Dunia Dibagi Dua Bagaimana Perjanjian Tordesillas Mengubah Peta Sejarah

Smallest Font
Largest Font

Perjanjian Tordesillas merupakan tonggak sejarah kolonialisme yang secara harfiah membagi bumi menjadi dua bagian demi kepentingan Spanyol dan Portugal. Kesepakatan geopolitik ini lahir dari persaingan sengit dua kekuatan maritim Eropa yang saling berebut wilayah baru di luar benua mereka.

Sebagai praktisi yang mendalami narasi sejarah maritim, saya sering melihat kekeliruan umum di mana orang menganggap pembagian ini terjadi secara instan tanpa konflik diplomatik yang rumit. Faktanya, penetapan garis batas ini membutuhkan negosiasi panjang dan keterlibatan otoritas tertinggi gereja pada masa itu.

Memahami dinamika Perjanjian Tordesillas bukan sekadar menghafal tanggal sejarah, melainkan memetakan bagaimana keputusan di atas kertas perkamen abad ke-15 menentukan batas-batas modern wilayah Nusantara hingga Amerika Selatan. Berikut adalah panduan rekonstruksi historis dan langkah demi langkah bagaimana pembagian dunia ini direncanakan, disepakati, hingga akhirnya dijalankan oleh kedua imperium.

Perjanjian Tordesillas: Ketika Spanyol & Portugis Membagi Dunia, Memulai Era Penjelajahan Global | Sang Ian

Mengapa Dunia Harus Dibagi Dua?

Latar belakang kesepakatan ini bermula dari ambisi besar untuk menemukan rute perdagangan rempah-rempah yang bernilai tinggi. Sebelum garis batas resmi ditetapkan, masing-masing kerajaan telah meluncurkan ekspedisi laut dengan rute yang berbeda. Pada tahun 1487, pelaut Portugis bernama Bartholomeus Diaz memimpin pelayaran dari Lisabon melewati pantai barat Afrika dan berhasil sampai di Tanjung Harapan Baik.

Keberhasilan ini membuka jalan bagi Portugal untuk menguasai jalur selatan benua Afrika. Tidak ingin tertinggal, penguasa Spanyol mendanai ekspedisi barat yang dipimpin oleh Christopher Columbus pada tahun 1492. Columbus berhasil menemukan benua Amerika, meskipun pada awalnya dia meyakini wilayah baru tersebut sebagai bagian dari Asia.

Penemuan benua baru oleh Columbus memicu ketegangan diplomatik yang akut antara Kastilia (Spanyol) dan Portugal mengenai hak kepemilikan tanah baru tersebut. Untuk menghindari perang terbuka, kedua kerajaan sepakat membawa sengketa ini ke hadapan otoritas moral tertinggi saat itu, yaitu Paus.

Proses pembagian dunia ini tidak terjadi dalam satu pertemuan, melainkan melalui beberapa tahapan legalitas hukum internasional klasik yang sangat terstruktur.

  1. Penerbitan Bullah Kepausan: Pada tahun 1493, Paus Alexander VI mengeluarkan Bullah Kepausan Inter Caetera yang menetapkan garis demarkasi awal setinggi 100 liga di sebelah barat Kepulauan Cape Verde.
  2. Protes dan Negosiasi Ulang: Raja John II dari Portugal merasa garis 100 liga terlalu dekat dengan pantai Afrika, sehingga membatasi ruang gerak kapal-kapal Portugis yang membutuhkan radius berlayar lebih lebar di Atlantik.
  3. Pertemuan di Tordesillas: Perwakilan kedua kerajaan bertemu di sebuah kota kecil bernama Tordesillas untuk menggeser garis batas lebih jauh ke barat demi mengakomodasi kepentingan navigasi Portugal.
  4. Penandatanganan Kesepakatan: Pada tanggal 7 Juni 1494, Perjanjian Tordesillas resmi ditandatangani oleh perwakilan Spanyol dan Portugal di kota tersebut.
  5. Ratifikasi Kerajaan: Dokumen resmi ini kemudian diratifikasi oleh Spanyol pada 2 Juli 1494 dan menyusul diratifikasi oleh Portugal pada 5 September 1494.
  6. Legitimasi Final Kepausan: Kesepakatan baru ini akhirnya mendapatkan ratifikasi resmi oleh Paus Julius II pada tanggal 24 Januari 1505 atau 1506.
Melalui pergeseran garis batas ke barat, Portugal secara tidak sengaja mendapatkan hak atas wilayah timur Amerika Selatan, yang di kemudian hari menjadi negara Brasil.

Implementasi dan Konsekuensi Penjelajahan di Lapangan

Garis demarkasi baru ini ditarik secara vertikal dari kutub utara ke kutub selatan, memotong Samudra Atlantik. Spanyol mendapatkan hak eksklusif atas tanah non-Kristen di sisi barat garis, sementara Portugal menguasai sisi timur. Dari pengalaman saya menganalisis jalur logistik maritim kuno, pembagian ini memaksa para pelaut dari kedua negara mematuhi koridor pelayaran yang sangat ketat. Pelanggaran terhadap batas ini bisa memicu konflik bersenjata di lautan lepas.

Vasco da Gama meneruskan perjalanan dari Tanjung Harapan melalui Samudra Hindia dan Laut Arab hingga mendarat di Kalikut, pantai barat India pada tahun 1498. Pelayaran ini memperkokoh dominasi Portugal di jalur timur sesuai mandat perjanjian. Ambisi Portugal mencapai puncaknya ketika Alfonso de Albuquerque menguasai Malaka pada tahun 1511. Langkah strategis ini dilanjutkan dengan mengirim angkatan perang pimpinan Antonio de Abreu ke Kepulauan Maluku, hingga akhirnya Portugis berhasil menguasai Ternate pada tahun 1512.

Sengketa Anti-Meridian dan Lahirnya Perjanjian Saragosa

Masalah baru muncul ketika bumi terbukti bulat dan kedua armada saling bertemu di sisi lain dunia, tepatnya di Kepulauan Maluku yang kaya akan rempah-rempah.

Pada tanggal 10 Agustus 1519, Ferdinand Magellan bersama Kapten Juan Sebastian del Cano diperintahkan penguasa Spanyol berlayar ke barat melalui Samudra Atlantik untuk mencari wilayah penghasil rempah. Ekspeditur Spanyol ini berhasil melewati selat di ujung Benua Amerika yang kini disebut Selat Magellan. Ferdinand Magellan akhirnya tiba di Kepulauan Massava yang kemudian hari bernama Filipina pada tahun 1521.

Kedatangan armada Spanyol di wilayah Pasifik barat ini memicu tabrakan klaim baru dengan Portugis yang sudah mapan di Maluku. Karena pembagian garis di Samudra Atlantik tidak menjelaskan secara pasti batas di belahan bumi sebaliknya, kedua negara kembali bernegosiasi. Konflik batas di Pasifik ini diselesaikan melalui Penandatanganan Perjanjian Saragosa pada 22 April 1529, yang menetapkan garis anti-meridian sekitar 17 derajat di timur Maluku.

Kronologi Legalitas Perjanjian Pembagian Dunia
Nama Dokumen/PeristiwaTanggal PenandatangananTanggal Ratifikasi
Perjanjian Tordesillas7 Juni 14942 Juli 1494 (Spanyol)
Ratifikasi Portugal7 Juni 14945 September 1494
Ratifikasi Kepausan24 Januari 1505 atau 1506
Perjanjian Saragosa22 April 1529

Pertemuan kepentingan geopolitik di kepulauan Nusantara menegaskan bahwa garis imajiner yang dibuat di Eropa memiliki dampak riil yang mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi di Asia Tenggara selama berabad-abad ke depan.

Sejarah mencatat bahwa Perjanjian Tordesillas menjadi preseden awal bagaimana kekuatan global membagi wilayah dunia berdasarkan kalkulasi navigasi astronomis. Warisan dari garis demarkasi ini masih bisa dilihat saat ini melalui peta linguistik dunia, di mana Amerika Latin mayoritas berbahasa Spanyol, sementara Brasil menjadi satu-satunya negara penutur bahasa Portugis yang dominan di kawasan tersebut.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed