BRIN Jelajahi Perairan Indonesia Selama 200 Hari
Penelitian mendalam mengenai potensi kebencanaan dan keanekaragaman hayati maritim kembali menjadi fokus utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga riset tersebut bersiap menggelar ekspedisi perairan Indonesia selama 200 hari yang dijadwalkan berlangsung pada periode 2026 hingga 2028, dilansir dari Detikcom.
Penjelajahan skala besar ini bakal menyisir sejumlah titik krusial. Area sasaran mencakup zona megathrust, Flores thrust, kompleks gunung bawah laut, hingga zona tumbukan di kawasan Indonesia bagian timur.
Langkah strategis ini berjalan di bawah skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Invitasi Strategis 2026. Program tersebut dirancang khusus dalam kerangka Ekspedisi dan Eksplorasi Keanekaragaman Hayati dan Geologi Maritim Perairan Indonesia.
Pengumpulan data di wilayah laut serta Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia menjadi prioritas utama. Langkah ini diambil lantaran masih banyak area perairan nasional yang belum memiliki basis data memadai.
Ketua Tim Tata Kelola Ekspedisi Kapal Riset BRIN, Adi Slamet Riyadi, memaparkan bahwa wilayah perairan nasional memiliki potensi besar sekaligus tantangan tersendiri bagi dunia penelitian.
"Program ini dirancang untuk mengeksplorasi wilayah laut dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia guna mendukung pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan," kata Adi dalam Kick Off RIIM Invitasi Strategis 2026 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Adi menekankan pentingnya akuisisi data primer langsung dari lapangan. Informasi tersebut sangat vital untuk memahami pemetaan lingkungan laut, potensi sumber daya alam, hingga pemetaan risiko bencana di berbagai penjuru Nusantara.
"Melalui platform ini, BRIN memfasilitasi akses inklusif bagi peneliti, dosen, hingga mahasiswa untuk melakukan akuisisi data lapangan, kontrol kualitas, analisis, serta publikasi pada jurnal bereputasi," kata Adi.
Armada Kapal dan Fokus Penelitian
Untuk menunjang kelancaran misi, BRIN memobilisasi beberapa armada kapal riset dengan pembagian tugas khusus:
- KR Baruna Jaya III ditugaskan untuk riset hidrografi dan geosains di perairan Bali, NTT, Laut Sawu, serta Sumba.
- KRI Canopus 936 difokuskan pada pemetaan biodiversitas dan hidro-oseanografi di Selat Malaka dan Natuna.
- KN Madidihang 03 disiagakan sebagai kapal pendukung sesuai kebutuhan di lapangan.
Pelaksanaan riset RIIM Invitasi Strategis 2026 mencakup empat pilar utama, yaitu geosains kelautan, biodiversitas (termasuk perikanan), oseanografi, dan hidrografi. Ruang lingkupnya membentang dari eksplorasi hayati tingkat molekuler, pengujian stok ikan, pemetaan laut, hingga penelitian struktur geologi bawah laut.
Data perikanan yang terkumpul nantinya dapat dimanfaatkan kementerian atau lembaga terkait. Salah satunya sebagai pijakan kajian fish stock assessment di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI).
"Yang kita harapkan bukan hanya ekspedisinya, tetapi bagaimana data yang diperoleh bisa menjadi basis untuk penelitian berikutnya dan memberikan kontribusi bagi kebutuhan nasional," ungkap Adi.
Pendaftaran proposal program ini dibuka pada 20 Agustus hingga 6 September 2026, dilanjutkan proses seleksi pada 7–21 September 2026. Pengumuman hasil seleksi dijadwalkan pada 25 September 2026, sedangkan pelaksanaan hari layar pertama dimulai pada 5 November 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow