Bunyi yang Beraturan Disebut Nada Ini Rahasia Mengatur Frekuensinya
Bunyi yang beraturan disebut nada dan kemampuan mengatur frekuensinya secara presisi menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya musik yang harmonis. Banyak pemula merasa kesulitan saat harus membedakan getaran suara yang harmonis dengan kebisingan acak di sekitar mereka. Masalah ini biasanya muncul karena kurangnya pemahaman teknis mengenai bagaimana getaran udara dapat diubah menjadi gelombang linier yang nyaman didengar oleh telinga manusia.
Secara teknis, bunyi yang beraturan disebut nada karena memiliki getaran berturut-turut yang konstan dan menghasilkan frekuensi tunggal yang dapat diukur secara pasti.
Pertanyaan seperti "apa itu nada?" sering kali muncul ketika seseorang mulai mempelajari seni musik atau teknik pengolahan audio digital di studio. Berdasarkan Jurnal Perancangan Sistem Perbaikan Nada Suara Manusia dengan Menggunakan Metode Phase Vocoder terhadap Nada Referensi Musik, nada adalah bunyi yang beraturan dengan frekuensi tunggal tertentu dan memiliki tinggi tertentu menurut frekuensinya.
Sederhananya, jika suatu sumber bunyi bergetar secara konsisten tanpa ada perubahan pola gelombang yang drastis, maka telinga kita akan menangkapnya sebagai suara yang rapi.
Wiflihani yang dikutip dari jurnal Universitas Multimedia Nusantara menjelaskan bahwa nada adalah bunyi yang menghasilkan frekuensi tertentu, sehingga jika terdengar akan terasa rapi dan teratur.
Dalam dunia praktis, perbedaan ini terlihat jelas dari bagaimana struktur gelombang tersebut terbentuk sejak dari sumbernya.
Langkah Mengidentifikasi Contoh Bunyi Beraturan dan Tidak Beraturan
Sebelum masuk ke ranah produksi, Anda harus melatih kepekaan telinga dalam membedakan ragam suara yang muncul di lingkungan sekitar.
Berdasarkan pengalaman saya menangani penyuntingan audio, kegagalan mengenali karakter dasar getaran sering kali membuat proses rekaman menjadi berisik.
Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk mengelompokkan jenis gelombang suara berdasarkan keteraturannya:
- Amati konsistensi tinggi rendahnya suara saat sumber bunyi sedang aktif bergetar di dekat Anda.
- Periksa apakah getaran tersebut memiliki frekuensi tunggal yang menetap atau justru berubah acak dalam waktu singkat.
- Gunakan alat bantu berupa tuner digital untuk melihat apakah jarum indikator dapat mengunci satu titik gelombang tertentu.
- Kelompokkan suara yang menghasilkan frekuensi tetap sebagai contoh bunyi beraturan dan suara acak sebagai bunyi tidak beraturan.
Dari pengamatan langsung di lapangan, Anda akan menemukan bahwa pita suara manusia atau dawai gitar yang dipetik secara stabil merupakan bentuk getaran yang rapi.
Sebaliknya, suara gemuruh ombak, deburan angin, atau bising kendaraan di jalan raya dikategorikan sebagai bunyi yang tidak beraturan karena frekuensinya berubah-ubah secara acak.
Mengatur Sifat-Sifat Nada dalam Musik Melalui Frekuensi
Setelah bisa membedakan jenis getaran, langkah berikutnya adalah mengontrol sifat fisik dari gelombang suara tersebut agar menghasilkan komposisi yang indah. Menurut sifatnya, nada terbagi menjadi 4 jenis, yaitu pitch (tinggi nada), durasi, intensitas nada, dan timbre (warna nada) yang saling memengaruhi. Dalam kasus yang sering saya temui, pengaturan pitch atau tinggi rendahnya suara sangat bergantung pada perhitungan matematis dari frekuensi getaran sumber bunyi.
Sebagai contoh teknis, para ilmuwan dan musisi mengukur frekuensi spesifik untuk memastikan instrumen berada dalam kondisi selaras atau tidak fals.
| Nama Nada | Nilai Frekuensi (Hz) | Perbandingan Frekuensi |
|---|---|---|
| nada c | 264 Hz | – |
| nada d | 297 Hz atau 440 Hz | 27 |
| nada g | 397 Hz | – |
| nada b | – | 45 |
Berdasarkan data teknis di atas, perbandingan frekuensi nada d dengan nada b adalah 27 : 45, yang menunjukkan adanya hubungan matematis yang pasti pada bunyi beraturan. Ketika Anda mengubah nilai getaran ini, secara otomatis sifat-sifat nada dalam musik seperti pitch akan bergeser naik atau turun sesuai arah perubahan frekuensi. Sementara itu, sumber energi bunyi pada manusia dihasilkan dari pita suara yang bergetar akibat aliran udara dari paru-paru yang mengalir melewati celah sempit.
Memilih Jenis-Jenis Nada Berdasarkan Struktur Tangga Nada
Langkah praktis selanjutnya adalah menyusun kumpulan suara beraturan tersebut ke dalam sebuah sistem atau pola yang biasa kita kenal sebagai tangga nada.
Kesalahan umum yang saya lihat adalah memaksakan satu jenis susunan nada tanpa memahami karakteristik emosi atau budaya yang dibawa oleh pola tersebut.
Untuk menghindari kesalahan komposisi, Anda dapat memilih beberapa jenis-jenis nada berikut sesuai dengan kebutuhan proyek musik Anda:
- Tangga nada kromatik yang terdiri dari 12 nada dari tiap oktaf dengan jarak antarnada yang sama rata.
- Nada mayor yang terdiri dari 7 nada dengan nada dasar "do" untuk menciptakan kesan ceria dan penuh semangat.
- Nada minor yang dimulai dari nada ke-6 atau A ("la") guna memunculkan atmosfer yang cenderung sedih atau melankolis.
- Nada pentatonik yang terdiri atas 5 nada pokok dengan jarak yang berbeda-beda di setiap langkahnya.
Buku Jago Gitar Elektrik mencatat bahwa mayor menjadi tangga nada termudah dan sering digunakan untuk penciptaan sebuah lagu oleh para musisi era sekarang yang cenderung beraliran pop.
Di sisi lain, jika Anda sedang menggarap proyek musik tradisional Jepang, China, dan Indonesia, biasanya menggunakan susunan nada pentatonik sebagai fondasi utamanya.
Memahami perbedaan struktur ini akan memudahkan Anda dalam menentukan arah aransemen sejak awal proses kreatif dimulai.
Mengoptimalkan Perbedaan Karakter Suara pada Berbagai Instrumen
Langkah terakhir dalam pengelolaan bunyi beraturan adalah mengenali keunikan karakter suara yang dihasilkan oleh setiap instrumen atau vokal manusia. Pertanyaan mengenai "apa yang dimaksud dengan timbre suara" sering diajukan ketika seseorang mendengar dua instrumen memainkan nada yang sama tetapi bunyinya berbeda.
Timbre adalah warna nada yang membedakan kualitas getaran suatu sumber bunyi, meskipun tinggi rendahnya frekuensi dan intensitasnya sama persis. Hal ini juga menjawab pertanyaan warga seputar "mengapa suara orang berbeda beda" saat menyanyikan satu lagu yang sama di atas panggung.
Perbedaan bentuk fisik pita suara, resonansi rongga dada, hingga bentuk instrumen musik menjadi faktor utama yang melahirkan keunikan warna suara tersebut. Memanfaatkan keunikan timbre dari setiap sumber bunyi beraturan akan membuat hasil akhir aransemen musik Anda terasa lebih kaya, dimensional, dan memiliki estetika yang tinggi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow