Bingung Arti Kata Wonten Bahasa Jawa? Ini Cara Bicara Krama yang Benar

Smallest Font
Largest Font

Menyelami aturan unggah-ungguh atau tingkatan bahasa Jawa sering kali membuat orang luar daerah bahkan generasi muda Jawa sendiri merasa bingung saat harus memilih kata yang tepat. Saya sering melihat orang salah menempatkan kosakata halus saat berbicara dengan orang yang lebih tua, yang justru membuat struktur kalimatnya terdengar rancu. Salah satu fondasi penting agar tidak salah ucap adalah memahami arti kata wonten bahasa jawa beserta penerapannya dalam komunikasi sehari-hari.

Memahami kosakata ini secara mendalam akan membantu Anda menguasai cara bicara krama alus maupun lugu dengan lebih percaya diri. Melalui artikel ini, saya akan mengupas tuntas struktur ragam bahasa halus ini berdasarkan kaidah terbaru yang berlaku di masyarakat. Kita juga akan melihat bagaimana perubahan zaman menggeser struktur kebahasaan yang dahulu sangat kompleks menjadi lebih ringkas.

Masyarakat Jawa memegang teguh konsep subasita dan parikrama, yaitu tata krama dalam bertutur kata yang diwujudkan melalui pemilihan kosakata yang pas. Jika kita menilik sejarah kebahasaan, sistem pembagian tingkat tutur dalam bahasa Jawa mengalami simplifikasi yang cukup signifikan dari masa ke masa.

Berdasarkan catatan sejarah, tingkatan krama zaman dahulu terbagi menjadi 3 tingkatan yang sangat spesifik. Tiga tingkatan tersebut meliputi wredha krama, kramantara, dan mudha krama yang masing-masing memiliki segmentasi pengguna tersendiri. Struktur tingkatan bahasa Jawa dahulu menempatkan tingkat krama berada di tingkat lanjut atau posisi paling atas dalam stratifikasi sosial. Di bawah tingkat krama terdapat tingkat madya sebagai penengah, sedangkan tingkat ngoko berada di posisi paling bawah untuk komunikasi informal.

Namun, kompleksitas tersebut sudah tidak lagi digunakan secara kaku di era modern. Tingkatan krama zaman sekarang hanya terbagi menjadi 2 tingkatan saja, yaitu krama lugu dan krama alus guna memudahkan komunikasi sehari-hari. Perubahan ini otomatis memotong jalur birokrasi bahasa yang rumit. Dalam struktur tingkatan bahasa Jawa sekarang, di bawah tingkat krama langsung diikuti oleh tingkat ngoko tanpa ada lagi tingkat madya di tengah-tengahnya.

Perbandingan Struktur Kebahasaan Jawa Berdasarkan Periodisasi Zaman
Komponen StrukturSistem Zaman DahuluSistem Zaman Sekarang
Jumlah Tingkatan Krama3 Tingkat2 Tingkat
Nama Bagian KramaWredha krama, kramantara, mudha kramaKrama lugu, krama alus
Posisi Lapisan TengahTingkat madya
Lapisan Paling DasarTingkat ngokoTingkat ngoko

Membedakan Ragam Krama Lugu dan Krama Alus

Bagi saya, tantangan terbesar bagi orang yang sedang belajar bahasa jawa krama untuk pemula adalah membedakan kapan harus memakai ragam lugu dan alus. Ketidakmampuan membedakan keduanya sering kali memicu salah paham atau rasa tidak enak dalam pergaulan sehari-hari. Krama alus merupakan puncak penghormatan tertinggi yang digunakan untuk mengagungkan orang lain.

Di sisi lain, krama lugu memiliki sifat yang cenderung netral namun tetap menjaga kesopanan dasar secara umum. Fungsi penggunaan krama secara universal adalah digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang dihormati, orang yang lebih tua, dan orang yang belum akrab. Namun, aturan baku melarang keras penggunaan krama alus atau krama inggil untuk menyebut diri sendiri.

Sebagai contoh, kata "wonten" yang berarti ada, merupakan bentuk krama yang fleksibel digunakan dalam percakapan formal. Mengetahui beda ngoko dan krama alus untuk kata-kata umum seperti ini sangat krusial agar Anda tidak dicap kurang sopan.

Berikut adalah beberapa aturan mendasar yang membedakan kedua ragam tersebut dalam praktik komunikasi nyata:

  • Krama lugu menggunakan kata-kata krama murni tetapi tidak seketat krama alus dalam menghormati lawan bicara.
  • Krama alus mengombinasikan kata krama dengan kosakata krama inggil khusus untuk tindakan, organ tubuh, atau kepemilikan orang yang dihormati.
  • Diri sendiri selalu menggunakan kata krama lugu atau ngoko alus, tidak boleh memakai kosakata krama inggil yang tinggi.
Bahasa Jawa Ragam Krama Alus | Ruang Belajar Mata Pelajaran Bahasa

Struktur Afiksasi dan Konsep Wredha Krama yang Unik

Hal yang tidak boleh dilewatkan saat belajar bahasa Jawa halus adalah memahami struktur pembentukan katanya melalui afiksasi atau imbuhan. Bahasa krama memiliki karakteristik awalan dan akhiran yang sangat berbeda dengan ragam ngoko.

Contoh awalan krama yang paling sering digunakan dalam kalimat formal adalah dipun- yang berfungsi menggantikan awalan di-. Sedangkan contoh akhirannya yang bersifat khas adalah -(n)ipun dan -(k)aken untuk menggantikan akhiran ngoko. Meskipun sistem zaman dulu sudah mulai ditinggalkan, pemahaman tentang konsep wredha krama tetap penting sebagai khazanah pengetahuan. Wredha krama adalah bahasa krama yang menggunakan kata krama, tetapi tetap menggunakan awalan dan akhiran ngoko yaitu dak-, ko-, di-, -ku, -mu, -(n)é, dan -(k)aké.

Keunikan lain dari sistem wredha krama ini terletak pada pemilihan kata ganti orang atau pronomina yang digunakan oleh pembicara. Kata ganti orang pertama menggunakan kula, sedangkan kata ganti orang kedua menggunakan panjenengan sampéyan atau sampéyan. Berikut adalah contoh kalimat wredha krama jawa untuk memberikan gambaran konkret bagi Anda:

Kula sampun numbasaké buku niku kagem sampéyan, nanging jarné mriki riyen.

Kalimat di atas memperlihatkan perpaduan unik antara kosakata krama seperti kula, numbas (tumbas), dan sampéyan dengan akhiran ngoko -aké serta kata jarné.

Panduan Menggunakan Kamus Bahasa Indonesia Jawa Halus

Saat Anda membuka kamus bahasa indonesia jawa halus untuk mencari kosakata pelengkap, ada satu aturan teknis pemformatan yang wajib dipahami. Menurut petunjuk penulisan yang dilansir dari dokumen kebahasaan di id.scribd.com, format kamus memiliki penanda visual khusus untuk tingkat kehalusan kata. Kata yang dicetak tebal dalam daftar kamus merupakan kata yang digunakan dalam tingkatan bahasa Jawa halus/Krama.

Jika Anda melihat kata yang ditulis biasa tanpa penebalan, biasanya kata tersebut masuk dalam kategori ragam ngoko atau madya. Maka dari itu, ketelitian dalam membaca kamus sangat menentukan ketepatan Anda dalam menyusun kalimat krama yang baik dan benar. Selalu pastikan Anda memeriksa penanda cetak tebal tersebut sebelum menggunakannya untuk berbicara dengan orang tua atau atasan.

Menurut saya, menguasai cara bicara krama inggil yang benar memang butuh jam terbang dan pembiasaan langsung di lingkungan masyarakat. Jangan takut salah di awal proses belajar, karena masyarakat Jawa umumnya sangat menghargai setiap upaya orang asing atau pemula yang mau mencoba berbahasa krama dengan sopan.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed