Telinga Manusia Tidak Bisa Dengar Bunyi Frekuensi di Atas 20000 Hz Disebut Apa
Bunyi yang memiliki frekuensi di atas 20.000 Hz disebut gelombang ultrasonik, sebuah tingkatan getaran suara yang sudah tidak mampu direspons oleh gendang telinga kita secara alami. Pemahaman mengenai batasan akustik ini sangat penting karena gelombang tersebut kini melandasi berbagai inovasi teknologi mutakhir mulai dari radar navigasi hingga peralatan diagnostik medis.
Sebagai praktisi yang sering bergelut dengan pengujian akustik dan gelombang, saya melihat banyak orang masih kebingungan membedakan kategori suara di alam. Padahal, pembagian ini didasarkan pada angka batas yang sangat mutlak dan presisi dalam ilmu fisika.
Melalui artikel ini, Anda akan mempelajari secara mendalam mengenai klasifikasi suara, cara mengidentifikasinya, serta bagaimana teknologi memanfaatkan gelombang yang tidak kasat dengar ini untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Dunia akustika membagi gelombang suara ke dalam tiga kelompok utama yang ditentukan oleh jumlah getaran per detik atau Hertz. Berdasarkan data ilmiah yang dirilis oleh Ruangguru, pembagian ini menjadi tolok ukur fundamental untuk memetakan kemampuan pendengaran makhluk hidup.
Kategori pertama adalah infrasonik, yaitu jenis bunyi yang memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz. Manusia sama sekali tidak bisa mendengarkan suara ini, namun getarannya yang masif sering kali menyertai peristiwa alam besar seperti pergerakan lempeng tektonik.
Kategori kedua adalah audiosonik yang memiliki rentang frekuensi antara 20 Hz sampai 20.000 Hz. Rentang inilah yang menjadi wilayah
rentang pendengaran manusia
normal, di mana kita bisa menikmati musik, berbincang, dan mendengar suara lingkungan.
Kategori ketiga adalah ultrasonik yang memiliki frekuensi lebih dari 20.000 Hz atau 20 KHz. Gelombang inilah yang menjadi fokus utama kita, sebuah getaran super cepat yang melampaui batas sensorik manusia.
| Kategori Gelombang | Rentang Frekuensi (Hz) | Kemampuan Dengar Manusia |
|---|---|---|
| Infrasonik | Kurang dari 20 Hz | Tidak Dapat Mendengar |
| Audiosonik | 20 Hz sampai 20.000 Hz | Dapat Mendengar Normal |
| Ultrasonik | Lebih dari 20.000 Hz | Tidak Dapat Mendengar |
Langkah Mengidentifikasi Perbedaan Karakteristik Gelombang Bunyi
Untuk memahami bagaimana gelombang-gelombang ini bekerja di sekitar kita, kita perlu melakukan identifikasi sistematis terhadap perilakunya. Sering kali dalam eksperimen lapangan, kesalahan umum yang saya lihat adalah menyamakan daya tembus gelombang rendah dengan gelombang tinggi.
Berikut adalah langkah-langkah logis untuk mengidentifikasi dan membedakan karakteristik jenis-jenis bunyi tersebut secara praktis:
- Uji Batas Frekuensi Rendah (Infrasonik)
Periksa apakah getaran berada di bawah angka 20 Hz. Gelombang infrasonik memiliki panjang gelombang yang sangat besar sehingga cenderung merambat amat jauh melalui media padat seperti tanah. Peristiwa getaran tanah saat gempa bumi merupakan contoh nyata di mana energinya terasa sebagai guncangan fisik, bukan sebagai suara di telinga. - Uji Batas Pendengaran Normal (Audiosonik)
Pastikan gelombang berada pada koridor 20 Hz hingga 20.000 Hz. Di sini Anda bisa mengukurberapa frekuensi suara yang bisa didengar manusia
secara optimal. Jika suara tersebut berupa vokal manusia atau alat musik, maka gelombang ini dipastikan berada di wilayah audiosonik yang ramah terhadap membran timpani kita. - Uji Batas Frekuensi Tinggi (Ultrasonik)
Deteksi gelombang yang berada di atas 20.000 Hz menggunakan mikrofon kondensor khusus yang mampu menangkap frekuensi tinggi. Karena frekuensinya sangat tinggi, gelombang ultrasonik memiliki panjang gelombang yang sangat pendek, membuatnya mudah dipantulkan oleh objek sekecil apa pun tanpa kehilangan banyak energi.
Sifat gelombang ultrasonik yang mudah memantul dan memiliki panjang gelombang sangat pendek menjadikannya alat pemindai objek yang sangat akurat di dalam ruang gelap atau media cair.
Dari pengalaman saya menangani kalibrasi alat sonar, memahami ketiga langkah identifikasi ini sangat krusial agar kita tidak salah memilih jenis sensor saat merancang sebuah sistem deteksi jarak objek.
Pemanfaatan Gelombang Ultrasonik dalam Dunia Medis
Pertanyaan yang sering muncul dari masyarakat awam adalah
cara kerja usg menggunakan gelombang apa
dalam memantau kondisi janin. Jawabannya terletak pada aplikasi langsung dari teknologi ultrasonik yang aman bagi tubuh.
Sistem Ultrasonografi (USG) bekerja dengan memancarkan gelombang berfrekuensi tinggi di atas 20.000 Hz ke dalam jaringan tubuh melalui sebuah alat bernama transduser. Saat gelombang ini mengenai batas antara jaringan yang memiliki kerapatan berbeda, sebagian gelombang akan dipantulkan kembali.
Transduser kemudian menangkap kembali pantulan tersebut dan mengirimkannya ke komputer untuk diolah menjadi gambar dua dimensi atau tiga dimensi secara real-time. Karena tidak menggunakan radiasi elektromagnetik berbahaya, teknologi ini menjadi pilihan utama dunia kedokteran untuk memantau perkembangan organ dalam tanpa efek samping negatif.
Dunia Hewan yang Mampu Merespons Suara Frekuensi Tinggi
Meskipun manusia terisolasi dari suara frekuensi tinggi, alam menyediakan kemampuan luar biasa bagi beberapa makhluk hidup. Pencarian mengenai
hewan yang bisa mendengar bunyi ultrasonik
menunjukkan betapa adaptifnya sistem pendengaran mahluk lain untuk bertahan hidup.
Kelelawar adalah contoh paling populer yang menggunakan prinsip ekolokasi. Hewan ini memancarkan jeritan ultrasonik saat terbang di malam hari, lalu mendengarkan pantulannya untuk mengetahui posisi mangsa dan menghindari tabrakan dengan dinding gua yang gelap.
Selain kelelawar, lumba-lumba di lautan juga mengandalkan gelombang serupa untuk berkomunikasi dan berburu di kedalaman air yang keruh. Sistem sonar alami mereka jauh lebih canggih daripada radar buatan manusia terkini.
Dampak Nyata Getaran Frekuensi Rendah di Alam
Bicara soal getaran, kita tidak boleh melupakan sisi ekstrem lainnya yaitu gelombang infrasonik yang berada di bawah 20 Hz. Berdasarkan laporan dokumentasi dari Ruangguru mengenai fenomena alam, getaran infrasonik masif kerap dilepaskan saat terjadi bencana geologis besar.
Sebagai contoh, kejadian spesifik gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter yang meluluhlantahkan Lombok melepaskan energi getaran infrasonik yang luar biasa besar. Guncangan dahsyat tersebut bahkan terasa kuat sampai ke Pulau Bali dan membuat bangunan di Lombok rata dengan tanah.
Meskipun masyarakat tidak mendengar suara menggelegar dari frekuensi infrasoniknya, efek mekanis dari getaran berfrekuensi rendah tersebut mampu merubuhkan struktur beton dalam hitungan detik akibat resonansi kinetik yang merusak.
Memahami karakteristik dari
perbedaan infrasonik audiosonik dan ultrasonik
membantu kita menyadari bahwa batasan pendengaran manusia hanyalah sebagian kecil dari spektrum gelombang yang ada di alam semesta. Penguasaan terhadap teknologi ultrasonik akan terus berkembang dan membuka pintu inovasi baru di masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow