Zaman Kebodohan Jahiliyah Arab dan Fakta Mengejutkan Hanya 17 Orang Bisa Menulis
Zaman kebodohan disebut juga zaman Jahiliyah, sebuah periode krusial dalam sejarah yang merujuk pada masa sebelum kedatangan Islam di tanah Arab.
Saya sering melihat orang salah kaprah dengan menganggap istilah kebodohan di sini berarti masyarakatnya tidak memiliki kecerdasan intelektual sama sekali. Faktanya, pelabelan ini lebih menitikberatkan pada aspek spiritual, moralitas, dan hilangnya tuntunan wahyu ilahi setelah sekian lama kosong dari figur nabi.
Mari kita bedah secara kritis bagaimana tatanan sosial dan spiritual era tersebut bergulir hingga akhirnya mengalami perubahan total.
Secara etimologi, kata Jahiliyah berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti bodoh atau tidak tahu. Namun, ketidaktahuan ini bukan berarti mereka tidak bisa berdagang atau membuat syair indah. Saya menilai masyarakat Arab saat itu justru sangat lihai dalam berniaga dan memiliki sastra yang tinggi.
Sisi gelapnya terletak pada kebutaan moral.
Masyarakat pada masa itu hidup tanpa hukum formal yang adil dan kerap terjebak dalam fanatisme kesukuan yang ekstrem. Sistem hukum yang berlaku hanyalah hukum rimba, di mana suku yang kuat akan menindas kelompok yang lebih lemah tanpa ada pembelaan hukum sama sekali.
Jarak Kerasulan yang Terlalu Lama
Salah satu pemicu utama mengapa moralitas masyarakat merosot tajam adalah kekosongan petunjuk spiritual yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat panjang.
Berdasarkan catatan sejarah, jarak kerasulan antara diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Isa AS adalah 600 tahun. Rentang waktu enam abad tanpa adanya bimbingan nabi baru ini membuat ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi terdahulu perlahan memudar, menyimpang, dan akhirnya lenyap digantikan oleh tradisi buatan manusia.
Menurut saya, kekosongan bimbingan yang begitu lama secara logis memang akan membuat sebuah peradaban kehilangan arah kompas moralnya.
Krisis Kepercayaan dan Penyembahan Ratusan Berhala
Puncak dari manifestasi zaman kebodohan ini tercermin langsung pada ritual keagamaan yang mereka jalankan sehari-hari di pusat peradaban Arab.
Terdapat lebih dari 300 berhala yang dijadikan sesembahan di sekitar Ka’bah pada zaman Jahiliyah. Ka’bah yang sejatinya dibangun sebagai rumah ibadah tauhid justru dikelilingi oleh patung-patung batu yang dikeramatkan oleh berbagai suku yang datang dari seluruh penjuru jazirah.
Melihat fakta ini, saya merasa ironis karena sebuah bangsa yang begitu mengagungkan logika perdagangan justru menggantungkan nasibnya pada benda mati.
Setiap suku bahkan memiliki berhala andalan mereka sendiri yang diletakkan di area suci tersebut.
Realita Keterbatasan Literasi Bangsa Arab Pra-Islam
Meskipun mereka sangat hebat dalam menghafal silsilah keluarga dan menggubah bait-bait puisi, kemampuan literasi formal masyarakat Arab sangat memprihatinkan.
Keterbatasan ini membuat penyebaran informasi tertulis menjadi hal yang sangat langka dan mewah.
Hampir seluruh interaksi dan pewarisan budaya dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut.
Hanya Belasan Orang yang Melek Huruf
Kondisi nyata mengenai kemampuan baca tulis masyarakat pada era tersebut tercatat dengan sangat spesifik dalam dokumentasi para sejarawan klasik.
Menurut Al-Thabari, hanya ada 17 orang dari kalangan masyarakat Arab pra-Islam yang bisa menulis. Angka ini tentu sangat mengejutkan jika kita bandingkan dengan total populasi penduduk jazirah Arab yang mencapai ribuan jiwa pada masa itu.
Bayangkan saja, sebuah peradaban besar hanya digerakkan oleh belasan orang yang memiliki kemampuan literasi dasar.
Kondisi minimnya literasi ini berbanding lurus dengan rendahnya pencatatan hukum administrasi negara.
Kekurangan Sistem Sosial Masa Jahiliyah
Jika saya harus menilai kekurangan terbesar dari sistem sosial zaman kebodohan ini, jawabannya adalah tidak adanya penegakan hak asasi manusia yang universal.
Struktur sosial mereka sangat diskriminatif.
Berikut adalah beberapa rapor merah dari tatanan kehidupan masyarakat Jahiliyah yang berhasil dirangkum dari berbagai catatan sejarah:
- Penindasan terhadap kaum wanita yang dianggap sebagai komoditas dan tidak memiliki hak waris sama sekali.
- Sistem perbudakan yang kejam di mana manusia diperjualbelikan seperti barang di pasar terbuka.
- Praktik perjudian dan konsumsi khamr yang mendarah daging dalam ritual adat sehari-hari.
- Peperangan antar suku yang bisa tersulut hanya karena masalah sepele seperti perebutan sumber air atau persaingan pacuan kuda.
Semua kebiasaan buruk ini dianggap sebagai hal yang lumrah dan bahkan menjadi simbol kehormatan bagi beberapa klan besar.
| Aspek Kehidupan | Kondisi Riil Era Jahiliyah |
|---|---|
| Jumlah Berhala di Ka'bah | Lebih dari 300 berhala |
| Jumlah Orang Bisa Menulis | 17 orang saja |
| Jarak Antar Kerasulan | 600 tahun |
| Sistem Hukum | Hukum adat kesukuan |
Melihat data di atas, kita bisa memahami mengapa era ini disebut sebagai puncak kegelapan moral.
Perubahan besar baru terjadi ketika Islam datang membawa restrukturisasi total terhadap hukum, literasi, dan sistem kepercayaan di jazirah tersebut.
Nilai-nilai kemanusiaan yang tadinya diinjak-injak mulai dikembalikan ke tempat yang seharusnya melalui aturan hukum yang mengikat.
Zaman kebodohan atau Jahiliyah pada akhirnya menjadi sebuah cermin sejarah yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana rusaknya sebuah masyarakat ketika mereka kehilangan kompas moral, mengabaikan literasi, dan terjebak dalam lingkaran fanatisme golongan yang buta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow