MPRS Tetapkan 13 Korban Demonstrasi 1966 Sebagai Pahlawan Ampera

Smallest Font
Largest Font

Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara resmi menetapkan 13 pemuda yang gugur dalam pergolakan politik tahun 1966 sebagai Pahlawan Ampera. Ketetapan hukum ini disahkan melalui TAP MPRS Nomor: TAP MPRS XXIX/MPRS/1966 untuk menghormati perjuangan mereka dalam menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat atau Tritura. Istilah Ampera sendiri merupakan amanat penderitaan rakyat yang menjadi motor penggerak demonstrasi besar-besaran.

Para pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Eksponen 66 bergerak menuntut perbaikan kondisi ekonomi dan politik nasional yang sedang bergejolak parah pada masa itu. Gelombang aksi demonstrasi mahasiswa ini dimulai sejak tanggal 10 Januari 1966 di Jakarta. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI memelopori gerakan ini untuk menyampaikan tuntutan pembubaran PKI, pembersihan kabinet, dan penurunan harga barang.

Situasi di ibu kota semakin memanas pada bulan berikutnya hingga menelan korban jiwa dari kalangan mahasiswa. Pemerintah sempat mengeluarkan keputusan Komando Ganyang Malaysia atau KOGAM serta membubarkan KAMI pada tanggal 24 Februari 1966.

Keputusan tersebut diambil menyusul gugurnya mahasiswa kedokteran bernama Arif Rahman Hakim di depan Istana Merdeka. Penutupan kampus Universitas Indonesia juga dilakukan oleh otoritas keamanan guna meredam massa yang terus bergerak ke jalan-jalan protokol. Tidak berhenti di situ, peluru nyasar dalam demonstrasi kembali memakan korban jiwa pada tanggal 30 Maret 1966. Seorang pelajar bernama Mochammad Ikhwan Ridwan Rais meninggal dunia pada usia 14 atau 15 tahun akibat peristiwa tragis tersebut.

Profil Singkat Tokoh yang Gugur

Para pemuda yang gugur dalam peristiwa ini berasal dari latar belakang yang beragam namun disatukan oleh tujuan yang sama. Perjuangan mereka mencerminkan keteguhan gerakan pemuda dalam mengawal aspirasi masyarakat sipil.

Arif Rahman Hakim lahir pada tanggal 24 Februari 1943 dan merupakan anak ke-6 dari 9 bersaudara dari pasangan Haji Syair dan Ibu Hakimah. Kepergian mahasiswa ini menjadi simbol perlawanan gerakan mahasiswa Angkatan 66 di Jakarta.

Sementara itu, Mochammad Ikhwan Ridwan Rais lahir pada tanggal 5 Agustus 1951 di Kebonkelapa, Teluk Betung, Bandar Lampung. Pelajar ini merupakan anak tunggal dari pasangan Ridwan Rais dan Nyonya Agung yang sedang menetap di Jakarta.

Napak Tilas Peringatan 50 Tahun Gugurnya Pahlawan Ampera | Mubarak Bandung

Data Korban dan Pemindahan Makam

Ikhwan Ridwan Rais awalnya dikebumikan di Pemakaman Blok P, Jakarta Selatan, setelah dinyatakan meninggal dunia. Ibunya, Nyonya Agung, sempat tinggal selama 6 tahun di Jakarta sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Lampung. Pemerintah kemudian melakukan pemindahan massal makam para pejuang ini pada tanggal 10 Oktober 1977. Kuburan Ikhwan Ridwan Rais bersama Arif Rahman Hakim dan pahlawan lainnya dipindahkan ke Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir.

Daftar korban yang diberi gelar kehormatan ini tercatat secara resmi dalam dokumen negara sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Berikut adalah rincian data korban dan lini masa peristiwa yang dihimpun dari catatan sejarah: Pergerakan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga meluas ke beberapa daerah lain di Indonesia. Salah satu tokoh daerah yang turut gugur dalam mempertahankan aspirasi rakyat ini adalah Hasanuddin HM di Banjarmasin.

Penghormatan Sejarah di Berbagai Daerah

Semangat perjuangan para pemuda ini terus dijaga melalui berbagai bentuk simbolis di ruang publik. Pemerintah daerah di beberapa wilayah membangun monumen untuk memastikan sejarah lokal tidak terlupakan oleh generasi muda.

Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina, mengusulkan agar di Kota Banjarmasin dibangun sebuah monumen atau prasasti di lokasi gugurnya Hasanuddin HM. Langkah ini diambil agar sejarah perjuangan dapat terus dikenang oleh seluruh warga kota.

"Mengusulkan agar di Kota Banjarmasin dibangun sebuah monumen atau prasasti di lokasi gugurnya Hasanuddin HM agar sejarah perjuangan dapat dikenang oleh anak bangsa dan warga kota. Peringatan tersebut juga diharapkan menjadi spirit untuk membangun Kota Banjarmasin menjadi kota Barasih wan Nyaman (Baiman)," kata H Ibnu Sina.

Saat ini, nama-nama para pejuang tersebut telah diabadikan menjadi nama jalan, gedung, hingga fasilitas umum di berbagai kota di Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk terus merawat ingatan publik terhadap momentum perubahan politik nasional tahun 1966.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow