Awas Keliru Ini Panduan Lengkap Cara Mengisi Lembar Belakang Partograf

Smallest Font
Largest Font

Proses pemantauan persalinan tidak berhenti saat bayi baru saja lahir ke dunia. Tenaga kesehatan wajib memahami cara mengisi lembar belakang partograf secara akurat untuk mencatat seluruh asuhan persalinan dan kondisi pascapersalinan.

Dokumen ini menjadi bukti otentik akuntabilitas bidan maupun dokter dalam memberikan penanganan. Pengisian yang keliru atau menunda pencatatan berisiko fatal terhadap deteksi dini komplikasi masa nifas.

Bagi tenaga kesehatan di fasilitas primer, memahami contoh lembar partograf puskesmas secara utuh adalah kompetensi mutlak. Lembar belakang ini berfungsi merekam seluruh kejadian pada kala II, kala III, hingga kala IV persalinan.

---

Mengenal Pentingnya Lembar Belakang Partograf dalam Persalinan

Sebenarnya apa itu partograf? Alat pantau ini pertama kali dikembangkan di Zimbabwe sekitar tahun 1970 menurut data sejarah kebidanan internasional.

Instrumen ini utamanya digunakan untuk memantau fase aktif persalinan yang dimulai pada pembukaan serviks $\ge$ 4 cm atau fase kala I. Namun, bagian depannya hanya berfokus pada kemajuan persalinan dan kesejahteraan janin serta ibu selama kala I fase aktif.

Lembar belakang partograf adalah catatan sisa dari seluruh proses kelahiran, mulai dari detik-detik kelahiran bayi hingga dua jam pascapersalinan.

Melalui lembar belakang ini, penyedia layanan dapat melacak volume pendarahan, robekan jalan lahir, hingga tindakan resusitasi bayi baru lahir. Jurnalis kesehatan mencatat bahwa dokumentasi yang rapi dapat mencegah keterlambatan penanganan kegawatdaruratan.

---

Cara Mengisi Lembar Belakang Partograf Bagian Data Dasar

Bagian pertama yang harus diselesaikan pada lembar belakang adalah pencatatan data dasar persalinan. Komponen ini mencakup informasi waktu, tempat, dan identitas penolong persalinan.

Pencatatan Waktu dan Lokasi

Tuliskan tanggal persalinan secara lengkap beserta jam dimulainya persalinan hingga waktu pelaporan. Sebutkan nama klinik atau puskesmas tempat persalinan berlangsung secara jelas pada kolom yang tersedia.

Identitas Penolong dan Pendamping

Tuliskan nama lengkap penolong persalinan beserta profesinya, apakah bidan, dokter umum, atau dokter spesialis. Jangan lupa mencatat siapa pendamping ibu selama proses persalinan, seperti suami atau keluarga.

---

Tata Cara Mengisi Catatan Kala II hingga Kala IV

Pengisian catatan ini dilakukan secara retrospektif segera setelah fase persalinan tersebut selesai. Pengisian harus dilakukan berurutan mulai dari kala II hingga pemantauan kala IV selesai.

Pengisian Data Kala II

Pada bagian kala II, catat episiotomi jika dilakukan, pendamping saat melahirkan, dan kondisi janin. Jika terjadi gawat janin, tuliskan tindakan yang diambil seperti pemberian oksigen atau persiapan rujukan.

Evaluasi berkala selama kala I tetap menjadi acuan penting sebelum masuk ke fase ini. Evaluasi kontraksi uterus dan pencatatan nadi ibu dilakukan setiap 10 menit dan 30 menit selama fase aktif persalinan.

Pencatatan Manajemen Aktif Kala III

Manajemen Aktif Kala III (MAK III) wajib didokumentasikan secara rinci untuk memastikan plasenta lahir lengkap. Berikan tanda ceklis pada tindakan pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali, dan masase fundus uteri.

Tuliskan waktu lahirnya plasenta dalam hitungan menit setelah bayi lahir. Catat pula jika ada indikasi retensio plasenta atau perlunya tindakan plasenta manual.

Pendokumentasian Catatan Kala IV

Kala IV merupakan masa kritis dua jam pascapersalinan untuk memantau risiko perdarahan postpartum. Pemantauan dilakukan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.

Bagian Belakang Lembar Partograf | Nerli Adria Sinabutar

Komponen yang wajib diperiksa meliputi tekanan darah, nadi, suhu tubuh, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, kandung kemih, dan jumlah perdarahan. Pastikan kandung kemih kosong agar uterus dapat berkontraksi dengan baik.

---

Memahami Indikator Klinis pada Lembar Depan Partograf

Sebelum mengisi lembar belakang, pemahaman visual terhadap lembar depan juga sangat memengaruhi akurasi data. Terdapat kode dan simbol khusus yang saling berkaitan dalam pemantauan persalinan.

Skala Penurunan Kepala Janin

Skala penurunan kepala janin berkisar antara 0-5 berdasarkan perlimaan jari di atas simfisis. Skala ini ditulis dengan angka 5 jika teraba 5 jari, 4 jika 4 jari, 3 jika 3 jari, 2 jika 2 jari, 1 jika 1 jari, dan 0 jika tidak teraba.

Simbol Kontraksi Uterus

Kontraksi rahim digambarkan pada kotak-kotak khusus sesuai dengan durasi kekuatannya dalam waktu 10 menit. Berikut adalah simbol jumlah dan durasi kontraksi uterus dalam 10 menit:

  • Simbol ░ digunakan untuk kontraksi dengan durasi kurang dari 20 detik yang dikategorikan lemah.
  • Simbol ▒ digunakan untuk kontraksi dengan durasi antara 20 hingga 40 detik yang dikategorikan sedang.
  • Simbol ▓ digunakan untuk kontraksi dengan durasi lebih dari 40 detik yang dikategorikan kuat.

Kode Kondisi Air Ketuban

Kondisi selaput dan cairan ketuban sangat krusial untuk dipantau setiap kali melakukan pemeriksaan dalam. Tenaga medis menggunakan kode huruf khusus untuk mencatat kondisi ini.

Berikut adalah arti dari kode ketuban j m k d u artinya apa dalam standar kebidanan:

Daftar Kode Kondisi Air Ketuban pada Partograf
Kode HurufKondisi Klinis Air Ketuban
JJernih
DMengandung darah
MMengandung mekonium
KKering
USelaput ketuban utuh

Jika ditemukan mekonium atau darah, tenaga kesehatan harus lebih waspada karena bisa menjadi tanda detak jantung janin abnormal saat kontraksi. Batas DJJ normal sendiri berkisar antara 120-160 kali per menit, dan dicatat setiap 30 menit sekali atau setiap 15 menit pada kala I segera setelah puncak kontraksi.

Penyusupan Tulang Kepala Janin

Molase atau penyusupan tulang kranium janin menunjukkan derajat tumpang tindih tulang kepala akibat tekanan jalan lahir. Indikator ini ditulis dengan kode angka dan simbol berikut:

  • Kode O menunjukkan sutura mudah diraba dan tidak ada penyusupan.
  • Kode + menunjukkan tulang-tulang rawan saling bersentuhan.
  • Kode ++ menunjukkan tulang tumpang tindih tetapi masih dapat digerakkan atau dipisahkan.
  • Kode +++ menunjukkan tulang tumpang tindih berat dan tidak dapat digerakkan lagi.

---

Kondisi Darurat yang Memerlukan Rujukan Segera

Meskipun partograf adalah alat bantu utama, ada kalanya persalinan tidak boleh dipaksakan dipantau di fasilitas primer. Bidan harus tahu bagaimana cara mengetahui persalinan tidak maju atau kapan harus segera merujuk. Terdapat keadaan darurat pada ibu hamil yang mengharuskan rujukan segera tanpa harus menyelesaikan pengisian partograf secara lengkap.

Kondisi tersebut meliputi Pre-Eklampsia Berat (PEB), Eklampsia, kehamilan lewat waktu, ketuban pecah dini, kehamilan kurang dari 34 minggu, dan kelainan letak, presentasi, atau posisi janin. Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan medis mandiri di lapangan jika menemukan tanda-tanda bahaya tersebut. Pemeriksaan tanda vital berkala seperti tekanan darah setiap 4 jam, suhu tubuh setiap 2 jam, serta volume urin sedikitnya setiap 2 jam sangat membantu menentukan kestabilan kondisi pasien sebelum dirujuk.

Pengisian lembar belakang partograf secara disiplin dan cepat setelah proses persalinan selesai merupakan jaminan mutu pelayanan kebidanan. Pastikan seluruh kolom terisi, berikan anjuran cairan oral setiap jam untuk hidrasi ibu, dan simpan dokumen ini sebagai rekam medis yang sah.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed