lama bagi PBNU untuk merespons serangan verbal tersebut dengan data dan argumen yang tidak kalah menyengat.
Pada Jumat, 19 April 2024, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H. Suleman Tanjung memberikan keterangan tertulis secara resmi kepada publik. Dilansir dari laporan berita detikcom, H.
Suleman Tanjung pasang badan dan membalikkan tudingan tersebut secara langsung kepada pucuk pimpinan PKB. Beliau secara gamblang menyatakan bahwa pihak PKB-lah yang sebenarnya pantas menyandang predikat kosong tersebut jika merujuk pada hasil perolehan suara elektoral.
Analisis Angka Perolehan Suara Pemilu dan Pilgub Jawa Timur
Untuk menghindari bias opini dan menjaga penilaian tetap kritis berbasis fakta, saya rasa kita perlu membedah data pemilu konkret yang menjadi dasar argumen dalam perselisihan ini.
Kubu PBNU menggunakan perbandingan hasil suara elektoral di Jawa Timur sebagai indikator utama untuk menentukan siapa yang sebenarnya memiliki "isi" dan siapa yang "kosong".
Berikut adalah data statistik hasil pemilu resmi yang sempat dipaparkan oleh H. Suleman Tanjung untuk membandingkan kekuatan politik antara kubu Gus Ipul dan kubu Muhaimin Iskandar.
| Kategori Pemilihan dan Nama Tokoh | Jumlah Perolehan Suara Resmi |
|---|---|
| Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Pemilu Pilpres 2024 Jawa Timur) | 4.492.652 |
| Saifullah Yusuf / Gus Ipul dan Puti Guntur (Pilgub Jatim 2018) | 9.076.014 |
| Durasi Kepemimpinan Muhaimin Iskandar di PKB | lebih dari 20 tahun |
Jika saya analisis data di atas secara objektif, argumen yang dilemparkan oleh Wasekjen PBNU memang memiliki landasan angka yang riil dari hasil rekapitulasi pemilu. Suleman Tanjung secara tegas membandingkan perolehan suara pasangan Anies-Muhaimin di Jatim pada Pilpres 2024 yang hanya menyentuh angka 4,4 juta suara lebih.
Angka tersebut kemudian dikontraskan dengan pencapaian Gus Ipul saat maju dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018 yang mampu meraup hingga 9 juta suara lebih. Dari perbedaan angka yang mencolok ini, pihak PBNU mengklaim bahwa legitimasi kemandirian politik pimpinan PKB patut dipertanyakan.
Terlebih lagi jika melihat fakta historis bahwa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin tercatat telah memimpin dan menguasai PKB selama lebih dari 20 tahun.
Fenomena Sosial Contoh Orang yang Tong Kosong Nyaring Bunyinya
Di luar ranah politik praktis yang penuh intrik, "peribahasa tong kosong" sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat modern, termasuk di dunia digital.
Saya sering menjumpai "contoh orang yang tong kosong nyaring bunyinya" di berbagai platform media sosial saat ini.
Mereka adalah tipe individu yang gemar berkomentar dengan nada sok tahu, merasa paling ahli di semua bidang, namun langsung bungkam saat dimintai data valid atau bukti ilmiah.
- Kreator konten yang menjual tips finansial instan tanpa rekam jejak keuangan yang jelas.
- Akun anonim di media sosial yang gemar memicu debat kusir tanpa dasar argumen yang kuat.
- Oknum pejabat atau tokoh masyarakat yang mengumbar janji manis tanpa rencana eksekusi yang realistis.
Secara psikologis, fenomena banyak bicara tanpa isi ini kerap dikaitkan dengan Dunning-Kruger Effect, sebuah kondisi di mana seseorang yang kurang berkompeten justru merasa dirinya sangat pintar.
Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyadari seberapa banyak kekurangan dan kebodohan yang mereka miliki. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk selalu melakukan mawas diri agar tidak terjebak menjadi pribadi yang gemar berbunyi nyaring padahal isinya nihil. Menilai seseorang sebagai tong kosong tidak boleh dilakukan secara serampangan hanya karena kita tidak menyukai figur atau kelompok tertentu.
Uji validitas dari setiap ucapan, selaraskan narasi dengan data faktual seperti perolehan angka riil, dan biarkan rekam jejak digital serta karya nyata yang menjadi pembuktian akhir terhadap kualitas diri seseorang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow