BRIN Ungkap Longsor Bawah Laut Percepat Tsunami Pangandaran 2006
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fenomena tsunami Pangandaran pada 2006 lalu tidak hanya dipicu gempa bumi, melainkan juga akibat pergerakan massa bawah laut yang mempercepat waktu kedatangan gelombang di pesisir, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, memaparkan hasil analisis terbaru tersebut dalam forum ilmiah pada Selasa (4/8/2026). Temuan ini menjelaskan alasan gelombang tsunami di lapangan bisa jauh melampaui estimasi awal parameter gempa.
"Tsunami Pangandaran merupakan salah satu contoh tsunami earthquake, yakni kondisi ketika gelombang tsunami yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan estimasi berdasarkan parameter gempa yang tercatat," kata peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, dalam Webinar "Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045" yang digelar pada Selasa (4/8/2026), dikutip melalui laman BRIN.
Investigasi menunjukkan ketinggian gelombang di beberapa titik pesisir mencapai lebih dari 8 meter. Berdasarkan data observasi dan kesaksian penyintas, tinggi gelombang bahkan sempat melampaui pohon kelapa di sejumlah lokasi daratan.
"Setelah kami melakukan pengujian berbagai skenario, terdapat kemungkinan bahwa gempa bumi dan pergerakan massa bawah laut bersama-sama berkontribusi membangkitkan tsunami. Model ini mampu memberikan estimasi yang lebih mendekati kondisi tsunami yang sebenarnya terjadi," terang Wiko.
Pengujian 14 skenario pemodelan resolusi tinggi menunjukkan gelombang tsunami tiba lebih cepat, yaitu sekitar 20–30 menit ketika melibatkan pergerakan massa bawah laut. Angka ini berbeda jauh dibanding simulasi gempa murni yang membutuhkan waktu 40–50 menit.
Simulasi tersebut memperlihatkan limpasan air tidak hanya menghantam pantai, tetapi merangsek hingga ke daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap. Selain itu, kajian BRIN berhasil mengidentifikasi area aman yang tidak terdampak untuk lokasi evakuasi di masa depan.
Riset ini juga memvalidasi penggunaan formulasi Takemura untuk menghitung penskalaan sumber gempa agar menghasilkan estimasi yang presisi. Namun, pengujian sensitivitas lanjutan masih diperlukan untuk konfirmasi ilmiah yang lebih kuat.
"Kami telah melakukan inisiasi bersama rekan-rekan dari bidang teknik untuk memproduksi alat monitoring tsunami yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk mendukung pemantauan gelombang laut," ungkapnya.
Sebagai langkah lanjutan, BRIN tengah mengembangkan prototipe sistem pemantauan bahaya kelautan berbiaya terjangkau. Teknologi ini disiapkan untuk memantau perubahan permukaan laut secara real-time guna memperkuat sistem peringatan dini di Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow