Benarkah Bahasa Indonesia Saat Ini Hanya Berasal Dari Bahasa Melayu

Smallest Font
Largest Font

Bahasa Indonesia yang digunakan sekarang berasal dari bahasa Melayu, namun perkembangannya tidak sesederhana yang Anda bayangkan. Saya sering melihat orang keliru menganggap bahasa kita identik secara total dengan bahasa negara tetangga. Ekspektasi kita mungkin melihat sebuah replika murni, tetapi realitasnya, bahasa Indonesia telah berevolusi menjadi entitas yang jauh lebih dinamis dan mandiri.

Mari kita tengok ke belakang untuk memahami mengapa bahasa Indonesia yang digunakan sekarang berasal dari bahasa Melayu. Sejak abad awal penanggalan modern, bahasa Melayu, khususnya bentuk informal atau Melayu Pasar, sudah mulai digunakan sebagai lingua franca di Nusantara. Bahasa ini menjadi jembatan komunikasi yang sangat efektif antar-pedagang dan masyarakat di berbagai pulau.

Kondisi geografis Indonesia juga turut memengaruhi interaksi ini secara tidak langsung. Kita tahu bahwa pulau-pulau di Indonesia bagian barat secara geologis pernah menyatu dengan Benua Asia. Sementara itu, Indonesia bagian timur pernah menyatu dengan Benua Australia. Pemisahan geologis ini menciptakan sekat-sekat alami yang memicu lahirnya ratusan bahasa daerah di seluruh penjuru kepulauan.

Karena adanya ratusan bahasa daerah tersebut, kebutuhan akan satu bahasa pemersatu menjadi sangat mendesak. Bahasa Melayu Pasar hadir mengisi kekosongan itu karena sifatnya yang lentur, mudah dipelajari, dan tidak mengenal tingkatan sosial yang kaku. Karakteristik inilah yang membuatnya bertahan berabad-abad sebagai alat komunikasi antarsuku.

Mengapa Bukan Bahasa Jawa yang Dipilih?

Ini adalah poin kritis yang sering memicu perdebatan. Mengapa para pendiri bangsa tidak memilih bahasa Jawa, padahal penuturnya adalah mayoritas di Indonesia? Berdasarkan catatan sejarah, tokoh besar seperti Soekarno justru memilih bahasa Melayu yang dituturkan di Riau sebagai dasar bahasa Indonesia, alih-alih bahasa Jawa.

Pilihan Soekarno ini didasarkan pada strategi yang sangat matang untuk menghindari dominasi budaya. Jika bahasa Jawa yang dipilih, suku-suku lain di Nusantara mungkin akan merasa dijajah secara budaya. Bahasa Melayu Riau dinilai lebih netral dan sudah mapan dalam tradisi kesusastraan formal, sehingga dianggap paling siap untuk diangkat menjadi bahasa nasional.

Tonggak Sejarah Kelahiran Bahasa Indonesia

Proses transformasi dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia melewati dua tanggal krusial yang wajib dipahami oleh setiap warga negara. Transformasi ini melibatkan pengakuan politis dan pengakuan hukum secara tata negara.

Ikrar Politik pada Sumpah Pemuda

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan momen sakral yang menandai "lahirnya" bahasa Indonesia. Pada hari itu, para pemuda dari seluruh pelosok Nusantara berkumpul dan mengikrarkan Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda Kedua di Jakarta. Salah satu butir ikrarnya dengan tegas menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sneddon (2003, hlm. 5-6) bersama Montolalu dan Suryadinata (2007, hlm. 39-40) menyatakan status bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebelum resmi menjadi bahasa nasional setelah kemerdekaan. Langkah politis ini berhasil menyatukan visi seluruh pejuang kemerdekaan.

Pengesahan Hukum Secara Konstitusional

Setelah merdeka, status bahasa ini diperkuat secara hukum pada tanggal 18 Agustus 1945. Ini adalah tanggal disahkannya kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bersamaan dengan pengesahan UUD 1945. Sejak saat itu, bahasa Indonesia bukan lagi sekadar alat pemersatu pergerakan, melainkan instrumen resmi pemerintahan.

Kepastian hukum ini tertuang jelas dalam konstitusi tertulis negara kita. UUD 1945 Bab XV, Pasal 36 secara eksplisit menyatakan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Dengan demikian, posisinya menjadi mutlak dan tidak dapat diganggu gugat dalam tata laksana kehidupan berbangsa.

Pandangan Pakar Terhadap Evolusi Bahasa Indonesia

Menurut pemikiran Achmad dan Alex (2016: 2-3), mereka menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang termasuk dalam rumpun Austronesia. Mereka menegaskan kembali bagaimana keputusan Soekarno mengadopsi Melayu Riau menjadi fondasi kokoh yang mencegah perpecahan bangsa di masa awal kemerdekaan.

Selain itu, fenomena penerimaan bahasa ini mengundang kekaguman dari sosiolog dan linguis internasional. Fishman, sebagaimana dikutip dalam Sneddon (2003, hlm. 5), menyebut proses penerimaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa nasional sebagai "sebuah proses yang ajaib". Keajaiban ini terjadi karena para penutur non-asli dari berbagai suku bersedia menerimanya dengan sukarela, bukan sebagai bahasa ibu mereka, demi persatuan nasional.

Proses penerimaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa nasional merupakan sebuah proses yang ajaib karena penutur non-asli bersedia menerimanya bukan sebagai bahasa ibu mereka.

Penjelasan mengenai akar sejarah ini juga dipertegas oleh Nais Ambarsari, M.Pd., seorang akademisi yang menulis artikel komprehensif berjudul "Asal Mula Bahasa Indonesia" di situs binus.ac.id. Tulisan tersebut menguraikan dengan rinci bagaimana bahasa Melayu bertransformasi menjadi bahasa nasional yang kita gunakan hingga detik ini.

Perbedaan Karakteristik Masa ke Masa

Untuk melihat bagaimana perkembangan ini terjadi, kita bisa membandingkan karakteristik penggunaan bahasa berdasarkan periodisasi sejarahnya. Perubahan ini mencakup fungsi utama dan basis wilayah penggunaannya.

Berikut adalah tabel garis waktu perkembangan fungsi bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia modern:

Perkembangan Fungsi dan Karakteristik Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia
Periode WaktuNama BahasaFungsi UtamaBasis Wilayah
Abad Awal ModernMelayu PasarLingua Franca / PerdaganganPesisir dan Pelabuhan Nusantara
28 Oktober 1928Bahasa IndonesiaBahasa Persatuan Sumpah PemudaSeluruh Pergerakan Nasional
18 Agustus 1945Bahasa IndonesiaBahasa Negara ResmiNKRI (Konstitusional)
Masa Kini (2026)Bahasa IndonesiaBahasa Modern dan IptekNasional dan Internasional

Melihat tabel di atas, jelas sekali bahwa bahasa Indonesia yang digunakan sekarang berasal dari bahasa Melayu yang telah mengalami spesialisasi fungsi yang luar biasa. Dari yang tadinya hanya bahasa pelabuhan, kini menjadi bahasa sains, hukum, dan teknologi modern.

DARI MANA ASAL BAHASA INDONESIA | BAHASA MELAYU ? | Perisik Bawah Bayu

Kelemahan dan Sisi Kurang dari Evolusi Ini

Meskipun proses ini dinilai ajaib dan sukses, sebagai kritikus saya harus objektif melihat adanya kekurangan (cons) dari pola evolusi ini. Salah satu kekurangan utamanya adalah terjadinya distansi atau jarak yang semakin melebar antara bahasa Indonesia modern dengan akar bahasa Melayu asalnya. Anak muda zaman sekarang sering kali kesulitan memahami teks Melayu klasik karena kosakatanya dianggap terlalu arkais.

Selain itu, standarisasi bahasa Indonesia formal yang sangat ketat terkadang membuat bahasa ini terasa kaku dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, muncul jurang pemisah yang besar antara bahasa Indonesia baku dengan bahasa gaul atau informal yang digunakan di media sosial saat ini. Kecepatan adaptasi kamus resmi sering kali keteteran mengejar dinamika bahasa lisan masyarakat.

Aktivitas Terstruktur Memengaruhi Pola Komunikasi

Perkembangan bahasa tidak lepas dari bagaimana sebuah masyarakat beraktivitas. Jika kita melihat studi antropologi luar, kita bisa menemukan korelasi menarik tentang bagaimana pola aktivitas membentuk kemampuan sosiologis manusia, termasuk dalam berbahasa.

Sebagai contoh, hasil studi Suku Maya terhadap penduduk desa Maya yang terpencil menunjukkan hal yang relevan. Anak-anak yang terlibat dalam aktivitas harian terstruktur di sekitar pekerjaan orang dewasa memiliki kompetensi tinggi dalam perawatan diri dan menampilkan permainan imajinatif (make-believe play).

Hubungannya dengan bahasa kita adalah bahwa bahasa Melayu dahulu berkembang pesat justru karena keterlibatan aktif masyarakat dalam aktivitas harian terstruktur, yaitu perdagangan harian di pasar. Interaksi intensif di sekitar pekerjaan orang dewasa inilah yang membuat bahasa Melayu Pasar cepat matang, adaptif, dan mudah dipahami oleh generasi muda secara turun-temurun.

Langkah Nyata Menjaga Eksistensi Bahasa Nasional

Kita tidak boleh sekadar bangga pada sejarah bahwa bahasa Indonesia yang digunakan sekarang berasal dari bahasa Melayu. Keajaiban historis ini harus dirawat dengan langkah-langkah konkret di era modern.

Berikut adalah beberapa tindakan nyata yang bisa kita lakukan untuk menjaga eksistensi bahasa Indonesia:

  • Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai konteks komunikasi, baik formal maupun informal.
  • Mempelajari sejarah sastra dan asal-usul kata untuk memahami kedalaman makna kultural di dalamnya.
  • Mengutamakan penggunaan istilah bahasa Indonesia daripada istilah asing dalam ruang publik dan dokumen resmi.
  • Mendukung dokumentasi bahasa daerah agar memperkaya khazanah kosakata bahasa Indonesia di masa depan.

Langkah-langkah di atas bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab kita sebagai pewaris bahasa yang disahkan lewat perjuangan berdarah-darah pada tahun 1928 dan 1945 silam.

Bahasa Indonesia yang kita tutur hari ini adalah produk dari kompromi politik yang jenius dan evolusi sosial yang panjang. Mengetahui bahwa bahasa ini berakar dari bahasa Melayu Riau yang dipilih secara sadar oleh Soekarno, sudah sepatutnya kita tidak menganggap remeh identitas nasional ini. Menjaga kemurnian fungsinya di tengah gempuran istilah asing adalah harga mati untuk merawat keajaiban proses persatuan yang pernah dikagumi dunia.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow