Siswa SMAN 1 Prambanan Raih Juara Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026

Smallest Font
Largest Font

Seorang siswa SMAN 1 Prambanan bernama Mursid Yoga Pratama berhasil meraih penghargaan pemenang pertama ajang Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 kategori remaja yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan di Jakarta pada Rabu (24/6/2026).

Pencapaian pelajar asal Klaten, Jawa Tengah tersebut diraih setelah membawakan cerita fabel berjudul "Sang Kera dan Buaya" yang bersumber dari relief di Candi Sojiwan, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Mursid Yoga Pratama sengaja memilih cerita tersebut untuk memperkenalkan keberadaan candi-candi lain di sekitar Kompleks Prambanan ke tingkat nasional.

"Karena cerita itu belum terlalu terangkat, jadi saya mengangkat cerita tersebut ke ranah nasional. Biasanya kan (candi) yang dikenal cuma Prambanan, Sewu, sedangkan di sekitar itu ada candi lain, Sojiwan dan juga Plaosan. Tapi yang saya ambil itu Candi Sojiwan," tutur Mursid Yoga Pratama, Pemenang Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026.

Ketertarikan remaja yang juga menjabat sebagai Duta Wisata Kabupaten Klaten ini terhadap cerita rakyat tidak lepas dari peran orang tuanya yang selalu mengenalkan relief fabel sejak dini.

"Orang tua itu juga udah mengenalkan dari dulu. Kayak, 'Oh, iki lho, Le, mbiyen ki neng Sojiwan kuwi nyeritake relief tentang fabel, cerita hewan'," kenang Mursid Yoga Pratama.

Relief di Candi Sojiwan juga memuat kisah hewan lain seperti angsa dan gajah, namun kisah kera dan buaya dipilih karena memiliki pesan moral yang mendalam mengenai kesetiaan.

"Kita nggak boleh ngincer milik orang lain, karena kan di cerita kera dan buaya ini, si buaya mau mengincar jantungnya si kera. Nah, itu kan pengkhianatan. Jadi kita tidak boleh berkhianat kepada teman sendiri," ucap Mursid Yoga Pratama.

Nilai-nilai dari cerita tersebut ia refleksikan pula dalam kehidupan pribadinya sebagai anak seorang petani dan guru TK yang tinggal di lereng Gunung Merapi.

"Kita tidak boleh berkhianat kepada orang tua. Orang tua pun menyekolahkan saya dengan susah payah. Ayah saya petani dan ibu saya guru TK, dengan perjuangan mereka menyekolahkan saya. (Sehingga) kita tidak boleh berkhianat baik itu kepada teman, saudara, maupun orang tua sendiri," tegas Mursid Yoga Pratama.

Menjelang kelas 12, Mursid kini bersiap melanjutkan pendidikan ke program studi Pendidikan Bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta demi melestarikan kebudayaan daerah.

"Mungkin karena merasa kesusahan di aksara Jawa-nya, atau mungkin berpikir, 'Alah, ini bahasa apa sih? bahasa Jawa sudah nggak relevan buat zaman sekarang'. Nah, saya ingin membangkitkan kembali hal itu," tegas Mursid Yoga Pratama.

Melalui prestasi ini, ia berharap generasi muda lainnya dapat ikut tergerak untuk menjaga dan merawat warisan tradisi Nusantara di masa depan.

"Pesan saya untuk para Gen Z yang masih malas atau bahkan bertanya 'Apa itu dongeng?', mari tetap lestarikan budaya, terutama mendongeng. Karena kalau bukan kita yang melestarikan, baik itu dongeng, budaya daerah, bahasa daerah, karawitan, maupun budaya lainnya, siapa lagi?" tandas Mursid Yoga Pratama.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed