Persaingan Ketat Pasar Kerja Membuat Lulusan Baru Sulit Mendapatkan Pekerjaan
Persaingan di pasar kerja semakin ketat, terutama bagi lulusan baru yang kesulitan memperoleh pekerjaan tetap. Laporan menunjukkan bahwa lulusan D4 dan S1 menyumbang pengangguran mencapai 14,31% atau sekitar 1,033 juta orang, menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, dikutip dari Detikcom.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Survei Cengage Group pada pertengahan 2026 mencatat bahwa hanya 30 persen lulusan sarjana di Amerika Serikat memperoleh pekerjaan tetap pada musim semi 2025. Tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi usia 20-24 tahun di AS juga mencapai rata-rata 6,6% dalam setahun hingga Mei 2025, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.
Perubahan signifikan di pasar kerja global dipengaruhi oleh kemajuan kecerdasan buatan (AI), yang mengambil alih banyak pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan lulusan baru. Di sisi lain, perusahaan menetapkan kriteria baru dalam perekrutan, termasuk pengalaman kerja minimal 3-5 tahun yang sulit dipenuhi oleh lulusan baru.
Ekonom senior AS, Nich Tremper, menyatakan bahwa dinamika ini merupakan efek dari tren pasar kerja pascapandemi tahun 2021 dan 2022, ketika perusahaan berusaha menarik talenta dengan gaji tinggi. Banyak pekerja lama pun memilih bertahan pada posisi saat ini dengan gaji tinggi tanpa pindah, sehingga mengurangi jumlah lowongan baru.
"Tanpa adanya lowongan pekerjaan baru, sulit bagi karyawan tingkat pemula untuk mendapatkan kesempatan dan memulai karier mereka," ujar Tremper.
Kondisi ini juga berdampak pada lulusan SMA dan SMK yang menjadi kelompok terbesar pengangguran di Indonesia. Data BPS per Mei 2026 mencatat pengangguran lulusan SMA mencapai 28% dari total penganggur, yaitu sekitar 2,02 juta orang, sedangkan lulusan SMK sebanyak 1,61 juta orang.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Agus Sartono, menyatakan bahwa dengan jumlah pencari kerja mencapai 10,67 juta orang setiap tahun dari berbagai jenjang pendidikan, persaingan di pasar kerja semakin ketat. Hal ini memaksa lulusan sarjana untuk menerima pekerjaan bergaji rendah agar tidak menganggur.
"Dengan menurunnya level akibat kurangnya kesempatan kerja, gaji yang diterima hanya cukup untuk bertahan dan tidak sempat menabung," kata Agus Sartono.
Meski menghadapi berbagai tantangan, para lulusan baru dan pekerja muda tetap optimis mencari pekerjaan sesuai bidang mereka. Banyak dari mereka memilih jalur karier non-tradisional seperti teknisi, pengusaha, atau kerja di bidang konstruksi. Mereka menghargai pendidikan tinggi sebagai sarana belajar keterampilan hidup dan manajemen waktu.
Chris Henderson, lulusan manajemen bisnis di AS yang kini bekerja sebagai teknisi listrik, menyatakan, "Perguruan tinggi merupakan jalur yang bagus untuk mengetahui gairah sejati Anda dan mengajarkan hal-hal yang tidak bisa didapatkan di tempat lain, seperti manajemen waktu."
Banyak pekerja muda juga berupaya mengembangkan keterampilan penunjang karier jangka panjang agar dapat bersaing dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow