Rahasia Gerak Murni Seni Tari yang Jarang Disadari Pecinta Seni

Smallest Font
Largest Font

Gerak murni pada tari disebut juga gerak wantah yang fokus sepenuhnya pada pencarian nilai estetika visual tanpa membawa pesan atau simbolis mendalam.

Ketika saya menyaksikan pertunjukan koreografi kontemporer maupun tradisional, sering kali mata kita tertuju pada keluwesan fisik semata. Gerak wantah ini menjadi fondasi utama dalam memikat penonton lewat harmoni raga yang dinamis.

Banyak orang mengira setiap jengkitan jari atau hentakan kaki dalam tarian selalu memiliki arti mistis atau filosofis. Faktanya tidak selalu demikian kok, karena dunia tari memisahkan dengan tegas antara ekspresi murni dan ekspresi maknawi.

Secara harfiah, pemahaman mengenai apa itu gerak murni tari merujuk pada bentuk koreografi yang digarap untuk mendapatkan keindahan semata. Karakteristik utamanya adalah tidak ada maksud tertentu yang ingin disampaikan oleh koreografer kepada penonton.

Saya melihat fenomena ini sebagai bentuk kejujuran fisik seorang penari di atas panggung pementasan.

Melalui dokumentasi ilmiah yang dirilis oleh lib.um.ac.id, konsep dasar koreografi menekankan bahwa pengenalan struktur tubuh melalui gerakan tanpa makna sangat penting, terutama dalam melatih motorik dasar serta kepekaan ruang.

Gerak murni atau wantah adalah bentuk penjelajahan fisik yang murni mengejar respons visual estetis, melepaskan diri dari beban narasi cerita yang kaku.

Lalu, bagaimana para maestro merancang pola ini agar tidak membosankan? Cara membuat gerakan tari indah dalam kategori murni melibatkan eksplorasi ruang, variasi tempo, serta permainan tenaga yang kontras.

Karakteristik Utama Gerak Wantah

Gerakan ini memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dengan gerak maknawi secara kasat mata. Berikut adalah ciri yang paling menonjol:

  • Mengutamakan keindahan bentuk ragawi (estetika visual).
  • Tidak memiliki arti, lambang, atau pesan tersirat.
  • Fleksibel untuk dikombinasikan dengan berbagai jenis iringan musik.
  • Berfungsi sebagai benang merah atau penyambung antar-adegan dramatis.

Tanpa adanya komponen wantah, sebuah pementasan tari akan terasa sangat berat dan melelahkan untuk dicerna oleh penonton awam.

Dua Jenis Gerakan Tari yang Perlu Diketahui Seni Tari | R3 Ain Official

Contoh Gerakan Murni Tari dalam Praktik

Untuk memudahkan pemahaman, mari kita bedah beberapa contoh gerakan murni tari yang sering muncul dalam khazanah budaya kita. Gerakan memutar pergelangan tangan (ngrayung atau ukel) dalam tari Jawa sering kali murni dipakai untuk estetika.

Begitu juga dengan gerakan menghentakkan kaki ke lantai (sekarang disebut debeg atau gejug) tanpa ritme naratif tertentu.

Gerakan-gerakan ini murni berfungsi menghias waktu dan ruang panggung agar terlihat megah dan sedap dipandang mata.

Implementasi Gerak Murni pada Tradisi Tari Soreng Jawa Tengah

Bicara soal gerak wantah, kita tidak bisa melepaskan diri dari kekayaan seni rakyat, salah satunya adalah Tari Soreng Jawa Tengah. Seni pertunjukan ini tumbuh subur di wilayah agraris dan memiliki struktur gerak yang sangat khas.

Kesenian Tari Soreng ini tumbuh dan berkembang di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong, wilayah yang kental dengan atmosfer gotong royong.

Berdasarkan data resmi dari Kemendikdasmen melalui No SK: 372/M/2021 yang disahkan pada tahun 2021, kesenian ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda yang wajib dilestarikan.

Mari kita lihat ringkasan latar belakang dari kesenian tradisional yang sarat akan gerak maskulin ini.

Profil dan Atribut Dasar Kesenian Tradisional Tari Soreng
Parameter KesenianDetail dan Spesifikasi
Asal WilayahLereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong
Tahun Berdiri1945
Tokoh PenciptaBapak Taryono
Lokasi Asal DesaDesa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak
Jumlah Ideal Penari10 sampai 12 orang

Melihat tabel di atas, saya kagum bagaimana seni rakyat yang lahir di tahun 1945 ini bisa bertahan melintasi empat generasi di Desa Bandungrejo.

Sejarah Tari Soreng dan Dinamika Perkembangannya

Menilik catatan sejarah Tari Soreng, kesenian ini sempat mengalami pasang surut yang cukup dramatis setelah merdeka. Berdiri sejak tahun 1945, aktivitas pementasan sempat terhenti karena situasi politik, sebelum akhirnya didirikan kembali sekitar tahun 1960-an.

Nama Soreng sendiri bukan fiksi belaka, melainkan berasal dari peleburan kata "sura" yang berarti berani, dan "ing" yang menunjuk pada sesuatu.

Kombinasi kata ini mencerminkan watak ksatria yang tegas lho.

Secara koreografi, tarian ini menggambarkan situasi dinamis di Kadipaten Jipang Panolan yang dipimpin oleh tokoh legendaris Aryo Penangsang.

Makna Tari Soreng bagi Petani dan Masyarakat Lereng Gunung

Meskipun menceritakan keprajuritan, makna Tari Soreng bagi petani di lereng Merbabu, Merapi, dan Andong bergandengan erat dengan ritme kerja harian mereka. Gerakan agraris yang tegas, lugas, dan spontan diintegrasikan ke dalam tari sebagai wujud syukur atas kesuburan tanah.

Kesenian Soreng diawali di lereng Gunung Merbabu, Merapi, dan Andong, namun kini perkembangannya sudah merata di seluruh Kabupaten Magelang dan sekitarnya.

Bagi penari lokal, gerakan wantah yang melompat dan menghentak merupakan representasi fisik dari ketahanan stamina mereka saat mencangkul sawah.

Unsur Pendukung Tari Soreng dalam Membentuk Estetika

Sebuah gerak murni tidak akan tampil prima tanpa kehadiran unsur pendukung Tari Soreng yang menghentak dan ritmis. Arsitektur bunyi menjadi penentu utama kapan penari harus merubah arah hadap atau melakukan lompatan tinggi.

Iringan Tari Soreng menggunakan instrumen yang tergolong sederhana namun menghasilkan suara menggelegar, yaitu trunthung, bendhe sebanyak 4 buah, simbal, dan drum.

Kombinasi perkusi ini menciptakan atmosfer heroisme yang sangat kental di arena pertunjukan.

Dalam struktur musiknya, instrumen bendhe menjadi pemangku irama pada Tari Soreng sebagai acuan perpindahan irama oleh seluruh penari.

Sistem tata pentas Tari Soreng awalnya dimainkan di arena terbuka seperti lapangan desa, namun kini penampilannya sudah fleksibel dan bisa juga di panggung atau gedung tertutup modern.

Fleksibilitas tata pentas ini membuktikan bahwa gerak wantah dalam Soreng mampu beradaptasi dengan tuntutan industri pertunjukan modern tanpa kehilangan jati diri aslinya.

Melalui eksplorasi gerak murni, kita belajar bahwa keindahan tidak selamanya harus dibebani oleh simbol-simbol yang rumit untuk dinikmati.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow