BRIN Ungkap Penyebab Pengelolaan Sampah di Indonesia Masih Menjadi Tantangan
Kebakaran yang melanda Tempat Pemprosesan Akhir atau TPA Jatiwaringin di Tangerang, Banten, memicu perhatian publik. Peristiwa ini memancing masyarakat membandingkan sistem tata kelola sampah di Indonesia dengan negara lain, seperti Swedia.
Swedia dikenal sebagai negara yang mengimpor sampah demi memenuhi kebutuhan bahan bakar. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Indonesia yang justru masih memproduksi sampah dalam jumlah melimpah.
Dilansir dari Detikcom, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Wahyu Purwanta, memaparkan alasan di balik kendala pengelolaan sampah domestik.
Wahyu menjelaskan bahwa karakteristik daratan antara Indonesia dan Eropa memiliki perbedaan yang signifikan. Wilayah Eropa didominasi oleh daratan terintegrasi meskipun terbagi menjadi banyak negara.
"Ya itu harus dipahami begini, Eropa ini daratan walau banyak negara tapi sebenarnya daratan ya kan. Jangankan sampah, ada penjara yang kosong artinya kriminal di negara ini ke sini aja gitu kan ada, iya sama dengan sampah," kata Wahyu dalam acara Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk "TPA Terbakar Lagi: Apa Kata Sains dan Bagaimana Mencegahnya?" di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta Pusat pada Kamis (9/7/2026).
Menurut pemaparan Wahyu, sekitar 90 persen wilayah di Indonesia saat ini masih menerapkan metode open dumping atau penumpukan terbuka di TPA. Metode ini dinilai sangat rawan memicu kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau.
Sistem Pengelolaan Sampah Menjadi Energi
Di sisi lain, Swedia telah menerapkan teknologi Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik atau PSEL. Sistem tersebut bekerja lebih efisien karena hanya memproses jenis sampah yang dapat dibakar.
"Karena PSEL yang efisien adalah hanya yang mengolah yang hanya dapat dibakar gitu loh. Kalau di sini nanti yang kebakar sisa makanan juga akan masuk ke situ gitu loh. Akibatnya jadi efisiensi rendah," kata Wahyu.
Efisiensi pembakaran di Swedia tergolong tinggi karena didukung oleh sistem pemilahan yang berjalan efektif. Negara maju tersebut hanya membakar sampah yang berada dalam kondisi kering.
"Maksud saya efisiensi rendah itu begini, kalau di negara maju yang sudah terapkan menerapkan pemilahan, itu mungkin mencapai misalnya nih 500 sampai 600 kilowatt listrik per ton," tambah Wahyu.
Sebaliknya, sampah di Indonesia umumnya masih tercampur rata antara limbah sisa makanan yang basah dengan sampah plastik atau kertas. Hal ini berdampak pada tingkat efisiensi energi yang dihasilkan.
"Di kita nanti mungkin hanya 300 sampai 400 kilowatt per ton karena sampahnya tidak kering sekali gitu loh ya," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow