Sekutu Keluarkan Ultimatum Kedua di Bandung untuk Kosongkan Wilayah Selatan
Panglima Tertinggi AFNEI mengeluarkan ultimatum kedua di Kota Bandung pada Sabtu, 23 Maret 1946 untuk mendesak pengosongan wilayah selatan. Pihak Sekutu memberikan batas waktu yang sangat ketat bagi militer dan milisi Indonesia guna meninggalkan kota tersebut. Tekanan militer ini menjadi puncak ketegangan setelah kedatangan pasukan Inggris sejak Oktober 1945 di Bandung.
Berdasarkan catatan sejarah, perintah penyerahan wilayah ini memicu reaksi ekstrem dari para pejuang kemerdekaan yang tidak sudi menyerahkan markas mereka. Pihak Sekutu menetapkan aturan tegas terkait wilayah yang harus dikosongkan oleh seluruh kekuatan bersenjata Indonesia. Perintah tersebut menuntut pembersihan total militer dari area pusat kota guna memastikan kendali penuh Sekutu.
Menurut buku IPS Terpadu susunan Nana Supriatna, dkk., tuntutan Sekutu dalam selebaran maklumat tersebut mencakup beberapa poin strategis. Berikut adalah rincian pembatasan wilayah yang dipaksakan tentara Sekutu:
- Militer Indonesia wajib meninggalkan Bandung Selatan sampai radius 11 kilometer dari pusat kota.
- Seluruh barisan milisi dan persenjataan rakyat harus segera diserahkan kepada pihak Sekutu.
- Evakuasi total komponen bersenjata harus diselesaikan dalam waktu yang amat singkat.
Tenggat waktu pengerjaan instruksi ini juga sangat memojokkan kelangsungan pertahanan Republik Indonesia di Jawa Barat. Sekutu memberikan batas waktu selambat-lambatnya pukul 24.00 WIB pada 23 Maret 1946, atau menjelang tengah malam tanggal 24 Maret 1946.
Kronologi Ketegangan Sejak Ultimatum Pertama
Sebelum maklumat kedua ini muncul, Sekutu sebenarnya telah melayangkan ancaman awal beberapa bulan sebelumnya. Kota Bandung sudah terbagi secara politik dan militer akibat kehadiran pasukan asing pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Berdasarkan data literatur Buku Pintar Pelajaran SD/MI 5 in 1 oleh Tim Guru Indonesia, dkk., sekira akhir tahun 1945, gesekan bersenjata sudah tidak dapat dihindarkan. Garis waktu berikut menunjukkan eskalasi konflik yang berujung pada peristiwa bumi hangus:
| Tanggal Kejadian | Aksi / Peristiwa Historis | Dampak Wilayah |
|---|---|---|
| Oktober 1945 | Kedatangan Pasukan Sekutu (Inggris) | Ketegangan militer di Bandung |
| 21 November 1945 | Ultimatum Pertama Pasukan Sekutu | Perintah pengosongan Bandung Utara |
| 29 November 1945 | Batas Waktu Ultimatum Pertama | Bandung Utara dikuasai Sekutu |
| 22–23 Maret 1946 | Ultimatum Kedua Panglima AFNEI | Perintah pengosongan Bandung Selatan |
| 23–24 Maret 1946 | Aksi Bumi Hangus Militer Indonesia | Peristiwa Bandung Lautan Api |
Aksi Bumi Hangus dan Pengungsian Massal
Menurut buku Blak-Blakan Bahas Mapel IPS SD Kelas VII, VIII, IX karya Mirma Respati, tuntutan Sekutu justru memantik perlawanan heroik. Alih-alih menyerahkan kota secara utuh, para pejuang memilih membumihanguskan infrastruktur penting di Bandung Selatan.
Operasi pembakaran massal ini sengaja dilakukan agar Sekutu tidak dapat memanfaatkan fasilitas militer maupun logistik yang ada. Langkah taktis tersebut diambil setelah koordinasi intensif di antara pimpinan komando militer Indonesia saat itu.
Akibat keputusan bumi hangus ini, gelombang pengungsian besar-besaran langsung terjadi di sepanjang malam. Ratusan ribu warga Bandung bagian selatan berbondong-bondong melakukan rute pengungsian menuju daerah selatan yang lebih aman seperti Cimahi dan Garut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow