Biksu I Tsing Bongkar Fakta Sriwijaya Pusat Studi Buddha Dunia

Smallest Font
Largest Font

Catatan I Tsing membongkar fakta sejarah bahwa Nusantara pernah menjadi pusat pembelajaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Melalui manuskrip kuno yang ditinggalkannya, kita dapat membantah anggapan keliru mengenai eksistensi kerajaan kuno di Indonesia. Banyak sejarawan awam sempat berspekulasi dan menyebut kerajaan sriwijaya fiktif karena minimnya reruntuhan bangunan batu megah seperti di Jawa.

Namun, kesaksian tertulis dari seorang peziarah internasional membuktikan bahwa wilayah ini merupakan metropolitan maritim yang sangat hidup. Untuk memahami isi dan metodologi analisis naskah kuno ini, kita perlu membedah dokumen sejarah secara runut dan sistematis. Berikut adalah panduan edukatif untuk memahami dan menganalisis kesaksian sejarah berdasarkan memoar perjalanan sang biksu.

Sebelum membedah isi teksnya, Anda harus memahami terlebih dahulu profil dari sang penulis agar mendapatkan konteks historiografi yang objektif. Pertanyaan yang sering muncul di kalangan pelajar biasanya berupa "siapa itu biksu i tsing?" yang kerap menghiasi buku pelajaran sejarah.

Ia adalah seorang biksu sekaligus penjelajah ulung dari Tiongkok yang hidup pada masa Dinasti Tang (618–907 M). Dari pengalaman saya menangani pengarsipan dokumen sejarah, memahami latar belakang politik dinasti asal sangat membantu dalam melacak keaslian motif penulisan sebuah catatan perjalanan kuno. Misi utamanya pergi ke barat bukan untuk berdagang, melainkan untuk mengumpulkan naskah suci agama Buddha langsung dari tanah kelahirannya di India. Namun, dalam perjalanannya tersebut, ia justru tertahan di wilayah Nusantara dan merekam kondisi sosial masyarakat lokal secara sangat mendetail.

Langkah 2: Melacak Rute Perjalanan Internasional sang Biksu

Langkah berikutnya dalam menganalisis dokumen ini adalah memetakan pergerakan geografis sang penjelajah secara kronologis dari pelabuhan asal hingga tempat tujuan. Berdasarkan rekonstruksi teks, navigasi laut purba sangat bergantung pada arah angin musim yang berembus di Selat Malaka.

Anda dapat memetakan rute perjalanan i tsing ke india berdasarkan kronologi pelayaran yang tercatat dalam memoarnya. Perjalanan ini melibatkan singgah di beberapa pelabuhan penting pra-Islam yang menjadi titik temu para pelaut dunia.

  1. Berlayar selama 20 hari dari Guangzhou (Kanton) menggunakan kapal Po-sse hingga tiba di Sriwijaya (Foshi) pada tahun 671 M.
  2. Menetap dan belajar bahasa Sanskerta serta tata bahasa di Sriwijaya selama enam bulan penuh.
  3. Melanjutkan perjalanan ke Melayu dan tinggal di sana selama dua bulan.
  4. Berlayar menuju Kedah di semenanjung Malaya untuk mempersiapkan pelayaran samudra.
  5. Mengarungi Samudra Hindia hingga akhirnya sampai di India pada tahun 673 M.
Jejak Sriwijaya dalam Catatan Cina I-Tsing dan Pedagang Arab | Kingdom Theory

Setelah sampai di India, sang biksu menghabiskan waktu yang sangat lama untuk memperdalam keilmuannya. Ia mulai mengajar dan belajar di Universitas Nalanda selama sepuluh tahun sejak tahun 675 M sebelum akhirnya kembali ke Timur.

Langkah 3: Menganalisis Struktur Pemerintahan dan Diplomasi Maritim

Setelah memetakan rute, Anda harus membedah isi teks yang berkaitan dengan status politik dan hubungan internasional wilayah yang dikunjungi. Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, banyak peneliti pemula melewatkan detail hubungan diplomatik antarkerajaan.

Catatan tersebut menegaskan bahwa letak kerajaan sriwijaya berada di jalur strategis yang menghubungkan perdagangan internasional. Kerajaan ini memegang kendali atas lalu lintas pelayaran maritim antara dunia barat dan dunia timur.

Eksistensi politik ini diperkuat oleh dokumen pendukung mengenai hubungan luar negeri yang intens dengan kekuatan global saat itu. Berita Tionghoa merekam bahwa penguasa wilayah ini sangat aktif mengirimkan utusan resmi ke berbagai belahan dunia.

Linimasa Hubungan Diplomatik dan Kronologi Eksistensi Sriwijaya Menurut Sumber Tiongkok
Masa Dinasti TiongkokNama Wilayah dalam KitabTahun Pengiriman Utusan
Dinasti Tang (618–907 M)Shih-li-fo-shih670–673 M
Dinasti Tang (618–907 M)Shih-li-fo-shih713–741 M
Dinasti Song (Abad 11–13 M)San-fo-ts’i960 M
Dinasti Song (Abad 11–13 M)San-fo-ts’i1178 M

Kesalahan umum yang saya lihat adalah menganggap kerajaan ini terisolasi dari peradaban luar selain Tiongkok. Padahal, teks lain menunjukkan Maharaja Sriwijaya juga tercatat mengirim surat dan hadiah melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn 'Abd. Al-Aziz pada tahun 717–720 M.

Langkah 4: Mengidentifikasi Informasi Kerajaan Tetangga di Pulau Jawa

Dokumen sejarah tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu memberikan petunjuk mengenai eksistensi entitas politik lain yang berada di sekitarnya. Saat menganalisis catatan i tsing sriwijaya, Anda juga akan menemukan petunjuk penting mengenai geografi politik Pulau Jawa.

Sang biksu memberikan informasi berharga mengenai eksistensi Kerajaan Kalingga atau yang dalam lidah kronik Tiongkok disebut sebagai Ho-ling. Berdasarkan teks tersebut, kerajaan ini sudah muncul sejak abad ke-6 Masehi di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Informasi spesifik mengenai Ho-ling ini terekam dengan baik pada era Dinasti Tang tahun 618–906 M. Secara khusus, terdapat catatan yang bertahun 664–665 M yang menggambarkan kondisi religiusitas dan keteraturan hukum di Jawa tengah.

Keteraturan hukum di Jawa Tengah pada masa itu tidak lepas dari ketegasan sistem peradilan tempatan yang sangat melegenda di kalangan para musafir asing.

Melalui dokumentasi tersebut, para sejarawan modern dapat melacak sejarah kerajaan kalingga secara lebih valid. Kesaksian tertulis ini menjadi fondasi utama dalam merekonstruksi garis waktu peradaban pra-Mataram kuno di Jawa.

Langkah 5: Melacak Historiografi Publikasi dan Terjemahan Modern

Langkah terakhir dalam studi teks kuno adalah melacak bagaimana manuskrip tersebut bisa sampai ke tangan kita hari ini dalam bentuk cetak modern. Proses transliterasi dari aksara Tionghoa klasik ke bahasa modern membutuhkan waktu berabad-abad. Gerakan penerjemahan kitab suci dan naskah kuno Timur secara masif berlangsung sekitar tahun 1800-an hingga awal abad ke-20. Proyek ambisius ini menghasilkan 50 volume koleksi buku komprehensif yang berjudul “Sacred books of the East”.

Kitab asli yang ditulis oleh sang biksu sendiri memiliki judul asli “Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan”. Kitab bertanggal 671–695 M ini kemudian diterjemahkan oleh seorang sarjana bernama Takakusu Junjiro ke dalam bahasa Inggris. Hasil terjemahan tersebut diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago” pada tahun 1896. Buku inilah yang kini menjadi rujukan utama para sejarawan di seluruh dunia untuk meneliti sejarah Nusantara purba.

Alternatif Validasi Sejarah Melalui Bukti Arkeologis Lapangan

Meskipun kesaksian tertulis sangat mendalam, studi sejarah yang komprehensif selalu membutuhkan konfirmasi dari bukti-bukti fisik di lapangan. Anda tidak boleh hanya bertumpu pada teks dokumen tanpa melihat peninggalan material yang tersisa di bumi.

Untuk wilayah Jawa Tengah, narasi tertulis mengenai ketatnya hukum ratu shima kalingga didukung oleh keberadaan situs-situs keagamaan tua. Penemuan prasasti dan struktur batu di pedalaman menjadi bukti fisik bahwa komunitas spiritual yang dicatat oleh para biksu memang nyata adanya. Beberapa peninggalan kerajaan kalingga seperti Prasasti Tukmas dan Prasasti Sojomerto menjadi bukti autentik yang mengonfirmasi perkembangan bahasa dan religi.

Integrasi antara teks asing dan arkeologi lokal inilah yang membuat rekonstruksi sejarah Indonesia menjadi valid dan tidak terbantahkan oleh klaim-klaim fiktif. Satu hal yang pasti, berdasarkan penyamaan nama Shih-li-fo-shih dengan San-fo-ts’i dalam Berita Tionghoa, peradaban maritim ini terbukti muncul pada abad ke-7, berkembang pesat, dan baru lenyap sepenuhnya pada abad ke-13 Masehi sesuai dengan laporan dari situs berita sejarah Historia.id.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed