Pangeran Antasari Pimpin Serangan Pengaron Tandai Pecahnya Perang Banjar

Smallest Font
Largest Font

Pasukan rakyat yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara Oranje-Nassau di Pengaron, Kalimantan Selatan, sebagai titik awal pecahnya Perang Banjar melawan penjajahan Belanda.

Peristiwa bersejarah tersebut tercatat meletus secara masif pada 28 April 1859.

Serangan ini menjadi respons puncak atas akumulasi kemarahan rakyat terhadap intervensi asing di Kesultanan Banjar.

Hubungan antara Kesultanan Banjar dan Belanda sebenarnya sudah terjalin sejak pertengahan abad ke-18. Namun, ketegangan politik terus meningkat dari generasi ke generasi akibat campur tangan Belanda dalam urusan internal istana.

Krisis internal ini diperparah oleh konflik suksesi kekuasaan masa lalu.

Pada periode 1761–1801, wilayah ini berada di bawah masa kekuasaan Sultan Tahmidullah II atau yang dikenal sebagai Pangeran Nata. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1785, Pangeran Nata mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II dan membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad demi mengamankan takhta.

Benih konflik internal tersebut terus berlanjut hingga beberapa dekade berikutnya.

Ketika Sultan Adam meninggal dunia pada tahun 1857, beliau meninggalkan wasiat mengenai kepemimpinan kesultanan. Ketidakpuasan rakyat memuncak ketika Belanda ikut campur dalam menentukan penerus takhta, yang mengabaikan wasiat sah tersebut demi keuntungan politik dan ekonomi sepihak kolonial.

Tokoh Perang Banjar dan Pergerakan Pasukan

Perlawanan bersenjata akhirnya dikobarkan secara umum oleh para bangsawan dan rakyat pada April 1859. Pangeran Antasari muncul sebagai figur sentral sekaligus siapa pemimpin perang banjar yang terkenal dalam memobilisasi kekuatan massa di berbagai wilayah.

Pergerakan pasukan rakyat terorganisasi dengan sangat cepat.

Pada Mei 1859, pasukan Banjar di bawah kepemimpinan Pangeran Antasari bahkan berhasil memperluas wilayah pergerakan hingga menguasai seluruh Martapura. Keberhasilan ini sempat memukul mundur dominasi militer kolonial di sektor-sektor strategis.

Selain Pangeran Antasari, terdapat beberapa tokoh penting lain yang menggerakkan roda perlawanan rakyat melawan penjajah:

  • Pangeran Hidayatullah II
  • Demang Lehman
  • Pangeran Perbatasari
Demang Lehman Pahlawan Banjar yang Paling Ditakuti Belanda | Kisah Kesultanan

Garis Waktu Perlawanan dan Intervensi Belanda

Tekanan yang diberikan oleh pasukan rakyat memaksa Belanda melakukan tindakan darurat di struktur pemerintahan demi meredam gejolak sosial.

Dua bulan setelah serangan April 1859, tepatnya pada Juni 1859, Sultan Tamjidillah II secara resmi dimakzulkan oleh Belanda demi meredakan situasi politis yang kian memanas.

Kendati demikian, pihak kolonial terus memburu para pemimpin gerilya melalui berbagai taktik taktis dan tipu muslihat.

Kronologi penangkapan dan jalannya perlawanan para tokoh utama terekam dalam lini masa sejarah berikut:

Daftar Peristiwa Penting Fase Perang Banjar
TahunPeristiwa / Kejadian Sejarah
1859Pecahnya Perang Banjar melalui serangan ke tambang batu bara Pengaron.
1862Sultan Hidayatullah II ditangkap Belanda di awal tahun karena terjebak tipu daya.
1863Berakhirnya fase perlawanan ofensif secara terbuka melawan pasukan kolonial.
1885Pangeran Perbatasari diserahkan kepada Belanda oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman.

Fase perlawanan secara ofensif dan terbuka dari struktur komando utama memang dinilai berakhir pada tahun 1863. Meskipun demikian, sisa-sisa kekuatan rakyat dan pejuang militan di pedalaman Kalimantan tetap melanjutkan perang gerilya dalam waktu yang panjang demi mempertahankan kedaulatan tanah Banjar.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow