Benarkah Babad Tanah Jawi Fiksi Belaka Ini Fakta Historiografi Menurut Ahli
Babad Tanah Jawi merupakan salah satu jenis historiografi tradisional yang terus memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi hingga pengamat sosial. Saya melihat naskah ini sering kali disalahpahami, entah dianggap sebagai kebenaran mutlak atau justru dibuang sama sekali karena dianggap dongeng belaka. Menilai karya ini membutuhkan ketelitian kritis agar kita tidak terjebak dalam generalisasi yang keliru.
Persoalan akurasi naskah ini kembali mencuat ke permukaan dalam diskusi publik yang hangat. Tepatnya pada 10 April, sebuah pernyataan kontroversial terlontar dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC). Saat itu, pengamat politik sekaligus dosen filsafat UI, Rocky Gerung, melontarkan pandangan yang cukup radikal mengenai sifat teks-teks kuno nusantara.
"Kitab suci fiksi atau bukan? Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci adalah fiksi. Karena belum jadi, belum selesai. Babad Tanah Jawi itu fiksi."
Pernyataan tersebut jelas memantik reaksi keras, terutama dari mereka yang memandang babad sebagai dokumen sejarah suci. Namun, sebagai seorang reviewer senior yang terbiasa melihat struktur data dan teks, saya menilai ucapan tersebut ada benarnya jika dilihat dari kacamata metodologi sejarah modern. Kita tidak bisa menyamakan babad dengan jurnal ilmiah abad ke-21.
Babad Tanah Jawi merupakan salah satu jenis historiografi tradisional yang lahir dari rahim kebudayaan kraton. Karakter utama dari historiografi jenis ini adalah sifatnya yang egosentris dan istanasentris. Artinya, penulisan sejarah berpusat pada kepentingan penguasa dan legitimasi takhta dinastinya.
Menurut saya, kelemahan terbesar naskah ini terletak pada bias subjektivitas pujangga yang sangat kental. Jangan harap Anda akan menemukan kritik terhadap kebijakan raja di dalam lembarannya. Semua ditulis untuk mengagungkan sang penguasa, sering kali dengan mengorbankan objektivitas fakta empiris demi kepuasan moralitas zaman itu.
Kronologi dan Jejak Salinan yang Tercecer
Satu hal yang wajib dipahami adalah naskah yang kita kenal sekarang bukan merupakan satu buku tunggal yang utuh sejak awal. Naskah-naskah ini mengalami proses penyalinan, penyuntingan, dan penggubahan selama ratusan tahun oleh pujangga yang berbeda-beda.
Berdasarkan catatan filologi, batasan usia salinan tertua naskah ini yang dapat ditemukan berasal dari abad ke-18. Jarak waktu yang sangat jauh dari peristiwa-peristiwa awal yang dikisahkannya membuat tingkat distorsi informasi menjadi sangat tinggi.
Jejak digital dan dokumentasi sejarah mencatat beberapa tahun penting dalam silsilah penulisan naskah induk ini:
- Tahun 1722: Penulisan naskah tertua dari induk naskah yang dikerjakan oleh Carik Adilangu II.
- Tahun 1788: Induk naskah yang ditulis oleh Carik Tumenggung Tirtowiguno (Carik Braja) sudah beredar luas di lingkungan istana.
- Tahun 1874: Johannes Jacobus Meinsma menerbitkan versi gancaran (prosa) yang dikerjakan oleh Ngabehi Kertapraja, memuat ringkasan teks tembangnya.
- Tahun 1941: W. L. Olthof mereproduksi ulang versi Meinsma tersebut menjadi teks yang lebih mudah diakses oleh peneliti modern.
Antara Mitos dan Fakta Sejarah Nyata
Saya melihat banyak orang terjebak dalam ekstremitas saat menilai naskah ini. Ada kelompok yang menelan mentah-mentah kisah kesaktian para raja, namun ada juga yang langsung mencapnya sampah peradaban. Pendekatan terbaik adalah melakukan pemisahan analitis yang ketat menggunakan metode kritik sumber.
Ahli sejarah Jawa terkemuka, H.J. de Graaf, memberikan jalan tengah yang sangat logis melalui hasil studinya. Beliau menyatakan bahwa naskah ini memiliki kandungan fakta sejarah yang kuat pada bagian tengah hingga akhir cerita. Khususnya, peristiwa sejarah pada abad ke-18 dinilai memiliki akurasi yang cukup tinggi karena sang pujangga hidup dekat dengan era tersebut.
Namun, H.J. de Graaf juga memberikan catatan kritis yang tegas untuk era di luar masa itu. Beliau tidak menganggap kisah-kisah awal sebagai data sejarah yang valid karena strukturnya sudah sarat akan mitologi, kosmologi, dan dongeng. Penggabungan mitos dan fakta ini sengaja dilakukan untuk menaikkan wibawa magis sang raja di mata rakyatnya.
Penilaian Keras dari Para Peneliti Belanda
Jika kita merujuk pada standar sains modern, naskah ini memang babak belur. Hasil penelitian Dr. G.A.J.
Hazeu dan Dr. Th. G.
Th. Pigeaud membuahkan kesimpulan yang sangat konservatif sekaligus tajam terhadap karya ini.
Dua peneliti Belanda ini menyimpulkan bahwa naskah tersebut bukan termasuk karya ilmiah. Mereka menilai isinya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis dan tidak bisa dipercaya sebagai rujukan primer. Alasan utamanya adalah karena teks tersebut bercampur aduk dengan dongeng berbasis pujangga yang bersifat non-ilmiah.
Anakronisme dan Silsilah Penguasa Jawa Kuno
Kekurangan fatal lain dari historiografi tradisional seperti ini adalah masalah anakronisme atau kerancuan urutan waktu. Penulis zaman dahulu sering kali melompat-lompat dalam menyusun lini masa, atau bahkan memasukkan tokoh dari zaman yang berbeda ke dalam satu peristiwa yang sama.
Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana teks ini merekam daftar penguasa era Jawa Kuno, khususnya pada periode Kerajaan Kadiri. Struktur silsilah yang disajikan sering kali membingungkan para sejarawan modern yang mencoba mencocokkannya dengan data prasasti otentik.
| No | Nama Penguasa | Karakteristik Narasi |
|---|---|---|
| 1 | Prabu Gendrayana | Sarat unsur mitologis |
| 2 | Prabu Jayapurusa | Legitimasi keturunan |
| 3 | Prabu Sariwahana | Kental nuansa sastra |
| 4 | Prabu Batara Aji Jayabaya | Dihubungkan dengan ramalan |
| 5 | Prabu Jaya Amijaya | Kisah transisi kekuasaan |
| 6 | Prabu Jaya Amisena | Fokus narasi internal kraton |
| 7 | Prabu Aji Pamasa | Penutup era kuno versi babad |
Melihat tabel di atas, sejarawan yang mengandalkan bukti arkeologis murni pasti akan mengernyitkan dahi. Nama-nama tersebut sebagian besar tidak sinkron dengan temuan piagam batu atau prasasti kontemporer dari zaman Kadiri. Ini membuktikan bahwa babad lebih berfungsi sebagai alat pembentuk memori kolektif daripada pencatat data statistik kedinasan yang presisi.
Menilai Nilai Guna Babad untuk Generasi Sekarang
Lantas, apakah naskah kuno ini sama sekali tidak berguna untuk dipelajari hari ini? Tentu saja tidak. Kita harus menilainya dari sudut pandang sejarah pemikiran dan fungsi kebudayaannya pada masa lalu.
Meskipun naskah ini memiliki cacat metodologis yang besar jika dipandang sebagai buku sejarah formal, ia adalah permata yang tak ternilai untuk memahami mentalitas manusia Jawa pada abad ke-18. Teks ini menunjukkan bagaimana masyarakat kala itu memandang dunia, menyikapi kekuasaan, dan membangun sistem kepercayaan mereka.
Karya sejarah tradisional ini mengajarkan kita bahwa penulisan masa lalu selalu terikat oleh kepentingan zamannya. Kita tidak bisa menghakimi karya abad pertengahan dengan standar metodologi modern yang ketat, namun kita juga tidak boleh buta terhadap fakta bahwa di dalamnya terdapat rekayasa narasi demi kekuasaan dinastik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow