Nabi dan Rasul Mempunyai Sifat Jaiz Maksudnya Adalah Begini Penjelasan Lengkapnya

Smallest Font
Largest Font

Nabi dan rasul mempunyai sifat jaiz maksudnya adalah karakteristik kemanusiaan biasa yang ada pada diri mereka tanpa mengurangi kedudukan mulia sebagai utusan Allah SWT. Pertanyaan seperti "sifat jaiz rasul artinya apa" sering muncul ketika seseorang ingin memperdalam ilmu tauhid secara benar.

Dalam memahami konsep akidah, pemahaman mengenai sifat-sifat utusan Allah menjadi fondasi penting bagi keimanan. Umat Muslim wajib mengetahui apa saja yang melekat pada diri para utusan-Nya agar tidak salah dalam menempatkan kedudukan mereka.

Secara bahasa, kata jaiz memiliki arti boleh atau mungkin terjadi. Dalam ilmu tauhid, sifat jaiz pada rasul merujuk pada segala perilaku atau kondisi yang bersifat manusiawi yang dialami oleh para nabi selama hal tersebut tidak menurunkan derajat kenabian mereka.

Sifat ini menjadi pembeda yang sangat jelas antara makhluk dan Sang Pencipta. Sifat jaiz menegaskan bahwa meskipun menerima wahyu, para nabi tetaplah seorang manusia, bukan malaikat atau makhluk gaib lainnya yang tidak memiliki kebutuhan biologis.

Pengertian Aradhul Basyariyah

Para ulama tauhid merangkum sifat jaiz ini ke dalam satu istilah utama yang disebut dengan Aradhul Basyariyah atau Al-ardul Basyariyah. Istilah ini secara harfiah berarti tabiat atau karakteristik kemanusiaan.

Dari pengalaman saya mengamati pembelajaran akidah, kesalahan umum yang saya lihat adalah sebagian orang menganggap nabi tidak bisa merasakan sakit atau lelah karena perlindungan Allah. Padahal, mengalami dinamika fisik seperti manusia biasa merupakan inti dari sifat jaiz itu sendiri.

Jumlah Sifat Jaiz Rasul

Berbeda dengan sifat wajib atau sifat mustahil yang memiliki beberapa poin turunan, sifat jaiz bagi para utusan Allah ini jumlahnya sangat terbatas. Berdasarkan kesepakatan para ulama, hanya ada 1 sifat jaiz bagi rasul, yaitu Aradhul Basyariyah tersebut.

Satu sifat ini sudah mencakup seluruh spektrum kehidupan manusia normal. Mulai dari urusan biologis, kesehatan fisik yang fluktuatif, hingga emosi manusiawi yang terkontrol dengan baik.

Rincian Contoh Sifat Jaiz dalam Kehidupan Nyata

Untuk memahami bagaimana karakteristik kemanusiaan ini bekerja pada diri para nabi, kita bisa melihat aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan. Segala hal yang dialami manusia biasa juga terjadi pada diri mereka tanpa merusak kesucian tugas kenabian.

Berikut adalah beberapa contoh sifat jaiz bagi rasul yang tercatat dalam sejarah kehidupan mereka:

  • Kebutuhan Fisiologis: Mengalami rasa lapar, haus, serta membutuhkan makan dan minum untuk menjaga energi tubuh.
  • Siklus Istirahat: Merasakan letih setelah beraktivitas dan membutuhkan tidur untuk memulihkan stamina fisik.
  • Kondisi Kesehatan: Bisa mengalami sakit yang sifatnya ringan atau tidak menular, seperti demam atau sakit kepala biasa.
  • Hubungan Sosial: Melangsungkan pernikahan, membangun keluarga, serta melakukan transaksi perdagangan di pasar.
  • Emosi Manusiawi: Merasakan kesedihan ketika kehilangan anggota keluarga atau merasa gembira pada momen-momen tertentu.

Dalam kasus yang sering saya temui di buku-buku daras, pembaca terkadang bingung membedakan sakit yang boleh dialami nabi. Sakit yang dialami nabi tidak boleh jenis penyakit yang membuat orang menjauh atau merasa jijik, karena hal itu bisa mengganggu tugas menyampaikan dakwah.

Sifat Jaiz Para Nabi Memiliki Kemanusiaan yang Tidak Mengurangi Derajat Kemuliaan | Mukha kikin

Landasan Dalil Al-Qur'an Terkait Sifat Kemanusiaan Rasul

Karakteristik manusiawi para nabi bukan sekadar asumsi logika, melainkan ditegaskan langsung dalam berbagai ayat suci Al-Qur'an. Allah SWT sengaja mengutus manusia agar menjadi teladan yang realistis bagi kaumnya.

Melalui firman-Nya, Allah menjawab keraguan orang-orang kafir zaman dahulu yang sering mempertanyakan "mengapa nabi memiliki sifat seperti manusia" dan bukan dari kalangan malaikat.

Klarifikasi Asal-Usul Para Nabi

Dalam Surah Yusuf ayat 109, Allah SWT secara tegas memberikan pernyataan mengenai asal-usul para utusan yang dikirim ke dunia. Ayat ini menjelaskan bahwa para nabi berasal dari golongan manusia laki-laki yang diberikan wahyu, bukan dari bangsa malaikat.

Konteks ini menunjukkan bahwa pemilihan manusia sebagai rasul bertujuan agar hukum-hukum agama dapat diterapkan secara logis oleh manusia lainnya. Jika utusan tersebut adalah malaikat, manusia tentu memiliki alasan untuk tidak menirunya karena perbedaan tabiat penciptaan.

Aktivitas Harian Para Utusan Terdahulu

Selanjutnya, gambaran mengenai keseharian para utusan Allah dijabarkan dalam Surah Al-Furqan ayat 20. Ayat tersebut menjelaskan bahwa nabi terdahulu juga makan makanan dan berjalan di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Hal senada juga diperkuat dalam Surah Al-Mu’minun ayat 33. Ayat ini menjelaskan nabi adalah manusia yang makan dan minum seperti manusia lainnya, sebuah penegasan mutlak mengenai sifat aradhul basyariyah.

Perbedaan Karakteristik Sifat Para Rasul

Untuk memetakan pemahaman akidah secara utuh, umat Muslim perlu melihat perbedaan sifat wajib dan sifat jaiz nabi, serta sifat mustahil yang tidak mungkin ada pada diri mereka. Ulama besar seperti Sayyid Husain Afandi al-Jasr at-Tharabalusi telah menjelaskan klasifikasi ini secara rinci dalam kitabnya.

Menurut penjelasan dalam ilmu tauhid, berikut adalah pembagian sifat-sifat yang ada pada diri para nabi dan rasul:

Perbandingan Klasifikasi Sifat-Sifat Nabi dan Rasul Allah
Kategori SifatJumlah SifatArti dan Makna DasarContoh Sifat
Sifat Wajib4Sifat yang mutlak harus ada pada rasulShiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah
Sifat Mustahil4Sifat yang tidak mungkin ada pada rasulKidzib, Khiyanah, Kitman, Baladah
Sifat Jaiz1Karakteristik kemanusiaan yang diperbolehkanAradhul Basyariyah

Sifat wajib seperti Shiddiq yang berarti jujur atau benar dibuktikan dalam kisah nyata. Sebagai contoh, Surah Maryam ayat 41 mengisahkan tentang Nabi Ibrahim AS sebagai seorang yang jujur (shiddiq) dan seorang nabi. Kebalikan dari sifat wajib adalah sifat mustahil seperti Kidzib (dusta) atau Kitman (menyembunyikan wahyu) yang mustahil dilakukan oleh utusan Allah.

Kedudukan Akhir Kenabian dalam Islam

Keimanan kepada nabi dan rasul merupakan pilar utama dalam akidah Islam. Ini merupakan bagian dari Rukun Iman Keempat, yaitu iman kepada nabi dan rasul Allah SWT dengan membenarkan lewat lisan, hati, dan perbuatan nyata.

Namun, dalam mengimani para utusan tersebut, umat Muslim juga wajib mengetahui batas akhir dari mata rantai silsilah kenabian agar terhindar dari kesesatan atau pengakuan nabi palsu di era modern.

Tanda Penutup Para Nabi dalam Al-Qur'an

Informasi mengenai berakhirnya utusan Allah di muka bumi telah dikunci secara permanen melalui wahyu. Tanda penutup para nabi dalam al quran tercantum secara eksplisit dalam mushaf suci.

Melalui Surah Al-Ahzab ayat 40, Allah SWT menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah dan penutup para nabi, sehingga tidak ada nabi setelahnya. Berdasarkan rujukan dari tulisan di laman islam.nu.or.id dan kumparan.com, ayat ini mengakhiri segala bentuk klaim kenabian baru hingga akhir zaman.

Memahami sifat jaiz membuat kita sadar bahwa para nabi adalah sosok teladan yang dekat dengan realitas kehidupan kita. Mereka merasakan lelah, lapar, dan sakit, namun tetap mampu menjalankan ketaatan tertinggi kepada Allah SWT, sehingga menjadi cerminan sempurna bagi manusia biasa dalam beribadah sehari-hari.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow