Bebas Tanpa Pakem, Mengapa Seni Tari Kontemporer Selalu Menantang Batas
Menjawab pertanyaan tentang apa itu tari kontemporer sering kali membawa kita pada sebuah pemahaman tentang kebebasan berekspresi tanpa batas fisik yang kaku. Seni tari ini lahir sebagai bentuk pemberontakan terhadap pakem lama. Bagi Anda yang ingin mendalami dunia seni pertunjukan atau bahkan berencana menciptakan koreografi sendiri, memahami konsep dasar dan esensi sejati dari tarian ini menjadi langkah awal yang sangat krusial.
Secara bahasa, konsep ini mengacu pada istilah dalam bahasa Inggris yaitu "contemporary", yang memiliki arti kehidupan di masa kini atau keadaan di saat yang sama.
Jika merujuk pada pengertian tari kontemporer menurut KBBI, kata kontemporer bermakna pada waktu yang sama atau masa kini. Oleh karena itu, jenis kesenian ini selalu menggambarkan keadaan masa kini dan diciptakan dengan ketentuan di luar tari pada umumnya.
Secara definitif, seni tari kontemporer merupakan jenis tari yang terpengaruh oleh dampak modernisasi, bersifat bebas, eksperimental, dinamis, serta tidak terikat oleh peraturan pakem atau aturan baku tari tradisional. Dalam ranah akademis, seperti yang dituangkan dalam Buku "Mengenal Seni Tari" karya Matthew Senangsa tahun 2023, sifat eksperimental inilah yang membuat genre ini selalu relevan dengan perkembangan zaman.
Ketiadaan pakem bukan berarti menafikan keindahan. Sebaliknya, kelenturan aturan ini justru menuntut kepekaan rasa yang lebih tinggi dari sang seniman. Menurut pandangan Guru SDN 106/IX Muaro Sebapo, Yopi Nadia, fleksibilitas dalam seni modern ini memungkinkan pesan-pesan sosial kemasyarakatan tersampaikan secara lebih lugas dan emosional kepada penonton.
Perjalanan Sejarah Menuju Kebebasan Gerak
Seni gerak bebas ini tidak muncul secara instan begitu saja di panggung pementasan dunia.
Ada lini masa panjang yang melatarbelakangi lahirnya genre yang mendobrak batas-batas klasik ini.
Guna memberikan gambaran yang jelas mengenai akar historisnya, perkembangan genre ini dapat dipetakan ke dalam beberapa periode penting.
| Era Perkembangan | Peristiwa Sejarah Utama | Tokoh / Lembaga Pelopor |
|---|---|---|
| Tahun 1920-an | Munculnya gerakan tari modern sebagai reaksi atas teknik Barat yang mapan | Seniman Barat Modern |
| Tahun 1960-an | Terciptanya gerakan post modern yang dinilai jauh lebih bebas | Judson Dance Theatre |
| Tahun 1970-an | Era ketika tari post modern mulai resmi disebut sebagai tari kontemporer | Yvonie Rainer & Rekan |
Pada tahun 1920-an, era munculnya tari modern dianggap terlalu mapan dalam hal teknik oleh para seniman Barat.
Kondisi mapan ini memicu kejenuhan, hingga akhirnya pada tahun 1960-an terciptalah gerakan post modern yang dinilai lebih bebas oleh para seniman di Judson Dance Theatre. Nama-nama besar seperti Yvonie Rainer, Trisha Brown, Steve Paxton, dan Deborah Hay menjadi motor penggerak utama pada masa itu. Barulah pada tahun 1970-an, era ketika tari postmodern mulai disebut sebagai tari kontemporer berkembang secara global.
Di Indonesia sendiri, dinamika ini dibahas secara tajam dalam buku "Menyoal Makna: Tidak Ada Model Tunggal Kontemporer" karya Sal Murgiyanto, yang menegaskan bahwa ekspresi lokal memiliki cara tersendiri dalam menerjemahkan modernitas.
Kondisi ini juga diperkuat oleh riset dalam Jurnal "Fenomena Tari Kontemporer Dalam Karya Tari Mahasiswa Sendratasik UNP dan STSI Padang Panjang" karya Indrayuda, yang memotret bagaimana mahasiswa seni di Sumatra Barat mengadopsi semangat kebebasan ini.
Karakteristik Unik yang Membedakannya dari Tradisi
Sering kali masyarakat awam bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya apa ciri tari kontemporer yang paling valid? Karakteristik utama yang paling mencolok terletak pada sifat gerakannya yang tidak memiliki pola tetap.
Konsep pementasannya pun sering kali bersifat tidak repetitif, artinya sebuah karya yang dipentaskan hari ini bisa jadi memiliki detail yang berbeda jika dimainkan di waktu lain karena ruang improvisasinya yang sangat luas. Mari kita bedah secara langsung mengenai bedanya tari kontemporer dan tradisional. Tari tradisional selalu berpegang teguh pada pakem, filosofi turun-temurun, pakaian adat spesifik, dan iringan musik yang sudah ditentukan secara turun-temurun.
Sementara itu, versi kontemporer justru menghancurkan dinding pembatas tersebut dengan menggunakan musik digital, puisi, atau bahkan kesunyian total sebagai pengiringnya.
Dari pengalaman saya mengamati berbagai festival seni, kesalahan umum yang sering dilakukan pemula adalah menganggap tarian ini sama dengan tari kreasi baru. Padahal, tari kreasi baru masih membawa sisa-sisa pola tradisional, sedangkan kontemporer benar-benar melepaskan diri dari struktur tersebut.
Lalu, mengapa tari kontemporer gerakannya bebas?
Kebebasan gerak ini ada karena tujuan utamanya adalah menyalurkan ide, konsep abstrak, atau kritik sosial dari sang koreografer, bukan untuk melestarikan ritual ritual adat.
Tubuh penari diperlakukan sebagai media komunikasi yang cair dan tidak boleh dibatasi oleh struktur geometris klasik.
Penjelasan Unsur Tari Kontemporer Apa Saja
Meskipun gerakannya bersifat bebas, bukan berarti jenis kesenian ini tidak memiliki struktur penyusun.
Untuk membangun sebuah pertunjukan yang utuh dan bernyawa, terdapat beberapa unsur esensial yang wajib dipenuhi oleh seorang koreografer.
- Ruang (Space): Meliputi area pentas, arah hadap, dan tingkatan gerak (level tinggi, sedang, rendah) yang dieksplorasi oleh tubuh penari secara dinamis.
- Waktu (Time): Terkait dengan durasi, tempo, ritme, dan cepat lambatnya sebuah gerakan dilakukan guna membangun dramatisasi suasana.
- Tenaga (Force): Intensitas kekuatan yang dikeluarkan tubuh, mulai dari gerakan lembut yang mengalir hingga entakan kuat yang mengejutkan penonton.
Ketiga unsur di atas harus melebur secara organik dengan ide cerita yang ingin disampaikan.
Tanpa adanya keselarasan antara ruang, waktu, dan tenaga, sebuah pementasan hanya akan terlihat seperti gerakan acak tanpa makna yang membosankan.
Langkah Nyata Menciptakan Karya Tari Kontemporer
Berdasarkan praktik langsung yang biasa diterapkan oleh para koreografer profesional, menyusun sebuah karya tari eksperimental membutuhkan proses yang sistematis.
Berikut adalah langkah-langkah berurutan yang dapat Anda eksekusi secara langsung.
- Menentukan Ide Utama atau Stimulus: Cari isu sosial, konflik personal, atau konsep abstrak yang ingin Anda angkat ke atas panggung.
- Melakukan Proses Eksplorasi Gerak: Biarkan tubuh Anda bergerak bebas tanpa menghakimi apakah gerakan tersebut bagus atau jelek, guna menemukan motif gerak baru.
- Tahap Improvisasi: Kembangkan motif gerak yang sudah ditemukan pada tahap eksplorasi ke dalam berbagai variasi tempo, level, dan arah hadap.
- Melakukan Komposisi (Forming): Jalin dan susun rangkaian gerak improvisasi tadi menjadi satu kesatuan koreografi yang utuh dari awal hingga akhir pertunjukan.
- Evaluasi dan Uji Coba Musik: Selaraskan hasil susunan gerak dengan iringan audio yang dipilih, apakah berupa instrumen, bunyi alam, atau teks narasi.
Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, banyak kreator muda terjebak pada tahap akhir karena terlalu memikirkan opini penonton.
Kunci utama keberhasilan pementasan ini terletak pada kejujuran emosi yang disalurkan melalui tubuh, bukan pada seberapa rumit teknik yang dipamerkan.
Ragam Ekspresi di Panggung Nasional
Wajah seni pertunjukan modern di Indonesia sangat kaya, terutama karena para seniman lokal sering kali mengawinkan konsep barat dengan memori tubuh mereka yang terbiasa dengan gerak tradisi. Beberapa contoh tari kontemporer di indonesia yang sukses mencuri perhatian dunia antara lain karya-karya dari maestro Sardono W. Kusumo atau Eko Supriyanto. Karya monumental seperti Cry Jailolo menunjukkan bagaimana ekspresi kontemporer mampu menyuarakan isu ekologi dan budaya lokal dengan bahasa tubuh global.
Fenomena ini membuktikan bahwa kelenturan struktur seni modern tidak menghilangkan identitas pelakunya.
Ekspresi bebas ini justru memperluas cakrawala seni pertunjukan nasional di mata dunia tanpa harus kehilangan jiwa asalnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow