Kesenian Sandur Berasal dari Mana? Intip Rahasia dan Riwayat Kelam Seni Tradisional Jatim

Smallest Font
Largest Font

Pertanyaan mengenai kesenian sandur berasal dari mana sering kali memicu perdebatan menarik di kalangan pencinta budaya nusantara karena keterikatannya yang kuat dengan wilayah Jawa Timur dan Madura. Sebagai pengamat seni budaya, saya melihat seni pertunjukan rakyat ini memiliki daya pikat magis sekaligus menyimpan rekam jejak sejarah yang luar biasa kompleks. Eksistensi kesenian sandur bukan sekadar hiburan visual semata, melainkan refleksi kehidupan agraris yang mengakar kuat di tanah kelahirannya.

Keunikan struktur pertunjukan dan nilai ritual di dalamnya membuat kesenian ini diakui secara nasional sebagai warisan leluhur yang tak ternilai harian. Tahun 2018 menjadi tonggak sejarah penting ketika Sandur secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan negara ini menegaskan bahwa nilai historis dan kultural yang dikandungnya sangat tinggi, sekaligus menjadi benteng pelestarian agar tidak punah ditelan zaman.

Bila kita melacak akar historisnya, jejak awal mula permainan rakyat ini diyakini sudah eksis sejak era Kerajaan Majapahit. Kehadirannya pada masa itu berfungsi sebagai media hiburan bagi masyarakat jelata sekaligus bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Arti Kata Sandur Jawa dan Filosofi yang Dikandungnya

Membahas asal-usulnya tentu tidak luput dari arti kata sandur jawa itu sendiri yang memiliki makna filosofis mendalam dalam konteks masyarakat agraris. Berdasarkan tradisi lisan, kata "sandur" kerap dikaitkan dengan aktivitas bertani dan tatanan sosial masyarakat komunal di pedalaman Jawa Timur.

Secara tekstual, ragam interpretasi muncul dari berbagai daerah, termasuk wilayah pertunjukan sandur tuban dan sekitarnya. Karakteristik pertunjukan ini memadukan unsur tari, musik, drama, dan ritual gaib yang menyatu dalam ruang pertunjukan berbentuk lingkaran.

Transformasi Kesenian Salabadhan Menjadi Sandur Bangkalan

Fenomena menarik juga terjadi di Pulau Garam, di mana masyarakat sering bertanya tentang apa itu kesenian sandur madura dan bagaimana keterkaitannya dengan versi daratan Jawa. Kesenian ini ternyata memiliki sejarah metamorfosis yang sangat spesifik di wilayah Madura barat.

Lebih dari 50 tahun lalu, masyarakat Madura sebenarnya telah mengenal cikal bakal kesenian ini dengan nama kesenian Salabadhan. Kesenian Salabadhan asal-usul Sandur di Bangkalan tersebut bertransformasi secara kultural seiring waktu berjalan.

Tepat menjelang pemilu tahun 1977, kesenian asal Bangkalan yang sebelumnya bernama Salabadhan tersebut resmi berubah nama menjadi Sandur. Perubahan nama ini menandai babak baru adaptasi seni pertunjukan Madura dalam merespons dinamika politik dan sosial pada masa itu.

Puncak Kejayaan dan Riwayat Kelam Kesenian Sandur

Seperti roda yang berputar, nasib para pegiat seni tradisional ini sempat mengalami pasang surut yang sangat ekstrem di panggung sejarah Indonesia. Konteks politik masa lalu memberikan dampak yang sangat masif bagi kelangsungan hidup para senimannya.

Masa Emas Kesenian Sandur di Era Orde Lama

Seni pertunjukan rakyat ini pernah menikmati masa-masa keemasan yang luar biasa di tengah masyarakat pedesaan. Periode 1950–1965 atau sekitar tahun 1960–1964 menjadi saksi di mana Sandur mencapai puncak popularitas dan kejayaannya.

Pada era Orde Lama tersebut, kelompok-kelompok sandur sangat produktif dan selalu dinanti oleh warga dalam setiap hajatan atau bersih desa. Seni ini menjadi primadona pertunjukan rakyat yang memiliki pengaruh massa sangat kuat di akar rumput.

Tragedi Politik 1965 dan Tuduhan Afiliasi Lekra

Namun, kegemilangan itu runtuh dalam sekejap akibat pergolakan politik nasional yang mencekam. Pascaperistiwa G30S (1965), kesenian sandur mengalami kemunduran drastis akibat stigmatisasi politik yang menghancurkan struktur komunitas mereka.

Alasan utama kenapa tari sandur dilarang tahun 1965 adalah karena seni rakyat ini dituduh berafiliasi dengan PKI melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Stigma sejarah sandur pki ini membuat para senimannya ketakutan, membubarkan diri, dan mengubur instrumen musik mereka demi keselamatan nyawa.

Stigmatisasi politik pasca-1965 melumpuhkan regenerasi kesenian sandur selama puluhan tahun, meninggalkan trauma mendalam bagi para maestro yang tersisa di pedesaan.

Banyak seniman yang terpaksa berhenti total karena tekanan eksternal dan pengawasan ketat dari aparat keamanan pada masa awal Orde Baru. Hal inilah yang menyebabkan eksistensi sandur sempat mati suri dan menghilang dari ingatan publik selama beberapa generasi.

G30S: Sandur, seni tradisional yang distigma PKI kini bangkit setelah sempat terkubur | BBC News Indonesia

Dokumentasi Akademis dan Upaya Penyelamatan Tradisi

Mengingat sejarahnya yang fluktuatif, perhatian dari dunia akademis menjadi salah satu pilar penting dalam merekonstruksi fakta-fakta kebudayaan seputar sandur. Berbagai penelitian antropologi mulai menyingkap tabir masa lalu kesenian ini. Salah satu dokumentasi ilmiah yang tersimpan rapi dapat ditemukan di Repository Universitas Airlangga. Terdapat sebuah skripsi mendalam mengenai eksistensi Sandur yang didepositkan pada tanggal 14 September 2016 oleh peneliti bernama Achmad Rifkian Bagas Waras.

Achmad Rifkian Bagas Waras merupakan mahasiswa Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 071211731074. Dokumen KKB KK-2 tersebut tercatat dengan nomor dokumen/informasi tambahan FIS.ANT.79/16 War m, dan versi digitalnya telah dimodifikasi terakhir pada 19 Desember 2017. Bagi publik yang ingin mendalami kajian antropologis ini, file unduhan skripsi tersebut tersedia dalam tiga ukuran dokumen berturut-turut, yaitu 156kB untuk Abstrak, 481kB untuk Lampiran, dan 3MB untuk Fulltext. Data akademis seperti ini sangat krusial agar generasi muda tidak kehilangan kompas sejarah mengenai asal usul tari sandur.

Perbedaan Karakteristik Sandur Berdasarkan Wilayah

Meskipun memiliki nama yang mirip, manifestasi sandur di berbagai daerah di Jawa Timur memiliki perbedaan spesifik yang cukup mencolok, baik dari segi fungsi ritus maupun instrumen pertunjukan.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai perbedaan karakteristik pertunjukan rakyat ini, saya telah merangkum beberapa data penting berdasarkan pelacakan fakta kultural di lapangan.

Karakteristik Kesenian Sandur di Berbagai Wilayah Jawa Timur dan Madura
Aspek PembedaSandur Daerah Bojonegoro / TubanSandur Daerah Bangkalan Madura
Akar Nama TradisionalSandur (Dolanan Rakyat)Salabadhan (Lebih dari 50 tahun lalu)
Fungsi DominanRitual Pertanian & Bersih DesaHajatan Remoh & Hiburan Sosial
Status Warisan BudayaDitetapkan Nasional (2018)Ditetapkan Nasional (2018)
Karakteristik MusikGamelan Sederhana & SenggakanKendang Madura & Dialog Khas

Melalui tabel di atas, terlihat jelas bahwa pembagian wilayah kultural membentuk keunikan tersendiri. Sandur di kawasan pedalaman cenderung mempertahankan ritus agraris, sedangkan versi Madura bertransformasi adaptif dari struktur kesenian Salabadhan purba.

Dedikasi Sang Maestro di Ujung Usia

Upaya menghidupkan kembali sandur bojonegoro dari abu sejarah tidak lepas dari perjuangan gigih para seniman tradisi yang konsisten menolak tunduk pada modernisasi yang meminggirkan kebudayaan lokal. Salah satu pejuang kebudayaan yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat kesenian ini adalah mendiang Djagad Pramudjito. Keberaniannya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sandur patut mendapat apresiasi tertinggi dari generasi hari ini.

Pada Juni 2024, BBC News Indonesia sempat menemui Djagad Pramudjito secara langsung di kediamannya yang bersahaja di Desa Ledok Kulon, Bojonegoro, Jawa Timur. Pertemuan tersebut berlangsung sangat emosional, tepat beberapa minggu sebelum sang maestro mengembuskan napas terakhirnya.

Djagad Pramudjito meninggal dunia pada usia 66 tahun, meninggalkan warisan pemikiran dan semangat yang membara bagi komunitas sandur bojonegoro. Dedikasi tokoh-tokoh sepuh seperti beliau menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa seni tradisi menuntut komitmen nyata, bukan sekadar komodifikasi pariwisata sesaat.

Kekurangan terbesar dalam ekosistem pelestarian saat ini menurut saya adalah minimnya ruang regenerasi formal bagi anak muda untuk mempelajari pakem-pakem asli sandur tanpa kehilangan relevansi zaman. Jika pemerintah daerah hanya fokus pada festival seremonial tahunan tanpa membangun sekolah atau sanggar komunitas yang berkelanjutan di tingkat desa, maka kepunahan total sandur pasca-generasi Djagad Pramudjito hanyalah tinggal menunggu waktu saja.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed