Pakar UM Surabaya Ungkap Penyebab Pengangguran Lulusan Perguruan Tinggi Capai 1 Juta
Jumlah pengangguran sarjana, D4, S2 hingga S3 di Indonesia menurut data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) terbaru telah mencapai 1 juta lebih. Jika dilihat lebih dalam, hal ini tidak berkaitan dengan kompetensi atau kesiapan kerja.
Demikian pendapat pakar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan. Menurutnya, ada beragam alasan mengapa jumlah pengangguran sarjana mencapai angka yang tinggi.
Salah satunya adalah deindustrialisasi. Radius melihat pertumbuhan sektor ekonomi yang semakin padat modal berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa menciptakan lapangan pekerjaan yang sebanding.
"Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural. Sarjana semakin banyak, tetapi ruang untuk mengubah modal pendidikan menjadi pendapatan justru terbatas," tuturnya dalam laman Umsura, dikutip Rabu (26/8/2026).
Oleh karena itu, Radius mengimbau agar pengangguran sarjana tidak dibebankan kepada individu maupun perguruan tinggi. Fenomena ini juga perlu dilihat sebagai persoalan struktur sosial dan ekonomi.
"Jangan melihat sarjana menganggur semata sebagai kegagalan individu. Ini juga persoalan struktur sosial. Kita perlu melihat siapa yang memiliki kapital untuk mendapatkan pekerjaan dan siapa yang tidak, serta bagaimana struktur ekonomi menciptakan atau justru membatasi kesempatan tersebut," lanjutnya.
Ijazah Tak Cukup untuk Masuk ke Dunia Kerja
Ijazah juga seringkali dilihat sebagai tiket untuk naik kelas sosial. Dalam perspektif sosiolog Pierre Bourdieu, ijazah merupakan bentuk modal budaya yang dimiliki seseorang.
"Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi. Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang juga membutuhkan modal sosial berupa jaringan, pengalaman, relasi, bahkan dukungan ekonomi," kata Radius.
Alhasil, kondisi ini membuat dua orang yang sama-sama memiliki gelar sarjana belum tentu memiliki peluang kerja yang setara. Selain ijazah, seseorang bisa memiliki kapital yang lebih banyak dalam bentuk jaringan, pengalaman, dan dukungan ekonomi keluarga.
"Jadi persoalannya bukan sekadar siapa yang kompeten, tetapi siapa yang memiliki kapital untuk masuk dan bertahan di pasar kerja," ujarnya.
Ketimpangan Kapital
Radius melanjutkan jika ketimpangan kapital membuat setiap lulusan memiliki perjalanan karier yang berbeda. Seseorang yang memiliki dukungan lebih dengan yang hanya modal ijazah tidak memulai dari garis yang sama.
"Karena itu, ketika kita berbicara tentang pengangguran sarjana, kita juga harus melihat bagaimana ketimpangan privilege menentukan siapa yang lebih mudah mengubah modal pendidikan menjadi pekerjaan dan siapa yang tetap berada dalam antrean pengangguran," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow