Jejak Epik Murid Jamaluddin Al Afghani yang Mengguncang Dunia Islam

Smallest Font
Largest Font

Nama besar Muhammad Abduh tidak pernah bisa dilepaskan dari pertanyaan mengenai siapa murid Jamaluddin Al Afghani yang kemudian menjadi pemimpin terkemuka di dunia Islam. Saya melihat sosok ini bukan sekadar mengekor pemikiran gurunya, melainkan tumbuh menjadi raksasa intelektual yang mereformasi institusi sebesar Al Azhar. Melalui artikel ini, saya akan mengupas secara kritis bagaimana dinamika hubungan guru-murid ini membentuk wajah modernisasi Islam dunia.

Membahas pergerakan Islam pada penghujung abad ke-19 tanpa menyebut Jamaluddin Al Afghani adalah sebuah kekeliruan besar. Tokoh pembaharu islam yang lahir pada tahun 1838 dan wafat tahun 1897 ini menjelajahi berbagai belahan dunia untuk menyebarkan ide-ide revolusioner. Sepanjang usianya, ia tercatat pernah tinggal di India, Afghanistan, Turki, Mesir, Perancis, Rusia, Amerika Serikat, London, Uzbekistan, dan Iran.

Namun, dari semua tempat tersebut, durasi tinggal Al Afghani di Mesir selama delapan tahun menjadi periode paling krusial. Di sinilah ia bertemu dengan Muhammad Abduh, seorang pemuda cerdas yang kelak menjelma menjadi Grand Mufti di Mesir, anggota dewan legislatif, hingga rektor Al Azhar. Hubungan intelektual keduanya melahirkan gelombang pembaharuan yang efeknya masih kita rasakan hingga hari ini.

Sebelum kita membedah lebih dalam mengenai Muhammad Abduh, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang dibawa oleh gurunya. Pemikiran Al Afghani berakar pada gagasan besar yang kita kenal sebagai konsep Pan-Islamisme Modern. Pemikir yang kerap dijuluki sebagai siapa bapak pan islamisme modern ini memiliki pandangan yang sangat ketat mengenai agama.

Bagi Al Afghani, Islam bukan sekadar urusan ritual privat atau ibadah di dalam masjid semata. Beliau meyakini Islam sebagai tata kehidupan komprehensif dan ketat yang mencakup aspek politik, kemasyarakatan, hingga peribadatan. Atas dasar keyakinan inilah, ia menyerukan persatuan umat Islam sedunia untuk melawan kolonialisme Eropa yang masif pada abad ke-19.

Satu hal yang saya kagumi dari biografi jamaluddin al afghani singkat adalah pandangannya yang sangat progresif terkait ilmu pengetahuan. Beliau menyatakan bahwa umat Islam perlu belajar tentang semua ilmu pengetahuan modern. Namun, pada saat yang bersamaan, umat juga harus mendidik generasi muslim secara lebih ketat dalam hal nilai-nilai, tradisi, dan sejarah Islam.

Konsep Modernisasi Versus Westernisasi

Sering kali, orang salah kaprah dan menyamakan modernisasi dengan peniruan buta terhadap budaya Barat. Di sinilah letak kejeniusan Al Afghani dalam merumuskan perbedaan modernisasi dan westernisasi menurut al afghani. Menurutnya, modernisasi tidak harus berarti westernisasi yang menelan mentah-mentah budaya luar.

Muslim bisa mencari bahan modernisasi khas di dalam Islam sendiri melalui pemikiran rasional dan penolakan taklid buta. Gagasan ini ditularkan secara kuat kepada para muridnya, terutama Muhammad Abduh. Sayangnya, ide-ide revolusioner ini sering kali berbenturan dengan penguasa lokal yang cenderung status quo.

Al Afghani akhirnya diusir dari Turki karena menyerukan masyarakat berpikir rasional dan tidak taklid buta. Nasib serupa menimpanya di Mesir; ia diusir setelah delapan tahun mengajar karena ide-idenya yang dianggap terlalu progresif dan revolusioner. Salah satu gagasan radikalnya saat itu adalah menyerukan demokrasi parlementer versi Islam saat mengajar di Universitas Al Azhar Mesir melalui konsep Syuro dan Ijma’.

Mengenal Jamaludin al Afghani | Ribka Marbella

Muhammad Abduh: Sang Murid Utama yang Menggebrak Al Azhar

Ketika Jamaluddin Al Afghani diusir dari Mesir, obor perjuangan intelektual itu tidak padam, melainkan berpindah ke tangan Muhammad Abduh. Hubungan guru dan murid ini sangat unik. Jika Al Afghani adalah seorang aktivis politik yang meledak-ledak dan bergerak dari satu negara ke negara lain, maka Muhammad Abduh adalah seorang reformis institusional yang bergerak lewat jalur pendidikan dan hukum.

Sebagai pelanjut utama, sejarah muhammad abduh mencatat kontribusi besarnya dalam merombak kurikulum Al Azhar yang saat itu dinilai terlalu kaku. Menurut saya, langkah Abduh menduduki posisi strategis seperti Grand Mufti dan Rektor Al Azhar adalah strategi jitu. Beliau sadar bahwa perubahan pemikiran tidak akan bertahan lama jika tidak dilembagakan dalam sistem pendidikan.

Kritik terbesar Abduh diarahkan pada mentalitas umat Islam pada zamannya yang terjebak dalam kejutan budaya dan kemunduran berpikir. Beliau melihat ada penyakit akut yang menjangkiti mentalitas para ulama tradisional saat itu, yaitu penolakan terhadap pembaharuan dan sains modern.

Penyebab Kemunduran Umat Islam dan Perang Melawan Taklid

Dalam salah satu pemikirannya yang paling monumental, Muhammad Abduh secara tegas membongkar apa yang menjadi akar masalah jatuhnya kejayaan Islam. Bagi Anda yang penasaran tentang penyebab kemunduran umat islam menurut muhammad abduh, jawabannya terletak pada hilangnya tradisi berpikir kritis.

"Kecenderungan umat untuk taklid dan menolak ijtihad merupakan penyebab kemunduran umat Islam. Taklid dapat meruntuhkan kepercayaan diri kaum muslim, juga menghilangkan semua bentuk kreativitas dan pemikiran segar diantara para cendekiawan dan intelektual Islam"

Lalu, apa itu taklid dalam islam yang begitu diperangi oleh Abduh? Secara sederhana, taklid adalah mengikuti pendapat orang lain secara buta tanpa mengetahui dasar pengambilan hukumnya. Sikap mental seperti inilah yang membuat nalar kritis umat mati dan membuat dunia Islam tertinggal jauh dari peradaban luar.

Silsilah Intelektual dan Pergeseran Pemikiran ke Rasyid Ridha

Warisan pemikiran dari Al Afghani ke Muhammad Abduh tidak berhenti begitu saja. Estafet intelektual ini kemudian berlanjut ke generasi berikutnya, yaitu Rasyid Ridha. Hubungan berantai tiga tokoh ini laksana sebuah trilogi pembaharuan Islam, meskipun dalam perjalanannya terjadi pergeseran ideologi yang cukup signifikan.

Rasyid Ridha memposisikan dirinya sebagai pelanjut Muhammad Abduh dan Jamaludin Al Afghani. Namun, saya melihat ada catatan kritis yang perlu digarisbawahi di sini. Berbeda dengan Abduh yang sangat rasional, Rasyid Ridha justru membawa pemikiran yang cenderung konservatif di akhir hayatnya.

Jika Al Afghani fokus pada persatuan politik (Pan-Islamisme) dan Abduh fokus pada rasionalitas pendidikan, Rasyid Ridha justru kembali ke romantisme masa lalu. Beliau mengakui dan meyakini adanya pemerintahan negara Islam dengan idealisasi zaman Nabi dan khulafa Al Rasyidin. Pergeseran ini menunjukkan bahwa murid dari seorang murid bisa mengambil arah yang sangat berbeda dari sang guru besar.

Untuk melihat bagaimana karakteristik dan fokus gerakan dari ketiga tokoh sentral ini, saya telah merangkum datanya dalam tabel perbandingan di bawah ini agar lebih mudah dipahami.

Perbandingan Fokus Gerakan Tokoh Pembaharu Islam Abad ke-19
Nama TokohPeran UtamaFokus GerakanKarakter Pemikiran
Jamaluddin Al AfghaniBapak Pan-IslamismePersatuan Politik Global & Anti-KolonialismeRevolusioner & Progresif
Muhammad AbduhGrand Mufti & Rektor Al AzharReformasi Pendidikan & Hukum IslamRasional & Anti-Taklid
Rasyid RidhaPelanjut & Jurnalis Al-ManarIdealisasi Pemerintahan Islam KlasikKonservatif & Skriptualis

Kekurangan dalam Gerakan Reformasi Abduh

Sebagai seorang reviewer sejarah yang objektif, saya tidak bisa hanya memuji gerakan ini tanpa melihat celah kekurangannya. Salah satu kelemahan terbesar dari gerakan pembaharuan yang diusung oleh Muhammad Abduh adalah resistensi sosial yang terlalu masif dari kalangan akar rumput.

Pendekatan Abduh yang sangat elitis dan berpusat di menara gading Universitas Al Azhar membuatnya jarak dengan masyarakat awam. Akibatnya, ketika beliau wafat, banyak dari reformasi kurikulumnya yang dimentahkan kembali oleh kubu konservatif karena masyarakat belum siap menerima lompatan logika yang ditawarkannya.

Selain itu, ketergantungan Abduh pada patronase politik penguasa Mesir dan Inggris saat itu untuk memuluskan reformasi hukumnya sering kali menjadi bumerang. Langkah ini membuat sebagian kalangan menuduhnya terlalu berkompromi dengan kepentingan asing, sebuah ironi jika mengingat gurunya, Al Afghani, adalah musuh bebuyutan imperialisme Barat.

Meskipun memiliki kekurangan dalam eksekusi sosiologisnya, warisan intelektual Muhammad Abduh sebagai murid Jamaluddin Al Afghani tetap menjadi tonggak sejarah yang tidak bisa diabaikan. Keberaniannya membongkar dogma taklid dan menyuarakan ijtihad kontemporer adalah alasan utama mengapa dunia Islam hari ini bisa terus beradaptasi dengan laju modernitas tanpa kehilangan identitas agamanya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow