UGM Soroti 1,033 Juta Pengangguran Sarjana Akibat Ketidaksesuaian Keterampilan
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026 mencatat jumlah pengangguran lulusan D4, S1, hingga S3 mencapai 1,033 juta orang akibat ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi, MA, menilai perguruan tinggi masih berfokus pada teori, sementara dunia kerja membutuhkan keterampilan praktis. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) turut menggeser pekerjaan tingkat pemula.
"Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan," jelas Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi, MA, Guru Besar Fisipol UGM.
Tadjuddin menambahkan bahwa perubahan teknologi membuat perusahaan kini lebih memprioritaskan kemampuan nyata daripada sekadar gelar formal di atas kertas ijazah.
"Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan. Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit," paparnya.
Faktor lain yang menekan penyerapan tenaga kerja adalah efisiensi di sektor industri padat karya yang terbebani tingginya biaya bahan baku impor serta penurunan daya beli masyarakat.
"Kondisi ini mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja," terangnya.
Meskipun pemerintah telah meluncurkan program magang untuk mengasah keterampilan mahasiswa, daya tampungnya dinilai masih terbatas sehingga memerlukan perluasan pusat pelatihan kerja modern.
"Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan, khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja," tuturnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Agus Sartono, menekankan pentingnya revitalisasi pendidikan vokasi dan pembangunan politeknik di kawasan industri serta kawasan ekonomi khusus.
"Pemerintah kala itu juga membuat rencana pembangunan politeknik di berbagai kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Tujuannya, selain mencetak tenaga kerja level menengah yang siap kerja, juga membekali calon entrepreneur muda," ujarnya.
Penguatan pusat pelatihan vokasi yang relevan dengan industri diyakini dapat menciptakan wirausaha baru sekaligus mengatasi masalah pengangguran terdidik secara signifikan.
"Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik," pungkas Prof Dr Tadjuddin Noer Effendi, MA, Guru Besar Fisipol UGM.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow