Asal Usul Tari Sulintang dan Panduan Praktis Mempelajari Gerakannya untuk Pemula
Pertanyaan mengenai "tari sulintang berasal dari daerah mana" sering kali muncul di kalangan pencinta budaya yang ingin mendalami kekayaan seni tari klasik tanah Sunda. Seni pertunjukan ini menjanjikan kombinasi keindahan visual dan nilai historis mendalam yang berakar kuat pada tradisi masyarakat Jawa Barat. Artikel ini membedah tuntas asal usul, sosok maestro di baliknya, hingga panduan taktis bagi Anda yang ingin mempelajari setiap gerakan ritmisnya.
Tari Sulintang merupakan salah satu khazanah seni tari klasik Sunda yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Seni tari ini tidak lahir begitu saja dari tradisi komunal kuno, melainkan buah kreativitas terstruktur dari seorang maestro besar. Fakta sejarah mencatat pencipta tari sulintang jawa barat adalah Raden Tjeje Somantri (juga sering ditulis Raden Tjetje Soemantri).
Berdasarkan catatan sejarah yang direvisi oleh Fariany Maheswari pada 6 Maret 2021 di laman budaya-indonesia.org, tarian elok ini diciptakan pada tahun 1948. Kehadiran karya ini menandai era penting dalam perkembangan tari putri klasik di tatar Sunda selepas masa kemerdekaan Indonesia.
Profil Singkat Sang Maestro Raden Tjetje Soemantri
Untuk memahami jiwa dari tarian ini, kita harus melihat sekilas profil sang pencipta yang mendedikasikan hidupnya untuk seni gerak. Raden Tjetje Soemantri lahir pada tahun 1892 dan wafat pada tahun 1963. Sepanjang hayatnya, beliau melahirkan banyak karya monumental yang hingga saat ini menjadi pilar utama tari klasik Sunda.
Selain Sulintang, beliau juga sangat dikenal melalui karya magis lainnya yang beririsan dalam lini masa kreatif sang koreografer. Salah satu yang paling fenomenal adalah Tari Merak yang kerap dipelajari bersamaan dengan Sulintang oleh para siswa seni.
Asal Usul Nama Tari Sulintang yang Unik
Menelusuri asal usul nama tari sulintang membawa kita pada pemaknaan simbolis atas properti dan formasi yang digunakan. Nama Sulintang disinyalir kuat merupakan perpaduan dari elemen visual pertunjukan, di mana formasi para penari menyerupai jajaran bintang di langit. Pola lantai yang dinamis melambangkan kilauan cahaya yang saling silang, memberikan kesan estetis yang kuat bagi penonton.
Kaitan Kreatif dengan Karya Monumental Tari Merak
Dalam memahami ekosistem tari klasik Sunda, kita tidak bisa melepaskan benang merah antara Tari Sulintang dan karya Tjetje Soemantri lainnya. Periode tahun 1950-an menjadi fase keemasan berikutnya bagi sang maestro dengan terciptanya Tari Merak. Informasi dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung yang dikutip dalam Buku Ragam Cipta menyebutkan bahwa tarian bertema satwa ini lahir pada dekade tersebut.
Sejarah tari merak dan asal usulnya menunjukkan bagaimana gaya koreografi Tjetje berkembang pesat dan mendapat pengakuan internasional. Karya-karya ini menjadi representasi diplomasi budaya Indonesia yang sangat diperhitungkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Pertunjukan Tari Merak karya Tjetje tercatat dipentaskan dalam momen-momen krusial kenegaraan sebelum sang koreografer wafat pada tahun 1963. Berikut adalah beberapa catatan pementasan historis tersebut:
- Tahun 1955: Ditampilkan sebanyak dua kali untuk menghibur delegasi Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung, tepatnya di halaman belakang Gedung Pakuan dan di Hotel Orient.
- Tahun 1957: Dipertunjukkan di Gedung Pakuan dalam rangka menyambut kehadiran Voroshilof, Presiden USSR (Rusia).
- Tahun 1958: Dipentaskan di Hotel Savoy Homann serta dalam pertunjukan tari di Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK).
Secara total, Tari Merak karya Tjetje ini hanya dipertunjukkan sebanyak 5 kali sejak diciptakan hingga sebelum beliau wafat. Atas nilai historis dan keindahannya, pada tahun 2020 kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi menetapkan Tari Merak sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Provinsi Jawa Barat.
Langkah demi Langkah Mempelajari Gerakan Dasar Tari Sulintang
Berdasarkan pengalaman saya mendampingi para pemula di studio tari, mempelajari tari klasik Sunda membutuhkan ketekunan pada detail posisi tubuh. Kesalahan umum yang sering saya temui adalah penari yang terlalu kaku pada bagian pundak, padahal kunci utama keindahan tari Sunda terletak pada keluwesan yang dipadukan dengan ketegasan sikap tubuh. Berikut adalah urutan langkah taktis untuk mulai menguasai Tari Sulintang:
- Kuasai Sikap Duduk dan Sembah (Addeg-addeg): Mulailah dengan posisi duduk bersila yang mapan untuk penari putri. Lakukan gerakan sembah pembuka dengan menempelkan kedua telapak tangan di depan dada, siku sejajar, dan pandangan mata lurus ke depan dengan dagu sedikit ditarik.
- Latih Gerakan Kepala (Gilek dan Galier): Gerakan kepala harus mengikuti ritme musik waditra (gamelan). Lakukan gerakan gilek (menggeserkan kepala ke kiri dan kanan secara halus) dan galier (memutar kepala membentuk angka delapan) dengan poros leher yang rileks namun bertenaga.
- Olah Gerak Tangan dan Selendang (Ukel dan Nyawang): Tangan merupakan penunjuk ekspresi utama dalam Tari Sulintang. Latih gerakan ukel (memutar pergelangan tangan) secara presisi, lalu kombinasikan dengan gerakan memegang ujung selendang untuk dilemparkan atau disampirkan ke lengan secara anggun.
- Pahami Pola Lantai dan Langkah Kaki (Sereg): Langkah kaki dalam tarian ini melibatkan perpindahan tempat yang lincah namun tetap anggun. Latihlah gerakan sereg (melangkah cepat dengan merapatkan kedua kaki) mengikuti garis imajiner pola lantai yang merepresentasikan formasi bintang di langit.
Seni tari klasik Sunda tidak sekadar mengejar ketepatan hitungan musik, melainkan penjiwaan karakter penari putri yang anggun, berwibawa, sekaligus mandiri melalui media gerak tubuh yang selaras.
Karakteristik Visual dan Struktur Pertunjukan
Meskipun informasi detail mengenai busana spesifik Sulintang tidak sekaya data ciri khas pakaian tari merak, pertunjukan Sulintang mempertahankan estetika klasik Jawa Barat yang kuat. Para penari umumnya mengenakan kebaya putri Sunda, sinjang (kain batik khas), ikat pinggang emas, dan hiasan kepala berupa mahkota ringan atau sanggul dengan ronce bunga melati yang menjuntai.
Untuk memberikan gambaran komparatif mengenai periodisasi karya-karya tari klasik Sunda yang saling memengaruhi ini, berikut disajikan data linimasa berdasarkan dokumen sejarah resmi:
| Tahun Kejadian | Nama Entitas / Karya Seni | Deskripsi Historiografi Resmi |
|---|---|---|
| 1892 | Raden Tjetje Soemantri | Tahun kelahiran sang maestro tari klasik Sunda di Jawa Barat. |
| 1948 | Tari Sulintang | Tahun penciptaan pertama kali sebagai tari putri klasik Sunda. |
| 1955 | Tari Merak | Dipentaskan dua kali untuk delegasi Konferensi Asia Afrika di Bandung. |
| 1957 | Tari Merak | Pertunjukan di Gedung Pakuan menyambut Presiden USSR Voroshilof. |
| 1958 | Tari Merak | Pementasan di Hotel Savoy Homann dan gedung kesenian YPK. |
| 1963 | Raden Tjetje Soemantri | Tahun wafatnya sang maestro setelah mendedikasikan hidup bagi seni. |
| 2020 | Tari Merak Jawa Barat | Penetapan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbud. |
| 2022 | Forum Publikasi Roboguru | Pencatatan edukasi digital materi Tari Sulintang secara daring. |
Mempelajari Tari Sulintang bukan sekadar menghafal ragam gerak di atas panggung, melainkan sebuah upaya aktif merawat warisan pemikiran Raden Tjeje Somantri dari tahun 1948. Setiap ketukan gamelan dan kibasan selendang dalam tarian ini membawa narasi luhur tentang keanggunan, disiplin, dan identitas kultural masyarakat Jawa Barat yang tetap relevan melintasi zaman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow