Gagasan Sumpah Pemuda Mengapa Bahasa Melayu Diusulkan Jadi Bahasa Persatuan
Bagaimana gagasan besar yang mengusulkan anjuran agar penduduk yang mendiami nusantara ini menggunakan bahasa melayu bisa muncul? Pertanyaan ini membawa kita kembali pada dinamika pergerakan pemuda pelajar di awal abad ke-20 yang mendambakan persatuan sejati. Sebagai praktisi sejarah dan pengamat literasi, saya sering melihat kekeliruan umum di mana masyarakat menganggap bahasa Indonesia lahir secara instan tanpa perdebatan.
Kenyataannya, jalan menuju kesepakatan bahasa persatuan memerlukan proses diskusi yang mendalam di kalangan intelektual muda. Dalam kasus yang sering saya temui dalam literatur sejarah, usulan penggunaan bahasa Melayu merupakan langkah strategis yang sangat logis pada masanya. Pemilihan ini didasarkan pada fleksibilitas dan luasnya penggunaan bahasa tersebut di wilayah kepulauan.
Kesadaran untuk bersatu tidak muncul dalam semalam, melainkan dipicu oleh lahirnya berbagai organisasi pemuda pelajar di berbagai daerah. Kehadiran Boedi Oetomo sering dianggap sebagai kelahiran kebangkitan kaum pelajar karena organisasi ini menjadi semangat bagi para pemuda pelajar untuk berorganisasi.
Semangat berorganisasi ini kemudian merembet ke berbagai kelompok wilayah dan suku di Nusantara. Salah satu organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam pergerakan ini adalah Tri Koro Dharmo yang kemudian mengubah namanya menjadi Jong Java. Organisasi tersebut memiliki landasan perjuangan yang jelas dalam membina pemuda.
Berdasarkan catatan sejarah, apa saja asas tri koro darmo yang menjadi pedoman mereka? Berikut adalah poin-poin utamanya:
- Membangun pertalian antarmurid bumi putera di berbagai sekolah.
- Peningkatan pengetahuan umum bagi anggotanya.
- Membangkitkan minat terhadap bahasa dan budaya di wilayah Indonesia.
Dari asas-asas tersebut, terlihat jelas bahwa perhatian terhadap bahasa dan budaya sudah tertanam sejak awal pergerakan. Pola ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh organisasi pemuda lain yang lahir setelahnya.
Sejarah Jong Sumatranen Bond dan Pemicu Gagasan Bahasa
Melangkah ke tahun 1917, berdiri sebuah persatuan pemuda pelajar bernama Jong Sumatranen Bond di Jakarta. Organisasi persatuan pemuda pelajar yang berasal dari Sumatera ini didirikan di Jakarta pada tahun 1917, dan memiliki anggota yang cukup besar.
Jong Sumatranen Bond menjadi wadah berkumpulnya para intelektual muda berbakat yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Di dalam organisasi inilah gagasan-gagasan visioner mengenai masa depan politik dan budaya Nusantara mulai digodok secara matang.
Beberapa tokoh nasional asal Sumatera yang lahir dari rahim organisasi ini antara lain Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan Bahder Johan. Ketiganya memiliki andil besar dalam merumuskan arah perjuangan kemerdekaan.
Sejarah Jong Sumatranen Bond menunjukkan bahwa pembentukan identitas regional merupakan anak tangga yang diperlukan sebelum para pemuda melangkah ke jenjang identitas nasional yang lebih luas.
Pada kongres ketiga Jong Sumatranen Bond, sebuah momentum penting bagi sejarah bahasa nasional terjadi. Mohammad Yamin melontarkan pemikiran berupa anjuran agar penduduk Nusantara menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dan bahasa persatuan.
Pemikiran Mohammad Yamin ini menjadikannya salah satu pencetus bahasa persatuan indonesia yang paling vokal sebelum pelaksanaan Kongres Pemuda. Pemilihan bahasa Melayu bukan tanpa alasan, mengingat bahasa ini telah berabad-abad menjadi lingua franca di pasar dan pelabuhan seluruh Nusantara.
Langkah Strategis Menuju Kongres Pemuda
Gagasan yang bermula dari lingkungan Jong Sumatranen Bond ini tidak berhenti di dalam ruang kongres mereka saja. Para pemuda menyadari bahwa untuk menyatukan seluruh penduduk, mereka membutuhkan kerja sama lintas organisasi. Memasuki awal tahun 1927, sejumlah pemuda di Bandung mendirikan perkumpulan Jong Indonesia. Organisasi ini memiliki tujuan yang sangat tegas, yaitu menyebarkan dan memperkuat cita-cita kebangsaan Indonesia Bersatu.
Pertumbuhan organisasi yang pesat ini mendorong perlunya sebuah pertemuan besar berskala nasional. Pertemuan gabungan inilah yang kemudian dikenal sebagai Kongres Pemuda yang melibatkan seluruh elemen pergerakan di tanah air. Mari kita lihat kronologi berdirinya organisasi kepemudaan yang menjadi pilar pergerakan nasional melalui data berikut.
| Nama Organisasi | Tahun Berdiri | Tempat Berdiri |
|---|---|---|
| Jong Sumatranen Bond | 1917 | Jakarta |
| Jong Indonesia | 1927 | Bandung |
Melalui koordinasi yang intensif antarorganisasi tersebut, gagasan untuk mengadakan pertemuan nasional yang lebih besar mulai dimatangkan oleh para tokoh pemuda. Langkah ini menjadi fase krusial dalam menyatukan visi kebangsaan.
Sumpah Pemuda dan Peresmian Bahasa Persatuan
Puncak dari segala rangkaian pergerakan dan diskusi bahasa ini terjadi pada akhir Oktober 1928. Kongres Pemuda II menetapkan Sumpah Pemuda serta ketetapan lainnya, di mana organisasi kepemudaan menjadi penggagas diselenggarakannya kongres ini.
Dalam kongres bersejarah tersebut, gagasan awal Mohammad Yamin mengenai asal usul bahasa melayu jadi bahasa indonesia akhirnya diresmikan. Melalui ikrar ketiga Sumpah Pemuda, para pemuda sepakat menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, yang akarnya adalah bahasa Melayu. Keputusan para tokoh sumpah pemuda untuk memilih bahasa Melayu, dan bukan bahasa daerah dengan penutur terbanyak seperti bahasa Jawa, adalah keputusan politik yang sangat jenius.
Langkah ini berhasil menghindari dominasi etnis dan menjaga kesetaraan di antara seluruh suku bangsa. Kesalahan umum yang saya lihat dalam pemahaman sejarah modern adalah mengabaikan ego kesukuan yang berhasil ditekan oleh para pemuda demi mewujudkan integrasi nasional ini. Tanpa kebesaran hati para utusan daerah, persatuan bahasa ini tidak akan pernah terwujud.
Melalui penetapan resmi di Kongres Pemuda II, bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu berhasil bertransformasi dari sekadar alat komunikasi perdagangan menjadi simbol kedaulatan politik. Bahasa ini mengikat ratusan suku bangsa di bawah satu identitas nasional yang kokoh hingga hari ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow