Sering Salah Tulis, Ini Aturan Kata Sandang Si dan Sang Menurut EYD Terbaru

Smallest Font
Largest Font

Menulis kata sandang seperti si dan sang sekilas tampak sangat sepele di mata banyak orang. Namun, kesalahan kecil dalam menentukan huruf kapital atau spasi bisa membuat seluruh kalimat Anda terlihat tidak profesional dan keliru secara kaidah bahasa.

Banyak penulis masih bingung mengenai penulisan sang pencipta huruf besar atau kecil serta bagaimana membedakan perlakuan huruf kapital untuk kedua kata ini. Masalah akurasi ini sering saya temukan ketika memeriksa draf artikel, dokumen resmi, hingga konten digital yang beredar luas di masyarakat.

Untuk mengakhiri kebingungan tersebut, artikel ini akan membedah secara mendalam langkah demi langkah cara menerapkan aturan kata sandang menurut eyd secara presisi di berbagai konteks tulisan Anda.

Sebelum masuk ke teknis penulisan, kita perlu memahami apa sebenarnya fungsi dari kata sandang ini dalam struktur kalimat kita. Berdasarkan Buku Kamus Linguistik Edisi Keempat (2008) oleh Kridalaksana, kata sandang diartikan sebagai 'artikel', yaitu kata yang tidak memiliki arti dan berfungsi membatasi atau memodifikasi nomina.

Sementara itu, Buku Tata Bahasa Indonesia oleh Keraf (2018) menyebutkan bentuk kata sandang dalam bahasa Indonesia meliputi: yang, itu, nya, si, sang, hang, dan dang. Jadi, si dan sang hanyalah sebagian dari variasi artikel yang kita miliki.

Lebih lanjut, dalam Buku Widjono (2012) disebutkan bahwa kata sandang berfungsi mendampingi nomina. Penulis tersebut juga menambahkan contoh lain kata sandang atau artikula seperti sri, para, kaum, dan umat. Namun, kata sri, hang, dan dang memang lebih sering digunakan dalam kesusastraan lama dan sudah jarang digunakan saat ini.

Kamus Besar Bahasa Indonesia / KBBI (2023) juga telah memuat serangkaian makna kata sandang 'si' dan 'sang' untuk memperjelas penggunaannya di masyarakat.

Mari kita lihat perbandingan komparatif beberapa kata sandang yang ada di Indonesia melalui data terstruktur di bawah ini untuk melihat peta fungsinya secara jelas.

Karakteristik dan Fungsi Kata Sandang dalam Bahasa Indonesia
Jenis Kata SandangFungsi UtamaKonteks Penggunaan
siMendampingi nama atau julukanInformal / Akrab
sangMenghormati atau meninggikanFormal / Sastra / Keagamaan
sriGelar kehormatan raja/ratuKesusastraan Lama
paraMenyatakan kelompok jamakUmum / Kolektif

Langkah Tepat Menulis Kata Sandang Si dan Sang Sesuai EYD

Dalam praktik menulis sehari-hari, Anda harus mengikuti urutan logika yang jelas agar tidak melakukan kesalahan fatal. Berdasarkan pengalaman saya menangani penyuntingan teks, kesalahan umum yang saya lihat adalah menyatukan kata sandang dengan kata yang mengikutinya atau salah dalam menempatkan huruf kapital.

Berikut adalah langkah-langkah berurutan yang dapat Anda eksekusi langsung untuk memastikan penulisan si dan sang yang benar.

  1. Pisahkan Kata Sandang dari Kata Berikutnya
    Langkah pertama dan paling mendasar adalah selalu menuliskan kata sandang si atau sang secara terpisah dengan kata yang mendampinginya. Jangan pernah menggabungkannya menggunakan tanda hubung atau tanpa spasi sama sekali.
  2. Tentukan Konteks Subjek (Manusia, Hewan, atau Benda)
    Perhatikan apakah kata setelah kata sandang merupakan nama diri, sebutan sifat, atau nama binatang. Jika kata sandang diikuti oleh nama orang atau kata julukan biasa, gunakan huruf kecil untuk kata sandang tersebut.
  3. Identifikasi Unsur Ketuhanan atau Keagamaan
    Ini adalah langkah krusial untuk menjawab pertanyaan warga mengenai "bagaimana cara menulis sang pencipta sesuai eyd". Jika kata sang diikuti oleh unsur yang merujuk kepada Tuhan, maka huruf pertama kata sang wajib ditulis dengan huruf kapital.
  4. Periksa Posisi Kata di Dalam Kalimat
    Jika kata sandang si atau sang berada di awal kalimat, maka secara otomatis huruf pertama harus kapital sesuai kaidah umum awal kalimat, tanpa memedulikan konteks subjeknya.
Penulisan Kata Sandang Si dan Sang | Muri Khamala

Panduan Menggunakan Kata Sandang 'Si'

Kata sandang si umumnya digunakan untuk membentuk nama julukan, menyertai nama orang dalam konteks akrab atau kurang hormat, atau memberi personifikasi pada binatang. Penulisan kata sandang ini menggunakan huruf kecil, kecuali berada di awal kalimat.

Dari pengalaman saya, kesalahan yang sering muncul adalah mengapit kata si dengan tanda kutip, padahal itu tidak perlu jika sudah ditulis terpisah. Perhatikan contoh kalimat kata sandang si dan sang berikut untuk memahami penerapan praktisnya:

  • Kemarin si Kancil berhasil mengelabui buaya di sungai.
  • Jangan sampai si kecil bermain di dekat tangga tanpa pengawasan.
  • Surat itu akhirnya dikirimkan kepada si pengirim asli.

Panduan Menggunakan Kata Sandang 'Sang'

Kata sandang sang memiliki derajat kehormatan yang lebih tinggi daripada si. Biasanya digunakan untuk panggilan yang dihormati, tokoh dongeng, atau benda-benda langit yang dipersonifikasikan dalam karya sastra.

Sama seperti si, kata sang ditulis dengan huruf kecil untuk konteks makhluk hidup biasa atau benda umum. Mari kita cermati contoh kalimat di bawah ini:

  • Rakyat menyambut kedatangan sang raja dengan sorak-sorai.
  • Burung elang itu mengepakkan sayapnya seolah menjadi sang penguasa langit.
  • Kita harus menghormati keputusan yang diambil oleh sang ketua.

Menjawab Keraguan Penulisan Terkait Ketuhanan

Pertanyaan tentang penulisan sang pencipta huruf besar atau kecil menjadi salah satu topik kebahasaan yang paling sering dicari. Berdasarkan aturan kata sandang menurut eyd, jika kata sang diikuti oleh kata yang merupakan unsur nama Tuhan atau sifat-sifat Tuhan, maka kata sang dan kata berikutnya wajib dimulai dengan huruf kapital dan ditulis terpisah.

Jadi, jawaban tegasnya adalah menggunakan huruf besar untuk kedua kata tersebut. Aturan ini berlaku mutlak demi menjaga rasa hormat dan kesakralan dalam konteks keagamaan.

Contoh penulisan yang benar:

  • Mari kita berserah diri kepada Sang Pencipta.
  • Semua rezeki ini datangnya dari Sang Pemurah.
  • Manusia hanyalah makhluk kecil di hadapan Sang Maha Kuasa.

Perkembangan Regulasi Ejaan di Indonesia

Penerapan aturan tata bahasa ini tentu tidak lepas dari sejarah perkembangan regulasi ejaan di negara kita. Pemahaman sejarah ini penting agar kita tidak menggunakan landasan hukum yang sudah kedaluwarsa dalam menilai kebenaran sebuah teks.

Pada Tahun 2009, pemerintah menerbitkan Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (PUEYD) edisi ketiga. Aturan ini kemudian berkembang hingga pada Tahun 2016, di mana Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) resmi menggantikan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) lama berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat itu, Anies Baswedan. Ketetapan penggunaan PUEBI kala itu diatur secara hukum melalui Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015.

Namun, dinamika bahasa terus berjalan dengan cepat mengikuti kebutuhan zaman yang semakin modern. Pada 16 Agustus 2022, terjadi tonggak sejarah baru dengan peluncuran resmi pedoman EYD Edisi V oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 0424/I/BS.00.01/2022. Peluncuran ini bertepatan dengan 50 tahun penetapan EYD pertama kali di tanah air.

Terdapat fakta menarik bahwa ada lebih dari 50 persen jumlah perubahan yang ada pada EYD Edisi V, baik berupa penambahan kaidah kebahasaan baru maupun perubahan pada kaidah yang telah ada sebelumnya. Langkah pembaruan ini mendapat tanggapan langsung dari otoritas kebahasaan tertinggi di Indonesia.

Kepala Badan Bahasa, E Aminudin Aziz, memberikan pernyataan resmi mengenai latar belakang pembaruan masif tersebut:

“Ini merupakan wujud komitmen Badan Bahasa dalam memberikan layanan kebahasaan dan kesastraan yang makin berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.”

Oleh karena itu, dalam konteks saat ini, seluruh dokumen formal, naskah akademik, hingga artikel digital wajib merujuk pada ketentuan yang tercantum dalam EYD Edisi V demi menjaga standardisasi yang berlaku nasional.

Menghindari Kesalahan Umum dalam Menulis Artikel

Dalam kasus yang sering saya temui di dunia industri kreatif dan penulisan media, pemahaman mengenai apa bedanya si dan sang menurut kbbi sering kali tumpang tindih dengan selera personal penulis. Banyak yang mengira penulisan ini bersifat opsional atau boleh dimodifikasi demi estetika visual tulisan.

Padahal, ketidakkonsistenan dalam menerapkan kaidah ini dapat menurunkan kredibilitas artikel Anda di mata pembaca yang jeli, bahkan memengaruhi penilaian algoritma mesin pencari terhadap kualitas konten Anda.

Sebagai langkah pencegahan, pastikan Anda selalu melakukan proses penyuntingan mandiri (self-editing) setelah selesai menulis. Periksa kembali setiap kata si dan sang yang Anda gunakan, lalu cocokkan dengan rumusan petunjuk teknis yang telah kita bahas di atas. Dengan membiasakan ketelitian ini, keterampilan menulis Anda akan meningkat ke level yang lebih profesional secara natural.

Penerapan ejaan yang taat asas adalah cerminan dari profesionalisme seorang penulis dalam menghargai bahasa nasional. Menguasai cara menulis si dan sang secara presisi bukan sekadar pemenuhan teori akademik, melainkan sebuah modal berharga dalam menghasilkan karya tulis yang bersih, tepercaya, dan nyaman dibaca oleh siapa saja.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed