Studi The Lancet Sebut Angka Harapan Hidup Warga Singapura Tertinggi
Singapura menduduki peringkat tertinggi di dunia dalam hal angka harapan hidup warga negaranya. Temuan ini terungkap melalui riset The Lancet Public Health pada 2023 yang memperkirakan kondisi kesehatan masyarakat di 204 negara, seperti dilansir dari Detikcom. Hasil studi menunjukkan masyarakat Singapura diperkirakan mampu bertahan hidup hingga melampaui usia 85 tahun.
Angka tersebut mencerminkan keberhasilan penerapan tata kelola berbasis bukti serta sistem perawatan kesehatan dan perlindungan sosial yang solid di negara tersebut. "Umur panjang Singapura mencerminkan kebijakan jangka panjang yang disengaja, bukan karena satu penyebab tunggal," kata Dr. Marie Ng, profesor di Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin, National University of Singapore (NUS).
Meskipun mampu mencapai usia di atas 80 tahun, para peneliti mencatat adanya tantangan kesehatan di masa tua. Rata-rata warga Singapura berpotensi menghadapi masalah kesehatan pada 11,2 tahun sisa hidup mereka.
Studi ini menyoroti kesenjangan antara angka harapan hidup dan harapan hidup sehat. Jika dihitung berdasarkan masa hidup yang bebas penyakit, angka harapan hidup sehat masyarakat Singapura berada pada rentang 74,1 tahun. Data riset juga menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan gender, di mana kelompok perempuan tercatat memiliki usia harapan hidup lebih lama sekitar 4,4 tahun dibandingkan laki-laki.
"Paradoks kesehatan gender, bahwa perempuan hidup lebih lama tetapi dengan lebih banyak tahun dalam kondisi kesehatan yang buruk, telah lama dikenal tetapi masih kurang dijelaskan. Studi ini merupakan pengingat lain bahwa hal ini layak mendapat perhatian lebih," kata Dr Julian Mutz, pakar kesehatan dari King's College London. Kondisi kesehatan buruk yang kerap dialami kelompok lansia mencakup berbagai keluhan medis harian. Beberapa di antaranya meliputi gangguan muskuloskeletal, depresi, kecemasan, gangguan pendengaran, cedera, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.
"Pesan utamanya adalah bahwa umur panjang saja bukanlah lagi ukuran keberhasilan yang tepat. Pertanyaan mendesaknya bukanlah sekadar berapa lama kita hidup, tetapi seberapa baik kita menjalani babak terakhir kehidupan kita dan apakah tahun-tahun tambahan itu merupakan tahun-tahun vitalitas atau penurunan," kata Profesor Simon Jones dari Pusat Penuaan Muskuloskeletal Universitas Birmingham.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow