Mursalim Tinggal di Bekas Dapur Gula Aren Berlantai Tanah Tanpa Listrik
Mursalim yang berusia 45 tahun terpaksa menjalani kehidupan memprihatinkan dengan tinggal di sebuah bangunan bekas dapur pembuatan gula aren di Kabupaten Luwu. Hunian yang jauh dari kata layak ini menjadi sorotan karena tidak memiliki fasilitas dasar penunjang kehidupan yang memadai. Kondisi tempat tinggal pria paruh baya ini sangat memprihatinkan dengan ukuran bangunan yang hanya mencapai 3x4 meter.
Bangunan tersebut didirikan tanpa adanya alas pertapakan yang layak, sehingga membuat tanah langsung menjadi lantainya tanpa lapisan semen atau ubin. Selain masalah pada bagian lantainya yang langsung menyatu dengan bumi, bangunan ini juga tidak tersentuh oleh jaringan utilitas publik. Mursalim harus bertahan hidup di dalam bangunan sempit tersebut tanpa adanya aliran listrik sama sekali dari pihak otoritas penyedia energi.
Untuk menerangi ruangan di kala malam hari, Mursalim sangat bergantung pada alat penerangan tradisional berupa pelita. Penggunaan alat penerangan ini memakan biaya yang cukup tinggi di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapinya setiap hari.
Berdasarkan informasi di lapangan, harga minyak tanah untuk bahan bakar pelita tersebut mencapai Rp15 ribu per botol kecil. Biaya harian ini menjadi beban tambahan yang sangat berat bagi warga yang hidup di bawah garis kemiskinan tersebut.
Daftar Keterbatasan Fasilitas Hunian Mursalim
- Luas total bangunan hunian hanya sebesar 3x4 meter
- Konstruksi bangunan tidak memiliki ubin dan tanah langsung menjadi lantainya
- Akses energi tidak tersedia karena tanpa aliran listrik
- Penerangan malam hari menggunakan pelita minyak tanah
Dampak Ketiadaan Akses Informasi dan Hiburan
Ketiadaan pasokan listrik di dalam rumah beralaskan tanah tersebut secara otomatis memutus akses komunikasi dan hiburan bagi penghuninya. Mursalim tidak dapat mengakses siaran informasi yang saat ini sudah beralih sepenuhnya ke sistem penyiaran modern.
Sebagai contoh, masyarakat umum saat ini sudah menikmati perpindahan channel TV digital KompasTV ke Channel 11 sejak tanggal 1 Februari 2026. Namun, perubahan teknologi dan kemudahan akses informasi tersebut sama sekali tidak bisa dirasakan oleh Mursalim di gubuknya.
Berikut adalah rincian perbandingan kondisi ideal hunian masyarakat dibandingkan dengan situasi riil yang dihadapi oleh Mursalim saat ini:
| Parameter Fasilitas | Kondisi Rumah Layak | Kondisi Rumah Mursalim |
|---|---|---|
| Konstruksi Bagian Bawah | Ubin Semen atau Keramik | Tanah Langsung Jadi Lantainya |
| Sumber Penerangan Utama | Listrik PLN | Pelita Minyak Tanah |
| Akses Informasi Digital | Tersedia TV Digital | Tidak Ada Akses Siaran |
| Biaya Energi Bulanan | Sesuai Tarif Subsidi | Rp15 Ribu per Botol Kecil |
Konteks Kasus Kemiskinan Ekstrem Lainnya
Kasus yang menimpa Mursalim ini menambah panjang daftar warga tidak mampu yang hidup sebatang kara dengan kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan di berbagai daerah. Pola kehidupan dengan keterbatasan struktur bangunan ini juga ditemukan pada wilayah lain. Sebelumnya, perangkat desa dan kecamatan sempat melakukan kunjungan ke rumah Syafi'i pada Senin, 29 Juni 2026 yang juga hidup sebatang kara. Fenomena warga miskin dengan kondisi hunian beralaskan tanah ini terus menjadi perhatian serius dari berbagai pihak.
Masalah hunian tidak layak ini juga mirip dengan kisah Nurdin, seorang kakek berusia 70 tahun di Lebak yang tinggal sebatang kara di rumah reyot. Istri Nurdin diketahui telah wafat sekitar 4 tahun yang lalu dari tahun 2026 ini, berdasarkan data pada Rabu, 1 Juli 2026. Pemerintah sendiri terus berupaya melakukan intervensi melalui program penanganan rumah tidak layak huni di tingkat nasional. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR RI pada Kamis, 25 Juni 2026, persoalan pemenuhan infrastruktur papan bagi warga miskin ini kembali ditegaskan sebagai prioritas kerja mutlak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow