Kebakaran Hutan Kalimantan Memicu Polusi Asap Menembus Malaysia
Sebaran titik api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memicu kabut asap pekat hingga melintasi batas negara menuju Malaysia, seperti dilansir dari Detikcom.
Insiden karhutla tercatat sebagai bencana berulang di Indonesia, dengan dampak masif yang pernah melanda kawasan gambut Kalimantan serta Sumatra pada kurun waktu 1997-1998.
Aktivitas manusia menjadi faktor dominan di balik kehancuran ekosistem tersebut. Berdasarkan kajian dalam Jurnal UGM Vol 33 No 5 (2017) oleh Purwaningsih, porsi pemicu karhutla akibat faktor alam terbilang sangat kecil, sementara 90 persen di antaranya bersumber dari kegiatan manusia.
Dampak degradasi lahan akibat pembakaran ini tercatat sangat signifikan. Antara tahun 1973 hingga 2010, wilayah Kalimantan kehilangan tutupan hutan mencapai 123.941 kilometer persegi.
Data relevan juga diungkapkan oleh mantan Kepala BNPB, almarhum Doni Monardo, terkait tragedi karhutla pada tahun 2019.
"Saya mempunyai data, penyebab Karhutla adalah 99% ulah manusia ada yang disengaja ada yang lalai, dan 80% lahan yang terbakar pada akhirnya menjadi kebun," kata Kepala BNPB, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Sabtu (22/8/2026).
Praktik pembakaran lahan secara liar yang tidak terkendali membuat upaya pemadaman di lapangan kerap mengalami kendala besar.
Pembakaran lahan skala besar umumnya sulit dijinakkan saat melalap kawasan rawa atau lahan gambut. Arsip BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2016 mencatat bahwa aksi pembakaran sengaja kerap dilakukan perusahaan besar yang bersengketa dengan masyarakat demi menguasai lahan secara sepihak.
Kondisi ini diperparah oleh lemahnya sanksi hukum bagi para oknum pelanggar aturan.
"Meskipun aturan mengenai pembakaran hutan jelas-jelas dilarang, namun karena hukum yang diberikan bagi yang melanggar masih sangat lemah, akibatnya banyak juga oknum yang melanggar aturan dan membakar hutan secara besar-besaran untuk membuka lahan. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar," tulis BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota dalam arsipnya.
Kompleksitas pemadaman api juga dipengaruhi oleh karakteristik alami struktur lahan gambut.
Kelompok Pengkaji Lingkungan Aesculap (KPLA) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga memaparkan bahwa kobaran api di permukaan dapat merembet masuk menyulut lapisan dalam tanah gambut. Bara yang terperangkap di bawah permukaan tanah ini berpotensi bertahan hidup selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
"Hutan yang terbakar hari ini bisa kehilangan kehidupan selama puluhan tahun," kata mereka, dikutip dari laman resmi Unair.
Bencana karhutla memicu serangkaian dampak buruk berkelanjutan yang merusak lingkungan dan membahayakan keselamatan warga:
Kepunahan flora dan fauna endemik yang menghuni kawasan ekosistem hutan.
Penyebaran polutan udara beracun secara masif.
Ancaman penyakit saluran pernapasan seperti ISPA yang menggangu aktivitas sehari-hari.
Penurunan pasokan serta kualitas air bersih bagi kebutuhan warga.
Risiko kesehatan tinggi bagi kelompok rentan mencakup bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Peningkatan ancaman bencana tanah longsor di area bekas terbakar saat memasuki musim hujan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow