Kebakaran Hutan Kalimantan Parah Pakar Sebut Pemulihan Butuh 10 Tahun
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan serta berbagai wilayah Indonesia semakin memprihatinkan akibat dampak fenomena El Nino, sebagaimana dilaporkan oleh para pakar pada Senin (24/8/2026). Dilansir dari Detikcom, mayoritas area yang terbakar merupakan lahan gambut basah yang kaya materi organik sehingga memicu api merambat cepat di bawah permukaan tanah.
Kondisi kemarau panjang membuat lahan gambut mengering dan bertindak seperti bahan bakar yang sangat mudah terbakar oleh pemicu sekecil apa pun. Hal ini menyebabkan titik api bermunculan di bawah tanah dan memicu ancaman kebakaran berdurasi panjang jika El Nino bertahan hingga tahun depan.
Pakar konservasi dan ilmuwan biologi, Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD menyampaikan keprihatinannya terkait kesiapan penanganan bencana yang belum optimal di tengah ancaman El Nino besar.
"Kita kan merasa sedih juga ya, kenapa kok bisa terjadi. Padahal sudah diprediksi El Nino ya akan besar sekali di Indonesia tahun ini. Tapi kesiapan kita nggak bisa seperti apa yang diharapkan," tuturnya kepada wartawan usai acara Saworno Awards di Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Jatna menambahkan bahwa seluruh wilayah karhutla yang meluas tersebut didominasi oleh kawasan ekosistem gambut.
"Semuanya gambut (wilayah karhutla).Ya, daerah-daerah gambut itu semua," paparnya.
Lebih lanjut, ia memperingatkan dampak serius jika fenomena iklim ini berlanjut dalam rentang waktu yang lebih lama.
"Kalau El Nino sampai 2027, ini yang berbahaya sekali. Kita akan lama, kemungkinan terbakar ini juga lama. Kita harus siap beradaptasi dengan hal yang seperti ini," tegasnya.
Sementara itu, pakar konservasi dan peneliti senior BRIN, Prof Gono Semiadi menyoroti skala kerusakan ekosistem dan rumitnya proses pemadaman bara api subterranean.
"Yang menjadi masalah kembali, kita tidak tahu seberapa banyak ketika itu dipadamkan, apakah bara-bara yang di dalam itu tuntas, apakah akan muncul lagi dengan nanti El Nino yang masih panjang," jelasnya.
Menurut Gono, penanggulangan karhutla tidak boleh berhenti pada upaya pemadaman di atas permukaan tanah saja.
"Jadi proses penanggulangan terutama ini bukan proses hanya padam di permukaan. Kita harus juga menunggu seperti apa nih, yang padam di balik itu lapisan," sambung Gono.
Ia juga menegaskan bahwa proses perbaikan ekosistem atau suksesi biodiversitas di lahan gambut memerlukan ketersediaan data dasar serta waktu yang sangat panjang.
"Konteks untuk melakukan rehab dari perspektif biodiversity, ya kembalikan sedekat mungkin ke konteks yang awalnya, itu namanya suksesi. Kita harus duduk melihat ke data dasar ada nggak, apa saja. Itu yang menjadi challenge. Kalau datanya nggak ada, makin susah," jelasnya.
Gono menekankan bahwa jangka waktu satu dekade masih belum cukup untuk mengembalikan fungsi habitat asli yang rusak.
"10 tahun di gambut itu nggak ada apa-apanya. Itu seolah-olah hanya sehari dari proses suksesi. Ini permasalahan. Jadi 10 tahun untuk konteks suatu biodiversitas harus bisa sediakan dulu rumahnya yang cocok habitat, ekosistem," ujarnya.
Proses pemulihan lingkungan gambut pun menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait.
"Nah itu aja untuk wilayah Gambut, 10 tahun itu terlalu pendek. Itu hanya istilahnya 1 detik kegiatan dari suatu proses. Nah ini tantangan sekali," jelas Gono lagi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow