Kebakaran Hutan Picu Lonjakan Kadar Arsenik Beracun di Aliran Sungai
Dampak peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata tidak hanya menyisakan kerusakan tanah serta asap di udara. Potensi bahaya tersembunyi berupa peningkatan kadar zat kimia beracun seperti arsenik juga mengintai perairan sungai.
Analisis yang dilakukan oleh Jordan Willeford beserta tim peneliti dari Departemen Environmental Sciences and Engineering University of North Carolina meneliti fenomena ini. Mereka menyaring 676 riset dan meninjau 105 kajian secara utuh.
Dari penelusuran tersebut, tim ilmuwan mengompilasi 20 penelitian spesifik yang mengukur konsentrasi arsenik di dalam air. Mayoritas data diambil dari wilayah Kanada, Portugal, serta kawasan utara Amerika Serikat.
Paparan bentuk anorganik arsenik dalam jangka panjang berisiko memicu penyakit kanker, diabetes, hingga kerusakan jaringan kulit, seperti dilansir dari Detikcom.
Mayoritas studi yang mengamati kondisi sungai besar dan kecil mengonfirmasi lonjakan kandungan arsenik. Salah satu riset mencatat kenaikan rata-rata sebesar 17 persen, sementara riset lain menunjukkan lonjakan mencapai 300 hingga 34.900 persen.
Kebakaran menghancurkan vegetasi penahan tanah dan mengurangi daya serap air hujan. Akibatnya, limpasan air deras membawa lapisan abu serta tanah tererosi yang mengandung arsenik menuju aliran sungai.
Dua dari 17 studi mendeteksi tingginya kadar arsenik yang bertahan 5 hingga 10 tahun pascakebakaran. Data 10 tahun tersebut bahkan diukur dari sampel air minum yang sudah melalui proses pengolahan.
Jalur Penyebaran Melalui Asap dan Area Bekas Tambang
Metode penyebaran kedua terjadi saat partikel asap dan abu mendarat langsung di perairan terbuka. Sampel yang diambil saat kondisi kabut asap menunjukkan tingkat arsenik 2.000 persen lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Peristiwa kebakaran besar di California pada 2018 membuktikan partikel asap halus yang membawa arsenik mampu terdeteksi alat pemantau udara di Modesto, sejauh 124 kilometer dari titik api.
Tingkat pencemaran tertinggi tercatat di sungai yang melintasi area bekas pertambangan terbuka saat badai. Kandungan arsenik terlarut mencapai 70 mikrogram per liter dan meningkat hingga 740 mikrogram per liter jika terikat pada partikel.
Lubang galian tambang terbuka yang teroksidasi menghasilkan aliran asam beracun ke muara. Kondisi ini sangat membahayakan jika air tersebut dimanfaatkan warga untuk kebutuhan harian.
Area perkotaan yang terbakar turut menyumbang pencemaran arsenik dalam jumlah besar. Abu kayu lama berlapisi pengawet kimia di area pemukiman mengandung arsenik 33 kali lebih banyak daripada abu kayu biasa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow