50 Guru SMK Indonesia Lolos Program Magang ke Jerman 2026
Sebanyak 50 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari 16 provinsi di Indonesia dinyatakan lolos seleksi Program Magang ke Luar Negeri 2026 ke Jerman. Para pengajar tersebut dijadwalkan berangkat pada musim gugur mendatang untuk menjalani pelatihan selama tiga bulan, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menargetkan dua lokasi utama, yaitu Technische Universität (TU) Dresden dan FESTO. LPDP bertindak sebagai penyokong dana yang menanggung biaya hidup para peserta selama program berlangsung.
Astri Damayanti, guru Teknik Kendaraan Ringan dari SMKN 1 Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menjadi salah satu peserta yang terpilih. Ia melewati proses seleksi ketat yang meliputi tahap administrasi hingga wawancara berbasis bahasa Inggris penuh.
"Pembuatan esai itu mencakup harapan kami, apa motivasi kami dan bagaimana rencana tindak lanjut kami setelah program magang ini berlangsung. Setelah esai dibuat, kami harus diwawancarai, menggunakan full bahasa Inggris," jelas Astri.
Informasi pendaftaran awal diperoleh Astri melalui media sosial Instagram sebelum ia mengirimkan esai dalam bahasa Inggris. Dari total pendaftar, sebanyak 182 peserta berhasil menembus tahap seleksi administrasi untuk melaju ke sesi wawancara.
"(Pada saat wawancara) kami harus menyampaikan kembali apa tujuan kami dan bagaimana kami mendesiminasikan apa yang telah kami tulis di esai, pada saat rancangan tindak lanjut dan juga pada saat setelah kembalinya kami dari Jerman," ujarnya.
Selain mempelajari skema pengajaran vokasi di TU Dresden, Astri berencana mendalami perkembangan teknologi manufaktur di negara tersebut. Ia membidik pendalaman sistem kerja industri otomotif skala besar.
"Jadi, jelas sekali, saya ingin melihat bagaimana pabrikan Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz seperti itu," kata Astri ketika ditanya mengenai teknologi yang ingin dipelajarinya selama berada di Jerman.
Guru yang telah mengabdi selama 7 tahun ini menambahkan bahwa program tersebut memberikan materi pengelolaan pendidikan berbasis sistem ganda (dual-industry) untuk menyelaraskan kurikulum sekolah dengan kebutuhan pasar kerja.
"Kami juga mendapatkan (pelajaran) bagaimana cara membangun vokasi atau pendidikan dual-industry. Jadi, bagaimana cara kita bekerjasama dengan industri sehingga serapan-serapan dari siswa-siswa SMK itu bisa langsung diterima di perusahaan," jelas Astri kepada detik di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).
Proses penyaringan peserta secara keseluruhan berlangsung selama dua bulan. Pemilihan Jerman sebagai negara tujuan didasarkan pada keunggulan sistem pendidikan vokasi dan skala industrinya.
"Secara internasional memang Jerman, Swiss, Belanda ini kan memiliki model vocational school. Berbeda dengan Amerika, Inggris atau Australia. Jerman lebih besar dan industrinya sangat banyak," ungkap Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow