Banyak yang Salah Paham Mengenai Aturan Guru Lagu Guru Wilangan Pocung
Aturan guru lagu guru wilangan pocung sering kali dianggap remeh oleh sebagian orang karena strukturnya yang terlihat paling pendek di antara rumpun puisi Jawa Baru. Namun, jika Anda membedah struktur ini secara mendalam, ada ketelitian matematis dan filosofi spiritual yang luar biasa di balik susunan baitnya.
Sebagai penikmat sastra, saya melihat bahwa pemahaman masyarakat modern terhadap tembang macapat pucung ini mulai bergeser sekadar menjadi hafalan teks sekolah. Padahal, entitas sastra ini memiliki bobot sejarah, aturan metrum yang kaku, sekaligus ruang kreatif yang sangat cair seperti tradisi cangkriman.
Untuk memahami entitas ini seutuhnya, kita harus melihat bagaimana para ahli bahasa mendefinisikan istilah tersebut dari manuskrip kuno. Berdasarkan catatan dalam Kamus Bahasa Jawa Kuna P.J Zoetmulder pada halaman 868, kata "Pucung" ternyata memiliki dua arti utama yang sangat spesifik.
Arti pertama merujuk pada botol atau wadah gelas tempat menyimpan benda cair. Sementara itu, arti kedua berbentuk kata kerja yaitu amucung, yang memiliki arti mengunjungi atau memasuki suatu tempat dengan diam-diam.
Perspektif Poerwadarminta Mengenai Macapat
Definisi ini kemudian berkembang pesat ketika memasuki era sastra Jawa Baru. Tokoh bahasa terkemuka, Poerwadarminta, memberikan pandangan yang sangat mendasar mengenai kategori kesusastraan ini.
Pendapat Poerwadarminta ini dikutip langsung oleh Darusuprapta dalam Jurnal Macapat dan Santriswara Nomor 1 Tahun 1989. Sastrawan tersebut menyatakan bahwa macapat adalah jenis tembang dalam gubahan puisi hasil karya sastra Jawa Baru.
Filosofi Kematian Menurut Zahra Haidar
Selain arti harfiah dari kamus kuno, makna spiritual dari tembang ini menjadi bagian yang paling emosional sekaligus filosofis. Tahapan macapat secara umum menggambarkan kronologi perjalanan hidup manusia dari rahim hingga ajal.
Zahra Haidar dalam bukunya yang berjudul Macapat: Tembang Jawa Indah dan Kaya Makna menuliskan ulasan yang sangat tajam mengenai fase ini. Penulis tersebut menjelaskan bahwa tembang pucung diibaratkan sebagai tahapan terakhir dalam kehidupan manusia, yaitu berada di alam baka.
Nama pucung dekat dengan kata pocong, yang melambangkan jasad manusia yang sudah meninggal dunia dan dibungkus kain kafan sebelum menghadap Sang Pencipta.
Menghitung Paugeran Ikatan Metrum yang Kaku
Banyak pemula yang terjebak saat mencoba menyusun puisi Jawa Baru ini karena mengabaikan struktur dasar yang mengikatnya. Aturan tembang macapat pucung sejatinya bersandar pada tiga pilar utama, yaitu guru gatra (jumlah baris), guru wilangan (jumlah suku kata), dan guru lagu (jatuhnya vokal di akhir baris).
Berdasarkan pakem yang berlaku, metrum ini hanya memiliki 4 gatra atau larik dalam satu pada atau bait. Jumlah ini terhitung paling sedikit jika kita bandingkan dengan metrum rumit seperti Dhandhanggula.
Mari kita bedah secara mendalam rumus mutlak dari aturan guru lagu guru wilangan pocung yang menjadi standar penulisan:
- Gatra Pertama (1): Wajib memiliki 12 suku kata dan diakhiri dengan runtunan vokal atau huruf hidup "u" (12-u).
- Gatra Kedua (2): Wajib memiliki 6 suku kata dan diakhiri dengan runtunan vokal atau huruf hidup "a" (6-a).
- Gatra Ketiga (3): Wajib memiliki 8 suku kata dan diakhiri dengan runtunan vokal atau huruf hidup "i" (8-i).
- Gatra Keempat (4): Wajib memiliki 12 suku kata dan diakhiri dengan runtunan vokal atau huruf hidup "a" (12-a).
Kekurangan dari ketatnya aturan gatra pertama dan keempat yang mencapai 12 suku kata ini sering membuat penulis pemula memaksakan kata-kata yang tidak selaras demi mengejar jumlah vokal. Akibatnya, koherensi makna antarlarik sering kali rusak demi mengejar aspek teknis metrum.
Kedudukan Pucung dalam Ekosistem Macapat
Masyarakat Jawa secara umum mengenal 11 metrum tembang macapat yang hidup di dalam tradisi lisan maupun tulisan. Kesebelas metrum inilah yang paling sering diajarkan di institusi pendidikan formal maupun informal.
Setiap metrum memiliki watak tersendiri yang disesuaikan dengan isi cerita yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Watak tembang pucung cenderung jenaka, santai, memberi nasihat, atau berisi tebak-tebakan.
Untuk melihat peta sebaran ragam puisi Jawa Baru ini, saya menyusun perbandingan data struktur antara jenis yang populer dengan jenis metrum langka berdasarkan catatan sejarah sastra Jawa.
| Kategori Metrum | Nama Tembang Macapat | Jumlah Gatra per Bait |
|---|---|---|
| Metrum Umum 1 | Maskumambang | 4 |
| Metrum Umum 2 | Mijil | 6 |
| Metrum Umum 3 | Sinom | 9 |
| Metrum Umum 4 | Kinanthi (Kinanti) | 6 |
| Metrum Umum 5 | Asmarandana | 7 |
| Metrum Umum 6 | Gambuh | 5 |
| Metrum Umum 7 | Dhandhanggula (Dandanggula) | 10 |
| Metrum Umum 8 | Durma | 7 |
| Metrum Umum 9 | Pangkur | 7 |
| Metrum Umum 10 | Megatruh | 5 |
| Metrum Umum 11 | Pucung (Pocung) | 4 |
| Metrum Tambahan 1 | Balabak | 3 |
| Metrum Tambahan 2 | Wirangrong | 6 |
| Metrum Tambahan 3 | Jurudemung | 5 |
| Metrum Tambahan 4 | Gurisa | 8 |
Data di atas memperlihatkan kontras yang jelas antara rumpun utama dengan rumpun sekunder. Menurut Danusuprapta, terdapat 4 metrum lain yang saat ini sudah jarang digunakan oleh masyarakat, yaitu Balabak, Wirangrong, Jurudemung, dan Gurisa.
Kemampuan bertahan hidup dari metrum kesebelas ini jauh lebih kuat dibandingkan empat metrum tambahan yang hampir punah tersebut. Hal ini terjadi karena watak fleksibelnya sering diadopsi menjadi permainan tebak-tebakan rakyat atau cangkriman bapak pucung yang interaktif.
Meskipun demikian, ada sisi lemah yang saya amati dalam lanskap pelestarian budaya saat ini. Pendekatan pengajaran seni vokal tradisi ini terlalu fokus pada teks statis, sehingga kehilangan esensi hiburan yang aslinya melekat pada watak jenaka puisi tersebut.
Jika Anda ingin melestarikan kesusastraan ini, kuncinya bukan sekadar menghafal rumus angka 12-u atau 6-a di luar kepala. Keberhasilan menjaga tradisi ini justru terletak pada keberanian untuk terus menulis lirik baru yang relevan dengan realitas sosial masa kini tanpa merusak fondasi paugeran peninggalan para leluhur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow