UNESCO Akui Tari Saman Gayo Aceh Sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa resmi menetapkan tari tradisional aceh ke dalam daftar warisan budaya tak benda dunia. Berdasarkan keputusan resmi pada sidang sesi ke-6 di kawasan Asia Pasifik, penetapan prestisius ini menempatkan tarian tersebut dalam kategori mendesak untuk dilestarikan. Seni pertunjukan ini melengkapi khazanah budaya Serambi Mekah yang tercatat memiliki total 184 tarian tradisional tersebar di berbagai kota dan kabupaten.
Pengakuan internasional tersebut menegaskan posisi kuat kebudayaan nusantara di panggung global, sekaligus membawa tanggung jawab besar bagi pemerintah lokal dan komunitas adat dalam menjaga keberlangsungannya. Lembaga kebudayaan dunia menetapkan status tersebut berdasarkan lima kriteria utama yang melekat erat pada kehidupan masyarakat adat. Kriteria penilaian tersebut mencakup tradisi lisan, adat istiadat masyarakat, seni pertunjukan, pengetahuan alam, hingga keterampilan kerajinan tradisional yang mendukung kelengkapan tarian.
Melihat pada sejarah tari saman gayo, kesenian ini tumbuh dan berkembang di dataran tinggi Gayo, Aceh Tenggara. Berbeda dengan tarian daerah lain yang menggunakan instrumen musik eksternal, tarian ini murni mengandalkan suara dari para penari melalui tepukan tangan, tepukan dada, dan hempasan badan yang harmonis.
Fungsi Sosial dan Karakteristik Gerakan
Kesenian komunal ini memegang peranan penting dalam struktur sosial masyarakat Aceh sebagai media dakwah, penyampaian pesan moral, dan sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Fungsi tari saman aceh tercermin dalam setiap lirik syair yang dilantunkan pemimpin tarian, yang biasanya berisi petuah keagamaan dan sopan santun.
Kombinasi gerak yang cepat dan ritmis menuntut konsentrasi tinggi serta kerja sama tim yang mutlak. Hubungan antarpenari yang rapat melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat yang kokoh dalam menghadapi tantangan sosial.
Perbedaan Karakteristik Antar Tarian Aceh
Masyarakat sering kali keliru dalam mengidentifikasi jenis tarian kelompok dari wilayah barat Indonesia ini karena kemiripan formasi duduknya. Pemahaman mengenai perbedaan tari saman dan ratoh jaroe menjadi poin penting agar tidak terjadi salah kaprah dalam pelestarian budaya.
Tari Ratoh Jaroe dipasang sebagai penampilan pembuka pada ajang Asian Games tahun 2018 di Jakarta dan diciptakan oleh Yusri Saleh atau yang dikenal sebagai Dek Gam. Koreografer tersebut mulai merantau ke Jakarta pada era tahun 2000-an dan berhasil menyabet gelar pelatih serta koreografer terbaik dalam ajang parade nasional di Taman Mini Indonesia Indah.
Berikut adalah perbandingan karakteristik dasar antara kedua tarian kelompok populer asal Provinsi Aceh tersebut:
| Karakteristik | Tari Saman | Tari Ratoh Jaroe |
|---|---|---|
| Identitas Penari | Pria (Adat Gayo) | Wanita |
| Pencipta / Koreografer | Syekh Saman | Yusri Saleh (Dek Gam) |
| Tahun Pengakuan UNESCO | 2011 | 2011 |
| Musik Pengiring | Suara Internal Penari | Eksternal (Rapai dan Syair) |
Meskipun kedua tarian ini sama-sama mengantongi pengakuan internasional dari UNESCO sejak tahun 2011, struktur gerakan dan peruntukannya tetap memiliki batas pakem adat yang berbeda jelas. Kehadiran instrumen alat musik rapai menjadi pembeda utama Ratoh Jaroe yang lebih fleksibel dimainkan oleh penari wanita, sementara versi Gayo tetap mempertahankan keaslian suara internal tubuh penari pria.
Pemerintah daerah melalui dinas kebudayaan setempat terus memantau standarisasi pengajaran kedua tarian ini di lembaga pendidikan informal maupun sanggar seni. Langkah ini dilakukan guna memastikan bahwa pakem asli serta nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam gerakannya tidak bergeser oleh modernisasi zaman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow