Kementerian Kehutanan Terapkan Bayi Tabung Selamatkan Badak Kalimantan
Upaya penyelamatan badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) dari ancaman kepunahan kini memasuki babak baru melalui rencana penerapan teknologi reproduksi berbantuan atau program bayi tabung. Langkah ini diambil karena populasi subspesies tersebut dilaporkan hanya tersisa dua ekor betina bernama Pahu dan Pari Mahulu.
Dilansir dari Detikcom, badak betina bernama Pari yang memiliki kondisi relatif muda dan sehat akan mendapatkan perawatan intensif di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur. Kondisi fisik yang memadai menjadi modal utama bagi Pari untuk menjalani program bayi tabung tersebut.
Melalui metode reproduksi ini, sel telur dari badak Kalimantan betina akan diambil untuk disimpan serta dikembangkan. Walaupun saat ini tidak tersedia badak pejantan, sel telur tersebut diharapkan dapat memproduksi keturunan baru pada masa mendatang.
Proses penyelamatan satwa langka yang terancam punah ini melibatkan kerja sama dari berbagai pihak. Mulai dari kalangan ilmuwan, dokter hewan, petugas lapangan, hingga tokoh adat dan masyarakat lokal setempat.
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa agenda penyelamatan badak Kalimantan merupakan bagian dari program jangka panjang yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Satwa tersebut ditegaskan sebagai aset nasional yang wajib dilindungi oleh negara.
"Kalau kita tidak bertindak sekarang, mungkin 10 tahun lagi kita hanya bisa melihatnya di buku sejarah," kata Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto dilansir dari Antara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penyelamatan Badak Pari Mahakam Ulu (Mahulu) yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) pada Senin (8/6/2026).
Dukungan penuh terhadap program pelestarian ini juga mengalir dari masyarakat adat setempat yang memandang kelestarian satwa sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga keseimbangan alam.
"Hutan dan isinya adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat. Karena itu kami mendukung penuh agar satwa ini tidak punah sehingga keseimbangan alam tetap terjaga," ujar Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, Victor Juan.
Saat ini, badak Pahu berada dalam pengawasan ketat di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur. Di sisi lain, badak Pari masih hidup sendirian tanpa pasangan di kawasan hutan Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).
Kondisi Pari yang menjadi satu-satunya badak Kalimantan yang tersisa di alam liar menjadikannya pusat perhatian dunia konservasi. Jika proses evakuasi terlambat, terdapat risiko hilangnya materi genetik beserta jejak evolusi subspesies ini.
Guna menghindari skenario terburuk, Pari harus segera dipindahkan atau ditranslokasi menuju tempat yang lebih aman agar tidak lagi terisolasi di habitat aslinya.
Skenario Pemindahan Menggunakan Helikopter
Proses pemindahan Pari direncanakan menggunakan fasilitas helikopter khusus. Penggunaan moda transportasi udara ini ditujukan demi menjaga keamanan satwa dan menekan tingkat stres selama perjalanan.
Tim lapangan hingga kini terus memantau pergerakan badak Pari di dalam hutan Mahulu. Helikopter baru akan diterbangkan menuju titik aman setelah posisi satwa dipastikan dan tim penjebak telah siap di lokasi.
Kurnia Oktavia Khairani dari Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert) menjelaskan bahwa seluruh tahapan pemindahan tersebut mengacu pada standar internasional.
"Setiap langkah, mulai dari pemilihan vendor hingga pembuatan perangkap, diatur dengan standar internasional. Kami juga menyusun aturan komunikasi yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan," ucapnya.
Penyusunan Tempat Tinggal Baru Pari
Setelah dievakuasi dari Mahakam Ulu, Pari dijadwalkan menempati Suaka Badak Kelian di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Saat ini, pembangunan fasilitas boma atau kandang karantina sedang diselesaikan.
Pari akan menjalani masa perawatan dan adaptasi di fasilitas boma selama kurang lebih tiga bulan. Selama periode tersebut, tim ahli akan melakukan pemeriksaan kesehatan total serta mempelajari karakter dan perilaku satwa.
"Di sana, Pari akan dirawat selama tiga bulan untuk menyesuaikan diri. Tak jauh dari situ, sebuah kandang besar yang disebut paddock juga sedang dibangun khusus untuknya," ujar Kurnia.
Kurnia menambahkan bahwa kandang eksklosur besar atau paddock tersebut nantinya akan berfungsi sebagai tempat tinggal permanen bagi badak betina tersebut.
Proteksi terhadap Habitat Alami
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menegaskan bahwa wilayah hutan yang menjadi habitat asli Pari di Mahulu akan tetap diproteksi secara ketat.
Kawasan tersebut bakal diusulkan untuk beralih status menjadi Areal Preservasi. Kawasan lindung khusus ini diproyeksikan menjadi tempat pelepasan bagi generasi baru badak Kalimantan apabila program reproduksi buatan berhasil dilaksanakan.
Melalui strategi ini, anak-anak badak yang lahir dari intervensi sains dan teknologi di masa depan dipastikan memiliki habitat alami yang aman untuk tumbuh berkembang.
"Kita tidak mengambil badak lalu meninggalkan hutannya begitu saja. Hutan ini tetap terjaga agar tidak rusak karena diusulkan menjadi kawasan preservasi," ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow