Arti Kata Dudutan dalam Sejarah Kuliner Jawa Abad ke 10 yang Mengejutkan
Mengetahui arti kata dudutan membawa kita pada petualangan sejarah kuliner nusantara yang luar biasa mendalam. Banyak orang mengira tradisi memakan sayur mentah hanya produk modern, padahal akar budayanya sudah tercatat sejak ribuan tahun lalu.
Secara harfiah dalam bahasa Jawa modern, arti kata dudutan memiliki makna sebagai kesimpulan. Namun jika kita menarik garis waktu ke belakang, istilah ini menyimpan cerita yang jauh berbeda di ranah gastronomi purba.
Berdasarkan catatan sejarah kuno, istilah ini muncul dalam peradaban masyarakat Jawa di masa lalu. Bukti tertua dari budaya lalapan di pulau Jawa ini berasal dari peninggalan abad ke-10 Masehi.
Dari pengalaman saya meneliti teks-teks kuno, penemuan istilah kuliner sering kali memicu kesalahpahaman jika tidak dipasangkan dengan konteks zamannya. Penasaran mengenai arti kata dudutan dalam konteks pangan kuno terwujud melalui pembacaan piagam batu.
Prasasti Panggumulan berasal dari tahun 824 Saka atau 902 Masehi dan ditemukan di Sleman, Jawa Tengah. Prasasti inilah yang menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat masa itu mengategorikan makanan mereka.
Empat Kategori Sayuran Pendamping Menurut Prasasti Panggumulan
Penulis sekaligus peneliti kuliner, Fadly Rahman, dalam tulisannya yang berjudul Sunda dan Budaya Lalaban: Melacak Masa Lalu Budaya Makan Sunda di jurnal Metahumaniora (2018) memberikan pemaparan yang sangat spesifik mengenai hal ini.
"Dalam Prasasti Panggumulan (824 Saka/902 M) dari Sleman, Jawa Tengah, disebut-sebut bahan makanan dari sayuran bernama rumwah-rumwah, kuluban, dudutan, dan tetis. Rumwah-rumwah artinya lalab mentah, kuluban artinya lalab yang direbus, dudutan artinya lalab mentah yang diambil dengan cara dicabut dari akarnya, dan tetis adalah sejenis sambal atau petis."
Melalui kutipan tersebut, kita akhirnya memahami bahwa pada masa makanan jawa abad ke 10, istilah tersebut merujuk pada sayuran mentah yang dikonsumsi langsung setelah dicabut.
Masyarakat Jawa kuno terbukti sangat mendetail dalam mengklasifikasikan jenis hidangan hijau di meja makan mereka. Pembagian ini didasarkan pada metode persiapan dan cara memperoleh sayuran tersebut dari alam.
Untuk memudahkan pemahaman mengenai klasifikasi hidangan sayur kuno ini, kita bisa melihat pembagian kategorinya secara terstruktur.
| Nama Istilah Kuno | Kategori Hidangan | Metode Penyajian / Arti |
|---|---|---|
| Rumwah-rumwah | Sayuran | Lalap mentah segar |
| Kuluban | Sayuran | Lalap yang direbus |
| Dudutan | Sayuran | Lalap mentah yang dicabut dari akarnya |
| Tetis | Saus pendamping | Sejenis sambal atau petis |
Alasan Orang Sunda Suka Makan Sayur Mentah dan Kaitannya dengan Jawa Kuno
Pertanyaan yang sering muncul di benak masyarakat hari ini adalah "kenapa orang sunda suka makan lalap?". Mengapa tradisi yang tercatat di Jawa Tengah pada abad ke-10 justru kini sangat identik dengan masyarakat Jawa Barat?
Budaya menyantap sayuran mentah yang subur di Jawa pada masa lalu sejalan dengan tidak adanya tradisi peternakan sapi atau kerbau. Kondisi tanpa peternakan ini bertahan setidaknya sampai abad ke-15, sehingga sayuran menjadi satu-satunya sumber makanan yang bisa didapatkan.
Dalam kasus yang sering saya temui saat mengkaji geografi budaya, ekosistem tanah Sunda yang subur dan berbukit-bukit sangat mendukung kelestarian kebiasaan ini. Alasan orang sunda suka makan sayur mentah erat kaitannya dengan ketersediaan hayati yang melimpah di sekitar mereka sejak dahulu kala.
Transformasi Jenis Jenis Lalapan dari Masa ke Masa
Pada masa awal sekitar abad ke-10, jenis sayuran lalapan yang dikonsumsi masyarakat masih sangat terbatas pada vegetasi lokal. Beberapa contoh tanaman asli yang kerap dijadikan lalapan pada masa itu adalah tespong, kemangi, dan godobos.
Variasi lalapan ini kemudian bertambah dan mengalami perubahan masif setelah berinteraksi dengan budaya luar. Kedatangan orang-orang China, Arab, dan Eropa membawa serta membudidayakan sayuran asing yang sekarang sangat lumrah kita temui di atas piring.
- Sayuran dari luar: kol, timun, dan labu siam.
- Sayuran introduksi barat: buncis, terong, dan selada.
- Sayuran pelengkap modern: seledri dan tomat.
Dampak Kolonialisme Eropa terhadap Perubahan Pola Makan
Perubahan pola konsumsi masyarakat Jawa terjadi ketika bangsa Eropa datang pada abad ke-17. Kedatangan kompeni Eropa pada abad ke-17 mengubah pola konsumsi masyarakat Jawa secara drastis melalui kebijakan agraria mereka.
Dari pengalaman saya mengamati sejarah tata guna lahan, rombakan ekosistem oleh kolonial selalu berdampak pada piring makan penduduk lokal. Pihak kolonial membabat habis padang rumput untuk diganti dengan peternakan serta budidaya tanaman baru seperti kopi, teh, nanas, cabai, dan kentang.
Dampak dari perubahan lingkungan dan ekonomi ini membuat masyarakat mulai menyantap daging dan menyukai makanan pedas. Masuknya cabai menggantikan lada kuno, dan kehadiran daging menggeser dominasi penuh sayuran dalam diet harian.
Asal Usul Karedok dan Kompleksitas Rasa Lalapan
Membicarakan sejarah lalapan sunda tidak akan lengkap tanpa menyinggung asal usul karedok. Makanan ini merupakan bentuk evolusi langsung dari kebiasaan mengonsumsi rumwah-rumwah dan varian sayur cabut mentah lainnya.
Lalapan Sunda yang umumnya terdiri dari kol, timun, kemangi, dan terong akan berubah nama menjadi karedok jika ditambahkan bumbu kacang dengan sedikit kencur. Penambahan bumbu mentah ini menghasilkan kompleksitas rasa yang jauh lebih kaya dan digemari.
Kesalahan umum yang saya lihat adalah menganggap karedok sama persis dengan gado-gado atau lotek. Karedok mempertahankan warisan arti kata dudutan dan rumwah-rumwah, yaitu seluruh sayurannya wajib mentah tanpa melalui proses perebusan sama sekali.
Kontekstualisasi istilah kuno seperti ini membuktikan bahwa apa yang kita konsumsi hari ini adalah hasil jalinan sejarah, geografi, dan adaptasi budaya yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun di tanah nusantara.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow