Rahasia Berhuma Suku Anak Dalam Jambi untuk Ketahanan Pangan Mandiri
Menghadapi tantangan krisis pangan modern membuat kita harus menengok kembali kearifan lokal masyarakat adat. Metode berhuma yang dijalankan oleh Orang Rimba terbukti mampu menjadi solusi pemenuhan kebutuhan pangan mandiri tanpa merusak ekosistem hutan sekitarnya. Bagi masyarakat modern, istilah ini mungkin terdengar asing atau sekadar bagian dari masa lalu.
Banyak yang bertanya tentang "apa arti dari kata berhuma" di tengah maraknya pertanian monokultur intensif saat ini. Secara mendasar, memahami arti kata berhuma merujuk pada aktivitas membuka lahan hutan untuk bercocok tanam, khususnya padi dan tanaman pangan, tanpa menggunakan sistem irigasi sawah tergenang. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi VI yang diterbitkan pada tahun 2016 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, huma merupakan ladang padi di tanah kering.
Dari pengalaman saya mengamati sistem pertanian adat, kebiasaan menetap dan menanam ini bergulir menjadi sebuah transformasi sosial yang luar biasa. Aktivitas bercocok tanam ini tumbuh menjadi kebiasaan baru yang dianggap lebih menghasilkan dibandingkan sekadar berburu dan meramu di dalam hutan belantara.
Membahas praktik ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang rimba di taman nasional bukit dua belas yang terletak di Provinsi Jambi. Kawasan yang dikenal sebagai TNBD ini menjadi saksi bagaimana masyarakat adat beradaptasi dengan perubahan zaman melalui pemanfaatan ruang kelola yang bijaksana. Kepala Balai TNBD, Haidir, memberikan penegasan penting mengenai dinamika ini dalam keterangannya yang dirilis pada 10 Agustus 2022. Beliau menyampaikan rasa optimisme terhadap kemandirian pangan yang mulai terbangun kokoh di kalangan masyarakat adat setempat.
"Ya, Orang Rimba di kawasan TNBD sudah memanfaatkan lahannya di kawasan 'tano behuma' yang berada di zona tradisional itu, mereka bercocok tanam dan sudah terbiasa memanfaatkan hasil tanaman untuk menjadi sumber pangan mereka. Aktifitas ini tumbuh menjadi kebiasaan baru yang dianggap lebih menghasilkan dibandingkan berburu dan meramu."
Langkah penataan ini berjalan selaras dengan pembagian zonasi taman nasional. Melalui pemanfaatan zona tradisional, masyarakat adat memiliki kepastian ruang hukum tanpa mengorbankan zona inti konservasi hutan.
Dinamika Wilayah Timur Kawasan TNBD
Implementasi pertanian kering ini menunjukkan variasi komoditas yang menarik antarwilayah. Di wilayah timur kawasan TNBD, pergerakan pertanian digerakkan oleh tiga kelompok adat yang terorganisasi dengan sangat rapi.
Tiga kelompok ini berada di bawah kepemimpinan tiga tumenggung yang dihormati, yaitu Tumenggung Ngelembo, Tumenggung Ngamal, dan Tumenggung Nyenong. Fokus utama mereka di wilayah ini adalah memperkuat ketahanan pangan harian melalui diversifikasi vegetasi.
Masyarakat di bawah tiga tumenggung tersebut aktif menanam sayur-sayuran segar dan tanaman palawija. Pilihan ini diambil untuk mempercepat masa panen sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi harian keluarga secara mandiri.
Pergerakan Pemuda di Wilayah Barat TNBD
Kondisi yang sedikit berbeda dapat kita jumpai di wilayah barat TNBD. Di kawasan ini, antusiasme digerakkan oleh generasi muda adat yang memiliki visi pelestarian jangka panjang.
Para pemuda Orang Rimba yang tergabung di Kelompok Makekal Bersatu memfokuskan tenaga mereka untuk menanam komoditas pokok. Mereka mulai menguji coba penanaman padi ladang kering serta berbagai jenis umbi-umbian.
Aktivitas produktif pemuda Makekal Bersatu ini tidak berjalan sendirian di tengah keterbatasan akses informasi. Langkah nyata mereka didampingi secara intensif oleh lembaga swadaya masyarakat terpercaya, yaitu Sokola Institute dan Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi.
Cara Bercocok Tanam Suku Anak Dalam secara Tradisional
Memahami cara bercocok tanam suku anak dalam memerlukan pemahaman mendalam tentang siklus alam dan penghormatan terhadap tanah. Proses ini sangat terukur dan tidak dilakukan secara sembarangan demi menjaga kelestarian jangka panjang.
Kesalahan umum yang saya lihat dari pengamat luar adalah menganggap metode ini sebagai perusakan hutan. Padahal, masyarakat adat menerapkan jeda atau rotasi lahan secara alami agar unsur hara tanah kembali pulih seutuhnya.
Berikut adalah urutan langkah logis pengolahan lahan tradisional yang dipraktikkan oleh suku anak dalam jambi dalam mengelola tano behuma mereka:
- Pemilihan Lahan Tradisional: Menentukan lokasi di dalam zona tradisional yang memiliki indikator kesuburan tanah yang baik, biasanya ditandai dengan pertumbuhan vegetasi liar yang lebat.
- Pembersihan Semak (Menyesap): Memotong semak belukar dan tumbuhan bawah tanpa menebang pohon-pohon besar pelindung air guna menjaga kelembapan mikro tanah.
- Penyiapan Lubang Tanam (Ngaseuk): Membuat lubang-lubang kecil menggunakan tongkat kayu yang diruncingkan sebagai tempat menaruh benih secara manual.
- Penanaman Benih Bersama: Memasukkan benih tanaman pangan pilihan ke dalam lubang secara gotong royong untuk mempererat kebersamaan antarwarga kampung.
- Perawatan Komunitas: Melakukan pembersihan gulma secara berkala tanpa menyemprotkan bahan kimia beracun yang dapat merusak kualitas tanah jangka panjang.
Pola kerja komunal ini meminimalkan biaya modal operasional yang biasanya menjerat petani modern. Kerja sama erat antar-keluarga memastikan semua tahapan berjalan cepat sebelum musim hujan tiba.
Mengenal Karakteristik Padi Huma dan Komoditas Pangan Adat
Bagi Anda yang belum familiar dengan dunia agronomi, pertanyaan mengenai "apa itu padi huma" pasti sering terlintas. Jenis tanaman ini merupakan varietas padi khusus yang biasa ditanam di lahan kebun atau ladang kering tanpa membutuhkan penggenangan air seperti sawah konvensional.
Kelebihan utama komoditas ini terletak pada daya tahannya yang tinggi terhadap keterbatasan pasokan air di musim kemarau. Karakter akar yang masuk jauh ke dalam tanah membuatnya mampu menyerap nutrisi optimal dari tanah kering.
Haidir menjelaskan bahwa pemilihan komoditas ini sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Pihak balai bersama LSM dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) memfasilitasi ketersediaan benih berkualitas untuk mendukung keberhasilan panen.
"Mereka memilih tanaman atau komoditas pangan sesuai dengan kebutuhan, kita dan juga beberapa LSM atau pendampingan CSR dari perusahaan memfasilitasi benih dan bibit tanamannya. Meski demikian aktivitas berburu yang menjadi tradisi mereka tetap mereka jalani."
Melalui data lapangan yang dihimpun dari aktivitas pendampingan di kawasan TNBD, berikut adalah rincian pembagian komoditas pangan berdasarkan klaster wilayah kelola adat:
| Klaster Wilayah | Kelompok Pimpinan / Pemuda | Komoditas Utama | Lembaga Pendamping |
|---|---|---|---|
| Wilayah Timur TNBD | Tumenggung Ngelembo | Sayur-sayuran, Palawija | Pemerintah Daerah, CSR |
| Wilayah Timur TNBD | Tumenggung Ngamal | Sayur-sayuran, Palawija | Pemerintah Daerah, CSR |
| Wilayah Timur TNBD | Tumenggung Nyenong | Sayur-sayuran, Palawija | Pemerintah Daerah, CSR |
| Wilayah Barat TNBD | Kelompok Makekal Bersatu | Padi Huma, Umbi-umbian | Sokola Institute, Yayasan CAPPA |
Data di atas memperlihatkan keseimbangan strategi pangan yang diterapkan oleh masyarakat adat. Integrasi antara tanaman semusim dan tanaman pangan pokok memastikan pasokan nutrisi karbohidrat dan vitamin selalu tersedia sepanjang tahun.
Kearifan Lokal dalam Peribahasa dan Nilai Sosial Budaya
Nilai filosofis dari aktivitas pertanian kering ini terekam kuat dalam khazanah sastra tradisional Nusantara. Kita mengenal sebuah peribahasa dikatakan berhuma lebar sesapan di halaman yang mengandung sindiran mendalam tentang etos kerja seseorang. Secara harfiah, makna dari peribahasa ini menggambarkan seseorang yang menyombongkan pekerjaan besar yang dilakukannya di luar, padahal bukti nyata di lingkungan terdekatnya sama sekali tidak ada. Hubungan antara sesapan (pembersihan lahan) yang lebar dengan halaman rumah menunjukkan kontradiksi antara ucapan dan kenyataan hidup sehari-hari.
Dalam konteks sosial Orang Rimba, bertani bukan sekadar urusan perut melainkan manifestasi dari tanggung jawab terhadap keluarga dan komunitas. Keberhasilan mengelola ladang kering di tengah hutan menjadi tolok ukur kedewasaan dan kemandirian seorang pria di dalam kelompok adat mereka. Kolaborasi multipihak terus digulirkan untuk memperkuat ekosistem pertanian tradisional ini agar tetap berkelanjutan.
Pihak Balai TNBD bersama pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta terus bergerak mengoptimalkan seluruh potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat adat. Dukungan nyata dari dunia usaha diwujudkan melalui realisasi program tanggung jawab sosial perusahaan yang menyasar berbagai sektor krusial. Investasi sosial ini disalurkan secara terarah pada sektor pendidikan, bantuan sosial, pembangunan sarana-prasarana dasar, hingga program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Keberhasilan Orang Rimba dalam mengadopsi pertanian menetap di zona tradisional ini membuktikan bahwa adaptasi kebiasaan baru dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi leluhur. Aktivitas berburu dan meramu yang menjadi akar budaya mereka tetap dipertahankan sebagai penyeimbang ekosistem dan bagian tidak terpisahkan dari jati diri komunal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow