Gen Z Lebih Memilih Work-Life Balance Dibanding Naik Jabatan

Smallest Font
Largest Font

Perjalanan karier yang mulus merupakan impian seluruh pekerja. Menariknya, kini terdapat fenomena di mana kalangan gen z lebih memilih menjadi staf biasa, alih-alih naik jabatan. Pasalnya, mereka lebih memilih work-life balance daripada kehilangan waktu untuk kehidupan pribadi, kesehatan menurun, dan kesempatan mengembangkan diri berkurang.

Rahmi Damayanti, pakar Ilmu Perkembangan Keluarga dari IPB University mengatakan bahwa kecenderungan gen Z ini tidak lantas dapat diartikan bahwa mereka tidak ambisius atau tidak ingin berkembang.

Bagi Gen Z, Keberhasilan Tak Semata Kenaikan Jabatan

Dari perspektif ilmu keluarga, pekerjaan merupakan bagian dalam kehidupan individu dan keluarga. Saat pekerjaan semakin menumpuk, maka waktu dan energi yang bisa dicurahkan kepada kehidupan pribadi atau keluarga bisa berkurang. Wajar apabila seseorang memiliki pertimbangan arah karier, ingin promosi atau tetap jadi staf.

"Bagi sebagian gen z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri," tuturnya seperti dilansir dari IPB University.

Ia menjelaskan bahwa keputusan menolak naik jabatan dapat menunjukkan bahwa seseorang lebih memprioritaskan kualitas hidup, bukan berarti menunjukkan gen z tidak ingin berkembang hingga menerima tanggung jawab yang lebih besar untuk pekerjaannya.

"Gen z memasuki dunia kerja dalam konteks perubahan besar: digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, serta meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan dan kesejahteraan," sambung pakar tersebut.

Rahmi Damayanti juga menekankan untuk tidak memukul rata fenomena gen Zzini. Tetap banyak gen Z yang ambisius namun mengharapkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.

Penyesuaian Tempat Kerja

Bukan hanya individunya yang harus beradaptasi, tempat kerja juga harus beradaptasi untuk mendukung perkembangan pekerjanya. Salah satu yang dapat dieksekusi oleh tempat kerja adalah menciptakan lingkungan yang lebih fleksibel dengan mempertimbangkan perubahan sistem dan kebijakannya. Hal ini ditujukan agar para pekerja bisa tetap atau bahkan lebih produktif, bisa berkembang, sekaligus dapat menjalankan fungsi dan tanggung jawab keluarganya.

Gagasan lingkungan pekerjaan yang ramah keluarga ini juga telah lama diinisiasi dan terus diadvokasikan oleh Prof Euis Sunarti, seorang Guru Besar bidang Ketahanan dan Pemberdayaan di IPB University. Ia menempatkan keluarga sebagai satu hal yang juga penting dalam pembentukan kebijakan dan praktik dunia kerja.

"Hal tersebut dapat diwujudkan melalui fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, cuti, dan waktu kerja yang lebih adaptif, serta budaya organisasi yang tidak menjadikan bekerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas," kata Rahmi.

Solusi Krisis Kepemimpinan Gen Z

Selain sistem dan kebijakan di tempat kerja, diperlukan perubahan terkait definisi berhasil dalam hal jalur karier. Artinya, Rahmi menjelaskan, work-life balance yang dipahami oleh gen Z bukan bermaksud untuk mengurangi tanggung jawab yang sudah ada dan membatasi pengembangan diri, melainkan mengatur bagaimana hal-hal tersebut dapat diimbangi dengan fungsi dalam keluarga yang tetap terjaga.

"Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup," jelasnya.

Fenomena ini dapat menjadi waktu yang tepat bagi dunia kerja untuk menawarkan jalur karier yang beragam, tidak hanya jalur manajerial melainkan jalur keahlian profesional atau individual contributor. Regenerasi kepemimpinan sendiri, dapat dipersiapkan diantaranya melalui kegiatan mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, dan pengalaman memimpin secara bertahap.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow