Akar Konflik Militer 1950 Mengapa Kapten Andi Azis Memilih Angkat Senjata

Smallest Font
Largest Font

Akar konflik militer pasca-kemerdekaan sering kali membingungkan, termasuk mengenai alasan utama mengapa Kapten Andi Azis memilih angkat senjata melawan pemerintah pusat di Makassar pada tahun 1950. Peristiwa ini bukan sekadar pembangkangan biasa, melainkan sebuah respons keras terhadap kebijakan integrasi angkatan perang yang dinilai menyudutkan mantan tentara kolonial.

Memahami dinamika politik dan militer pada masa transisi dari Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat penting untuk melihat peta konflik ini secara utuh. Ketegangan psikologis dan politik di dalam tubuh militer menjadi pemantik utama yang menggerakkan ratusan pasukan di Sulawesi Selatan.

Latar belakang pemberontakan andi azis berakar langsung dari hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung pada 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag. Berdasarkan laporan sejarah yang dikutip dari Zenius, KMB menetapkan bahwa Indonesia berubah wujud menjadi Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri atas 16 negara federasi, termasuk Negara Indonesia Timur (NIT).

Masalah besar muncul ketika pemerintah membentuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), yang mengombinasikan dua unsur militer yang sebelumnya saling berhadapan dalam perang kemerdekaan. Unsur tersebut adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tentara tentara kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL).

Dari pengalaman saya menganalisis dinamika sejarah militer, menyatukan dua kelompok yang baru saja saling tembak dalam sebuah wadah resmi selalu memicu resistensi yang tinggi. Sentimen ketidakpercayaan ini diperparah oleh gelombang tuntutan masyarakat di Makassar yang menginginkan pembubaran NIT dan pembentukan kembali negara kesatuan.

Penolakan Masuknya Pasukan TNI ke Makassar

Pada awal tahun 1950, tuntutan agar NIT membubarkan diri dan bergabung dengan NKRI semakin menguat. Kondisi politik di Makassar menjadi sangat tidak stabil akibat demonstrasi dari kelompok pro-kesatuan dan kelompok pro-federal yang saling berhadapan.

Pemerintah RIS di Jakarta merespons ketidakstabilan ini dengan berencana mengirimkan sekitar 100 pasukan TNI ke Makassar untuk menjaga keamanan. Rencana kedatangan pasukan TNI ini langsung dibaca sebagai ancaman oleh para mantan perwira KNIL yang berada di Makassar.

Para mantan tentara kolonial ini merasa bahwa keamanan Makassar seharusnya menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya, bukan tentara dari Jawa. Ketakutan akan dianaktirikan atau digeser posisinya oleh TNI memicu solidaritas kelompok yang keliru di kalangan eks-KNIL.

Tuntutan Mempertahankan Negara Indonesia Timur

Andi Azis, yang saat itu menjabat sebagai ajudan Sukowati (Presiden Negara Indonesia Timur), merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan eksistensi NIT. Baginya, kedatangan TNI adalah langkah awal dari dominasi pemerintah pusat untuk menghapus kedaulatan negara bagian.

Berdasarkan catatan dari Scribd, pemerintah pusat sebenarnya sudah memberikan pemberitahuan penyatuan kepada NIT pada 4 April 1950. Namun, komunikasi ini justru mempercepat keputusan para perwira pro-federal untuk melakukan tindakan preventif sebelum kekuatan TNI mendarat sepenuhnya di Sulawesi Selatan.

Kronologi Singkat Pemberontakan Andi Azis Tahun 1950

Pertanyaan mengenai "mengapa andi azis melakukan pemberontakan" dapat dijawab secara gamblang melalui lini masa pergerakan pasukannya yang sangat cepat. Aksi militer ini dirancang sebagai sebuah kudeta kilat untuk menguasai objek-objek vital di Makassar sebelum kendali kota diambil alih oleh pasukan kiriman Jakarta.

Kronologi singkat pemberontakan andi azis tahun 1950 dimulai pada pagi hari tanggal 5 April 1950. Andi Azis memimpin sekitar 500 pasukan eks-KNIL yang bersenjata lengkap untuk bergerak menyerang markas-markas penting di Makassar.

Dalam waktu singkat, pasukan ini berhasil menduduki beberapa tempat strategis, termasuk instalasi komunikasi dan markas militer. Mereka juga berhasil menawan sejumlah perwira TNI yang sudah berada di Makassar, termasuk Letnan Kolonel A.J. Mokoginta.

Apa Latar Belakang Terjadinya Pemberontakan Andi Azis di Makasar? | Intisari Online

Untuk memahami konstelasi waktu dan sejarah perjalanan hidup sang tokoh utama hingga terjadinya gesekan militer ini, kita dapat melihat data historis berikut ini.

Garis Waktu Kehidupan Andi Azis dan Peristiwa Militer 1950
Waktu / TahunPeristiwa / Fase KehidupanKeterangan Historis
19 September 1924Kelahiran Andi AzisLahir di Simpangbinanga, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan
Usia 9 tahunPindah ke BelandaBersama pensiunan asisten residen berkebangsaan Belanda
Perang Dunia IIPendidikan MiliterMengungsi ke Inggris dan masuk akademi militer
1946Mendarat di JawaMendapat penugasan militer di daerah Cilincing
1947Bergabung dengan KNILPangkat letnan dua dan menjadi ajudan Presiden NIT Sukowati
24 Desember 1946Pembentukan NITNegara Indonesia Timur resmi berdiri
Maret 1950Pembubaran NITGelombang integrasi ke NKRI mulai meluas
5 April 1950Aksi PemberontakanMemimpin 500 pasukan eks-KNIL menduduki Makassar

Apa Tujuan Pemberontakan Andi Azis yang Sebenarnya

Jika kita membedah dokumen sejarah peristiwa andi azis makassar, ada beberapa poin utama yang menjadi target dari pergerakan bersenjata ini. Penolakan terhadap kebijakan pemerintah pusat dirumuskan dalam beberapa tuntutan nyata.

Secara garis besar, apa tujuan pemberontakan andi azis mencakup tiga hal mendasar di bidang militer dan politik lokal:

  • Menuntut agar keamanan di wilayah Negara Indonesia Timur hanya diserahkan kepada pasukan eks-KNIL yang telah dimasukkan ke dalam APRIS.
  • Menolak keras masuknya pasukan TNI dari Jawa yang dianggap akan mendominasi dan mengancam posisi militer lokal.
  • Mempertahankan berdirinya Negara Indonesia Timur (NIT) agar tidak melebur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemberontakan ini mencerminkan krisis kepercayaan yang mendalam antara perwira militer daerah bentukan Belanda dengan struktur militer nasional yang didominasi oleh mantan pejuang kemerdekaan.

Kesalahan umum yang saya lihat dalam memahami kasus ini adalah menganggap Andi Azis ingin mendirikan negara baru yang sepenuhnya terpisah dari Indonesia. Berdasarkan data dari Tempo, fokus utamanya adalah mempertahankan bentuk negara federal (RIS) dan menolak dominasi TNI, bukan melakukan pemisahan diri secara total dari serikat.

Upaya Penumpasan dan Akhir Peristiwa Andi Azis

Merespons tindakan sepihak yang dilakukan oleh pasukan eks-KNIL tersebut, pemerintah bertindak tegas dengan mengeluarkan ultimatum resmi pada 8 April 1950. Pemerintah pusat memberikan batas waktu pemenuhan selama 4 x 24 jam agar Andi Azis segera melapor ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Namun, karena instruksi tersebut tidak segera dipatuhi akibat keterlambatan keberangkatan, pemerintah mengirimkan operasi militer secara besar-besaran. Pertanyaan mengenai "siapa tokoh yang menumpas pemberontakan andi azis" merujuk pada Kolonel A.E. Kawilarang yang ditunjuk sebagai panglima operasi tersebut.

Pasukan ekspedisi militer yang dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang mendarat di Sulawesi Selatan dan berhasil mendesak mundur kekuatan pemberontak. Andi Azis akhirnya berangkat ke Jakarta setelah batas waktu ultimatum habis, di mana ia kemudian ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman penjara, sementara Negara Indonesia Timur secara resmi bubar dan kembali ke pangkuan NKRI.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow