Alur yang Digunakan Biasanya pada Hikayat dan Cara Memahaminya

Smallest Font
Largest Font

Menentukan alur yang digunakan biasanya pada hikayat sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para pencinta sastra maupun siswa yang sedang mendalami materi teks klasik. Banyak orang terjebak dalam kebingungan saat membedakan plot cerita rakyat ini dengan karya modern. Padahal, memahami pola perkembangan cerita kuno ini sangat penting untuk menangkap pesan moral di dalamnya.

Dari pengalaman saya mendampingi pembelajaran sastra, kunci utama menguasai teks ini adalah dengan mengenali karakteristik dasarnya yang bersifat kaku namun berpola tetap. Karakteristik plot yang linier merupakan fondasi utama dari hampir seluruh naskah klasik Melayu yang bertahan hingga hari ini.

Secara umum, jenis alur yang digunakan biasanya pada hikayat adalah alur maju atau progresif. Pilihan plot ini bukan tanpa alasan, melainkan sengaja dirancang agar pembaca zaman dahulu dapat mengikuti kisah kepahlawanan dengan mudah tanpa terdistraksi oleh lompatan waktu.

Buku Cara Mudah Menulis mencatat fakta penting bahwa hikayat umumnya menggunakan alur maju, sedangkan cerpen bisa menggunakan alur maju, mundur, maupun campuran. Pola kronologis ini membuat kisah-kisah kuno terasa sangat runut dari awal hingga akhir.

Definisi Alur Maju Menurut Para Ahli

Untuk memahami mengapa pola progresif ini dominan, kita perlu melihat bagaimana para pakar mendefinisikannya. Erwan Juhara dkk. dalam buku Cendekia Berbahasa menyatakan bahwa alur maju mengisahkan suatu peristiwa sekarang dan berlanjut ke peristiwa berikutnya yang menjabarkan hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dalam konteks naskah kuno, hubungan tersebut disajikan secara linier. Penulis tidak membolak-balikkan waktu, melainkan menuntun pembaca mengikuti pertumbuhan sang tokoh utama dari lahir, dewasa, hingga mencapai kejayaannya.

Perbedaan Mendasar dengan Plot Cerpen Modern

Dalam kasus yang sering saya temui di lapangan, banyak pembaca pemula menyamakan cara membaca prosa kuno dengan prosa modern. Padahal keduanya memiliki ruang lingkup yang sangat berbeda jauh.

Surastina dalam bukunya yang berjudul Pengantar Teori Sastra (2018) menyatakan bahwa hikayat adalah sastra lama bergenre prosa yang disajikan dalam bahasa Melayu dan menyajikan kisah kepahlawanan atau kehebatan seseorang yang bersifat epik. Sementara itu, I Wayan Kerti lewat buku Mengenali dan Menuliskan Ide menjadi Cerpen (2020) menyebutkan cerpen adalah karya sastra yang menceritakan secuil peristiwa atau satu kisah saja dalam kehidupan tokohnya. Perbedaan ruang lingkup ini otomatis memengaruhi kompleksitas plot yang digunakan penulis.

Indah Rimawan dkk. melalui buku Cara Mudah Menulis Cerpen (2022) juga menegaskan bahwa alur adalah rangkaian peristiwa yang disampaikan penulis hingga membentuk sebuah cerita. Pada karya klasik, rangkaian peristiwa tersebut mengikat seluruh tahapan hidup tokoh secara utuh.

Perbandingan Karakteristik Alur Karya Sastra
Kriteria AnalisisTeks Hikayat KlasikCerpen Modern
Jenis Alur DominanAlur Maju (Progresif)Maju, Mundur, Campuran
Fokus PenceritaanKisah Kepahlawanan EpikSecuil Peristiwa Kehidupan
Bahasa PengantarBahasa Melayu KlasikBahasa Indonesia Modern

Tahapan Membedakan Alur dalam Teks Klasik

Bagi Anda yang ingin menganalisis teks ini secara mandiri, berikut adalah langkah-langkah berurutan untuk membedakan dan memetakan plotnya secara akurat:

  1. Identifikasi Titik Awal Cerita: Bacalah bagian awal teks untuk menemukan asal-usul tokoh. Biasanya cerita dimulai dari kelahiran atau silsilah keluarga kerajaan.
  2. Telusuri Urutan Kronologis Peristiwa: Perhatikan kata penghubung waktu yang digunakan. Teks klasik sering menggunakan kata klise seperti "maka", "hata", atau "sebermula" untuk menandakan kelanjutan peristiwa ke masa depan.
  3. Petakan Konflik Utama: Temukan masalah yang dihadapi tokoh, yang biasanya berupa pencarian, peperangan, atau ujian kesaktian.
  4. Analisis Penyelesaian Masalah: Perhatikan bagaimana tokoh menyelesaikan konflik tersebut tanpa adanya kilas balik (flashback) ke masa lalu.
Materi 4 Teks Hikayat, Membandingkan Alur Hikyat dan Cerpen | Wahyu Langgeng Prastiyo

Kesalahan umum yang saya lihat adalah pembaca sering terkecoh oleh bagian latar belakang tokoh dan mengira itu adalah alur mundur. Padahal, informasi masa lalu tersebut disampaikan sebagai pengantar di awal, bukan sebagai lompatan waktu di tengah-tengah cerita.

Struktur Pembangun yang Membentuk Alur Hikayat

Alur maju yang progresif tersebut diikat oleh struktur teks yang sangat baku. Menurut informasi resmi dari Situs LP2M Universitas Medan Area, struktur yang membangun hikayat terdiri dari beberapa elemen penting di bawah ini:

  • Abstraksi: Ringkasan atau inti cerita yang menjadi gambaran awal.
  • Orientasi: Bagian yang berkaitan dengan suasana, waktu, dan tempat urutan cerita dinarasikan.
  • Komplikasi: Urutan kejadian yang dihubungkan secara sebab dan akibat, di mana konflik mulai muncul.
  • Evaluasi: Klimaks dari konflik yang terjadi yang mulai mendapatkan penyelesaian.
  • Resolusi: Bagian di mana pengarang mengungkapkan solusi dari masalah yang dialami tokoh.
  • Koda: Nilai atau pelajaran moral yang dapat diambil dari keseluruhan cerita oleh pembaca.

Struktur di atas menunjukkan bahwa perkembangan cerita bergerak secara linier dari pengenalan hingga amanat akhir. Pola terstruktur inilah yang menjaga konsistensi plot progresif pada sastra lama Melayu.

Asal-Usul Istilah dan Makna di Balik Pola Penceritaan

Pilihan plot yang berurutan ini juga berkaitan erat dengan fungsi historis dari teks itu sendiri. Berdasarkan buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia (2021, hlm. 54), kata hikayat berasal dari bahasa Arab "haka" yang berarti menceritakan, mewartakan, menyerupai, berkata, meneruskan, dan lain-lain. Fadillah Tri dan Sefi Indra sebagai penulis buku tersebut menegaskan akar etimologi ini murni mencerminkan tradisi lisan kuno.

Tradisi meneruskan warta dan cerita secara lisan menuntut struktur yang sederhana agar mudah diingat dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, penggunaan plot progresif menjadi standar mutlak agar pesan kepahlawanan tidak bias.

Melalui pemahaman mendalam terhadap sifat linier ini, analisis nilai budaya dan edukasi dalam teks klasik dapat dilakukan dengan jauh lebih objektif dan terukur.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed