Anggaran Perpusnas 2026 Dipangkas, Distribusi Buku ke Desa Terhenti

Smallest Font
Largest Font

Anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026 dipangkas dari Rp721 miliar menjadi Rp377,9 miliar, yang mengakibatkan penghentian distribusi buku ke desa dan pelestarian naskah kuno, dilansir dari Detikcom.

Pengurangan anggaran ini berpengaruh besar pada program-program literasi yang selama ini berjalan, terutama distribusi buku yang menjadi salah satu motor penggerak peningkatan minat baca masyarakat.

Kepala Bidang Pengelolaan dan Layanan Digital UPT Perpustakaan dan Layanan Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Hardika Dwi Hermawan, menyatakan bahwa tingkat literasi Indonesia masih rendah. Pada 2015, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam indeks minat baca dunia, meskipun program distribusi buku telah meningkatkan kondisi tersebut.

"Namun, saat minat baca dan literasi mulai meningkat, justru program distribusi buku yang menjadi motor penggeraknya dipangkas pada tahun 2026. Ini bukan sekadar soal anggaran yang ketat, tetapi memotong program yang sedang berhasil," ujar Hardika.

Hardika menilai penguatan literasi harus menjadi prioritas pembangunan nasional karena berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Ia memberikan beberapa rekomendasi kebijakan kepada pemerintah.

Pertama, anggaran literasi perlu dilindungi sebagai belanja negara yang bersifat wajib dan diatur secara resmi dalam APBN atau APBD agar tidak menjadi pos pertama yang dikurangi saat efisiensi anggaran.

Kedua, pemerintah harus memperkuat infrastruktur distribusi buku melalui kolaborasi antara pusat dan daerah serta memperluas keberadaan pojok baca di ruang publik untuk mendukung gerakan membaca yang berkelanjutan.

"Hardika juga menyoroti pentingnya kebijakan fiskal yang mendukung peningkatan literasi, seperti penghapusan pajak buku.Jika negara serius mengenai literasi, buku seharusnya dibebaskan dari pajak. Itu menjadi langkah strategis agar harga buku lebih terjangkau, meningkatkan minat masyarakat membeli buku, sekaligus mendorong budaya menulis," katanya.

Menurut Hardika, perpustakaan memiliki peran strategis di era Artificial Intelligence sebagai ruang yang membentuk kemampuan berpikir kritis dan menyeleksi informasi.

"Bukan hanya soal buku yang hilang ketika anggaran dipangkas, tetapi juga kesempatan generasi muda untuk memperoleh pengetahuan. Perpustakaan merupakan infrastruktur pengetahuan yang membangun manusia sebagai fondasi kemajuan bangsa," tegasnya.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow