BMKG Jelaskan Fenomena Aphelion 6 Juli 2026 dan Dampaknya pada Cuaca

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Informasi mengenai posisi Bumi yang berada pada titik terjauh dari Matahari pada 6 Juli 2026 ramai beredar di media sosial. Fenomena astronomis tahunan ini dikenal dengan istilah aphelion. Banyak anggapan muncul bahwa jarak yang menjauh tersebut menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin dari biasanya.

Fenomena ini dilansir dari Detikcom terjadi di tengah periode musim panas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya menjelaskan bahwa aphelion merupakan peristiwa astronomis yang terjadi sekali dalam setahun. Fenomena ini selalu berlangsung di sekitar bulan Juli.

Saat aphelion terjadi, Matahari memang berada pada titik paling jauh dari Bumi. Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap lapisan atmosfer maupun cuaca di permukaan Bumi.

Data dari Earthsky menyebutkan bahwa aphelion tahun ini terjadi pada 6 Juli 2026 sekitar pukul 12.30 siang CDT atau pukul 17.30 UTC. Jarak antara Bumi dan Matahari saat itu mencapai sekitar 94.502.961 mil atau 152.087.774 km. Perubahan jarak ini terjadi karena orbit Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna. Variasi jarak antara Bumi dan Matahari sepanjang tahun sebenarnya tidak terlalu besar, yakni hanya berkisar di atas 3 persen.

Secara etimologi, nama aphelion berasal dari bahasa Yunani. Kata apo memiliki arti jauh, lepas, atau terpisah, sedangkan helios merujuk pada dewa matahari Yunani, sehingga secara harfiah berarti terpisah dari Matahari.

Penyebab Suhu Udara Lebih Dingin

Penurunan suhu udara yang dirasakan masyarakat saat ini bukan disebabkan oleh fenomena aphelion. Cuaca yang lebih dingin merupakan fenomena alami yang biasa terjadi pada puncak musim kemarau antara Juli hingga September. Wilayah dari Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur saat ini sedang memasuki musim kemarau.

Pada periode ini, pergerakan angin bertiup dari arah timur ke tenggara, berasal dari Benua Australia. Benua Australia sendiri sedang mengalami musim dingin pada bulan Juli. Tekanan udara yang tinggi di sana memicu pergerakan massa udara dingin menuju Indonesia, yang dikenal sebagai Monsoon Dingin Australia.

Angin monsun tersebut melewati Samudra Indonesia yang memiliki suhu relatif dingin sebelum mencapai wilayah Nusantara. Hal ini menyebabkan penurunan suhu di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Faktor lain yang memengaruhi suhu dingin pada malam hari adalah berkurangnya intensitas awan dan hujan. Minimnya tutupan awan di atas Pulau Jawa membuat panas bumi langsung terlepas ke atmosfer pada malam hari.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow