Bukan Sekadar Suara Biasa Mengapa Bunyi Beraturan Disebut Nada

Smallest Font
Largest Font

Bunyi yang beraturan dan memiliki frekuensi tertentu disebut nada dalam dunia seni musik serta akustik. Sebagai seorang reviewer seni yang sering membedakan estetika suara, saya melihat banyak orang kerap menyamakan semua suara yang mereka dengar di kehidupan sehari-hari. Padahal, ada batasan yang sangat tegas yang memisahkan antara kebisingan acak dengan keindahan suara yang terstruktur secara matematis.

Bila kita merujuk pada literatur pendidikan, seperti buku Kreatif Tematik Tema 1: Indahnya Kebersamaan Kelas IV untuk SD/MI (2019:26), penegasan mengenai definisi ini sudah diajarkan sejak dini.

Bunyi yang beraturan dan memiliki frekuensi tertentu disebut sebagai nada karena getaran sumber bunyinya terjadi secara konstan. Menurut saya pribadi, kekonsistenan frekuensi inilah yang membuat telinga manusia bisa mempersepsikan kenyamanan saat mendengarnya, berbeda dengan desah atau noise.

Jika getaran udara di sekitar kita bergerak acak tanpa pola, yang lahir hanyalah polusi suara yang mengganggu kenyamanan. Namun, begitu getaran tersebut mengalun dengan jumlah ketukan per detik yang stabil, ia langsung bertransformasi menjadi sebuah entitas musikal.

Buku Inovasi Musik untuk Anak Negeri Indonesia di SD (2017:496) juga memperkuat konsep bahwa keteraturan frekuensi ini menjadi landasan utama bagi pengembangan materi musik. Tanpa adanya frekuensi yang terukur, kita tidak akan pernah mengenal apa yang disebut dengan harmonisasi atau melodi indah.

APA ITU BUNYI, IRAMA & NADA | SBdP MUSIK KELAS 1 2 | Physics with Mr Dana

Membedakan 4 Sifat Dasar Nada yang Wajib Dipahami

Berdasarkan kajian musikologi, sebuah bunyi beraturan tidak berdiri sendiri tanpa karakteristik pendukung.

Dari pengamatan saya terhadap struktur akustik, terdapat 4 sifat nada yang saling mengikat dan membentuk keunikan dari setiap suara yang diproduksi.

Sifat-sifat ini dilaporkan secara konsisten oleh berbagai kanal edukasi termasuk dalam ulasan di platform Kumparan dan Fimela awal tahun 2022.

Pitch atau Tinggi Rendahnya Nada

Pitch merupakan sifat yang secara langsung ditentukan oleh besar kecilnya frekuensi ketukan per detik.

Semakin tinggi frekuensi getaran mekanis yang dihasilkan, maka akan semakin tinggi pula pitch yang ditangkap oleh indra pendengaran kita.

Sebaliknya, frekuensi yang rendah akan memicu suara bass atau nada rendah yang dalam.

Durasi Waktu Aliran Bunyi

Durasi mengacu pada panjang atau pendeknya sebuah nada dinyanyikan atau dibunyikan.

Sifat ini sangat krusial dalam membentuk ritme serta ketukan dalam sebuah aransemen lagu.

Tanpa pengaturan durasi yang presisi, rangkaian bunyi beraturan hanya akan terdengar seperti bunyi statis yang menjemukan.

Intensitas Nada atau Keras Lemahnya Suara

Intensitas berkaitan erat dengan amplitudo gelombang bunyi yang diproduksi oleh sumber suara.

Aspek ini menentukan volume, apakah suatu nada terdengar nyaring menggelegar atau lembut berbisik.

Dalam dinamika musik, intensitas digunakan untuk membangun emosi dan pesan mendalam kepada pendengar.

Timbre Sebagai Warna Unik Suara

Timbre adalah kualitas atau warna suara yang membedakan dua nada meskipun memiliki pitch dan intensitas sama.

Contohnya, nada do yang dihasilkan oleh petikan gitar akan terdengar berbeda dengan nada do dari tiupan saksofon.

Perbedaan material sumber bunyi inilah yang melahirkan warna suara unik yang khas.

Eksplorasi Jenis Nada dan Ragam Tangga Nada Musikologi

Secara musikologi, kita mengenal adanya 3 jenis nada utama yang mengonstruksi karya seni, yaitu nada mayor, nada minor, dan nada pentatonik.

Pembagian ini didasarkan pada bagaimana susunan frekuensi tersebut dikelompokkan dalam jarak tertentu. Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, mari kita bedah bagaimana struktur frekuensi ini bekerja dalam berbagai tangga nada baku. Dalam satu oktaf tangga nada kromatik, terdapat total 12 nada yang masing-masing dipisahkan oleh jarak terkecil.

Jarak dasar antar-nada ini bisa diperlebar atau dipersempit dengan nilai ukuran yang disebut sebagai 1 semitone.

Sementara itu, jika kita melihat sistem barat yang populer, terdapat susunan 7 nada yang membentuk tangga nada mayor. Tangga nada mayor ini selalu berpatokan pada nada dasar do sebagai pijakan awalnya.

Karakteristiknya yang ceria membuat susunan ini sering dipakai untuk lagu-lagu penuh semangat. Berbeda dengan mayor, tangga nada minor dimulai dari nada ke-6 atau A (la) sebagai dasarnya.

Pergeseran titik awal ini memberikan nuansa melankolis, sedih, dan dramatis pada hasil bunyinya. Selain sistem 7 nada atau diatonik yang memiliki 2 jenis jarak (yaitu jarak 1/2 dan 1), ada juga sistem tradisional. Sistem tradisional ini umumnya menggunakan susunan 5 nada pokok yang menyusun tangga nada pentatonis/pentatonik.

Situs Detik menyebutkan bahwa susunan pentatonik ini memiliki jarak antar-nada yang berbeda-beda, menciptakan harmoni etnik yang kuat.

Sistem Penulisan dan Representasi Visual Nada

Bagi seorang praktisi, bunyi beraturan tidak hanya untuk didengar tetapi juga harus bisa didokumentasikan. Berdasarkan kompilasi data dari Roboguru Ruangguru, terdapat 3 bentuk not yang diakui dalam standar pemetakan musik. Bentuk-bentuk tersebut meliputi not angka yang praktis, not huruf yang baku, serta not balok yang sangat presisi.

Mari kita lihat perbandingan karakteristik dari ketiga bentuk visualisasi tersebut melalui data berikut.

Perbandingan Karakteristik Bentuk Notasi Bunyi Beraturan
Bentuk NotasiKelebihan UtamaKekurangan Utama
Not AngkaSangat mudah dipelajari pemulaKurang akurat untuk aransemen kompleks
Not HurufPraktis untuk penulisan akor dasarTerbatas pada simbol alfabet saja
Not BalokSangat presisi dalam menggambarkan pitch dan durasiMemerlukan waktu belajar yang relatif lama
Dari sudut pandang saya, meskipun not angka sangat populer di kalangan pencinta musik amatir Indonesia, not balok tetap menjadi standar mutlak yang tidak tergantikan untuk kebutuhan profesional karena mampu mengakomodasi keempat sifat nada secara sempurna.

Kelemahan Karakteristik Nada dalam Praktik Musikal

Meskipun bunyi beraturan ini terdengar indah, sistem pembentukannya memiliki kelemahan nyata yang sering dikeluhkan para komposer. Kelemahan utamanya terletak pada keterikatan mutlaknya terhadap standarisasi frekuensi.

Ketika sebuah instrumen musik mengalami pergeseran suhu atau kelonggaran mekanis, frekuensinya akan bergeser secara mikro. Kondisi false atau sumbang ini langsung merusak estetika bunyi beraturan tersebut, menjadikannya tidak nyaman didengar.

Artinya, nada menuntut presisi matematis yang sangat kaku agar keindahannya tetap terjaga secara konsisten.

Rekomendasi Implementasi Pemahaman Nada dalam Kehidupan

Memahami bahwa bunyi yang beraturan dan memiliki frekuensi tertentu disebut nada bukan sekadar hafalan teori ujian sekolah.

Bagi saya, pengetahuan dasar ini adalah gerbang utama jika Anda ingin serius terjun ke dunia industri kreatif, audio engineering, atau minimal saat memilih alat musik. Ketepatan dalam mengenali sifat pitch, durasi, intensitas, dan timbre akan mengasah kepekaan telinga kita secara signifikan. Gunakan pemahaman struktur 4 sifat dasar serta penguasaan jenis tangga nada ini sebagai fondasi kuat untuk melatih vokal maupun kemampuan aransemen instrumen secara mandiri demi menghasilkan karya audio yang berkualitas tinggi dan presisi.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow