Candi Borobudur Peninggalan Kerajaan Bercorak Apa Sebenarnya Jawaban Sejarah Ini Bikin Takjub

Smallest Font
Largest Font

Banyak orang masih kebingungan saat menjawab pertanyaan mengenai Candi Borobudur peninggalan kerajaan bercorak apa di masa lampau. Saya sering sekali menemukan perdebatan di media sosial maupun forum sejarah yang mencampuradukkan identitas keagamaan dari monumen megah ini. Secara tegas, sejarah candi borobudur mencatat bahwa bangunan ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak agama Buddha Mahayana.

Dinasti yang bertanggung jawab penuh atas mahakarya arsitektur ini adalah Wangsa atau Dinasti Syailendra. Melalui artikel ini, saya akan membedah secara kritis dan mendalam mengenai asal-usul, struktur fisik, hingga teka-teki sejarah di balik berdirinya monumen Buddha terbesar di dunia ini.

Menentukan secara pasti siapa pendiri candi borobudur dan kapan tepatnya batu pertama diletakkan memang membutuhkan ketelitian membaca prasasti-prasasti kuno. Berdasarkan data yang dihimpun dari Wikipedia, bangunan suci ini diduga mulai dibangun pada rentang tahun 750 hingga 850 Masehi.

Namun, jika kita merujuk pada catatan Hudaya Kandahjaya yang meneliti Prasasti Kayumwungan, ada titik terang yang lebih spesifik. Candi Borobudur diperkirakan selesai dibangun sepenuhnya pada tanggal 26 Mei tahun 824 Masehi.

Masa pembangunan candi ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan memakan waktu nyaris 100 tahun lamanya hingga benar-benar rampung sekitar tahun 825 Masehi pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.

Dari spesifikasinya yang begitu masif, menurut saya wajar saja jika proses konstruksinya melewati beberapa generasi raja. Dinasti Syailendra saat itu memang dikenal sebagai penguasa yang sangat berkomitmen terhadap pengembangan ajaran Buddha Mahayana di tanah Jawa.

Spesifikasi Fisik dan Ukuran dan Jumlah Batu Candi Borobudur

Sebagai seorang pengamat, saya selalu takjub setiap kali melihat data arsitektur monumen ini. Ukuran dan jumlah batu candi borobudur menjadi bukti nyata betapa tingginya teknologi arsitektur manusia pada abad ke-8.

Candi ini memiliki ukuran fisik dasar berbentuk bujur sangkar dengan panjang 123 meter dan lebar 123 meter. Pada saat pertama kali berdiri, tinggi asli bangunan ini mencapai 42 meter, meskipun saat ini tingginya sedikit berkurang akibat pemugaran dan faktor alam.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur mengenai kemegahan fisik bangunan suci peninggalan Mataram Kuno ini, saya sudah menyusun data spesifikasinya berdasarkan catatan Kompas dan Wikipedia.

Spesifikasi Arsitektur dan Fisik Candi Borobudur
Parameter FisikDetail dan Ukuran
Luas Area Bangunan2.500 meter persegi
Dimensi Dasar Bangunan123 meter x 123 meter
Tinggi Asli Bangunan42 meter
Estimasi Jumlah Batu Andesit2.000.000 bongkah
Total Panel Relief2.672 panel
Jumlah Relief Bercerita1.460 panel

Bayangkan saja, para leluhur kita dahulu harus mengangkut sekitar 2 juta bongkah batu andesit. Hebatnya lagi, batu-batu masif tersebut diambil langsung dari sungai-sungai yang mengalir di sekitar lokasi pembangunan candi.

Penyusunan batu ini menggunakan sistem interlock atau saling mengunci tanpa menggunakan semen sama sekali. Teknik ini menurut saya adalah sebuah pencapaian teknik sipil yang luar biasa melampaui zamannya.

Tiga Tingkatan Candi Borobudur dan Makna Filosofisnya

Secara struktural, bangunan suci ini dirancang sebagai replika alam semesta menurut kosmologi Buddha. Struktur vertikalnya terbagi menjadi tiga tingkatan candi borobudur yang melambangkan tahapan spiritual manusia menuju kesempurnaan.

Secara keseluruhan, candi ini memiliki 10 tingkatan yang dibagi lagi ke dalam bagian-bagian teras. Bagian bawah terdiri dari 6 teras berbentuk bujur sangkar, diikuti oleh 3 pelataran atau tingkat berbentuk melingkar, dan puncaknya dimahkotai oleh 1 stupa utama yang besar.

Untuk memudahkan navigasi, para peziarah bisa masuk melalui 4 tangga utama yang terletak persis di empat penjuru mata angin, yaitu Timur, Selatan, Barat, dan Utara.

Kamadhatu (Dunia Hasrat)

Tingkatan paling bawah dari Candi Borobudur disebut dengan Kamadhatu. Bagian ini melambangkan ranah duniawi manusia yang masih terikat oleh hawa nafsu, keinginan rendah, dan hukum karma.

Pada bagian kaki candi yang asli, terdapat relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab-akibat dari perbuatan manusia. Sayangnya, sebagian besar relief di tingkat ini sengaja ditimbun dengan batu demi memperkuat struktur pondasi candi agar tidak longsor.

Rupadhatu (Dunia Berbentuk)

Naik ke tingkat berikutnya, kita akan memasuki wilayah Rupadhatu yang terdiri dari 4 teras berundak. Bagian ini melambangkan kondisi manusia yang sudah mulai mampu membebaskan diri dari hawa nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk fisik.

Di tingkat Rupadhatu inilah arsitektur candi dihiasi oleh pagar langkan dan ceruk-ceruk yang berisi arca Buddha. Suasana di tingkat ini terasa lebih megah dan dipenuhi oleh koridor-koridor batu yang panjang.

Arupadhatu (Dunia Tanpa Bentuk)

Tingkatan tertinggi sebelum mencapai puncak dinamakan Arupadhatu yang digambarkan melalui 3 pelataran melingkar. Berbeda jauh dengan tingkat di bawahnya, di sini Anda tidak akan menemukan relief bercerita pada dinding-dindingnya.

Arupadhatu melambangkan kesucian tertinggi, tempat di mana manusia telah bebas sepenuhnya dari segala ikatan duniawi, rupa, maupun bentuk. Di sini terdapat stupa-stupa berongga yang di dalamnya berisi arca Buddha, mengelilingi satu stupa utama yang menjadi pusat dari seluruh struktur candi.

Bagaimana Candi Borobudur Dibangun | Adrasa ID

Relief Candi Borobudur Menceritakan Tentang Apa

Selain struktur bangunannya yang kolosal, daya tarik utama lainnya terletak pada dinding-dinding batu yang dipahat dengan sangat halus. Banyak turis awam bertanya-tanya mengenai relief candi borobudur menceritakan tentang apa sebenarnya.

Secara total, candi ini dihiasi oleh 2.672 panel relief, di mana 1.460 panel di antaranya merupakan relief bercerita atau relief indah. Pahatan-pahatan batu ini tidak dibuat sembarangan, melainkan mengandung pesan moral dan ajaran spiritual yang mendalam.

Kisah Lalitawistara dan Jataka

Pahatan pada dinding Borobudur menceritakan berbagai kisah suci, salah satunya adalah Lalitawistara yang menggambarkan riwayat hidup Buddha Gautama. Cerita dimulai sejak kelahiran-Nya, masa remaja di istana, hingga momen di mana Ia mencapai pencerahan sempurna.

Selain itu, ada juga relief Jataka dan Awadana yang mengisahkan tentang kehidupan lampau Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha. Kisah-kisah ini penuh dengan teladan moral mengenai pengorbanan, cinta kasih, dan kebajikan.

Kisah Gandawyuha

Pada tingkat yang lebih tinggi, relief akan menceritakan kisah Gandawyuha. Ini adalah cerita tentang perjalanan spiritual seorang pemuda bernama Sudhana yang berkelana mencari kebijaksanaan tertinggi.

Sudhana mendatangi berbagai guru spiritual demi mendapatkan pengetahuan sejati. Menurut saya, relief ini berfungsi sebagai panduan visual bagi para peziarah zaman dulu yang sedang berjalan memutari candi secara jarum jam (pradaksina) untuk membersihkan jiwa mereka.

Letak Candi Borobudur Di Mana dan Kondisinya Terkini

Bagi yang masih bingung mengenai letak candi borobudur di mana, secara administratif situs warisan dunia ini berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasinya dikelilingi oleh pegunungan menawan seperti Menoreh, Merapi, dan Merbabu. Dilansir dari laman Detikcom, situs bersejarah ini sekarang memegang peran vital yang semakin kuat bagi umat keagamaan. Pemerintah secara resmi telah memberikan lampu hijau agar Candi Borobudur dapat digunakan secara aktif sebagai tempat rumah ibadat umat Buddha dari seluruh dunia.

Langkah ini menurut saya sangat tepat demi mengembalikan marwah spiritual asli dari tempat suci ini, bukan sekadar menjadikannya objek wisata komersial semata. Menjaga keseimbangan antara pariwisata, konservasi batu andesit, dan kegiatan keagamaan adalah tantangan nyata yang harus dihadapi saat ini. Kekurangan dari kebijakan pengelolaan saat ini mungkin terletak pada pembatasan kuota naik ke atas candi yang sangat ketat demi menjaga kelestarian batu.

Namun, dari sudut pandang konservasi, langkah ini wajib diambil agar struktur bangunan purbakala ini tidak cepat aus dan rusak dimakan usia. Asal usul borobudur singkat membuktikan bahwa tempat ini didirikan sebagai pusat peradaban spiritual yang agung. Mengingat fungsinya saat ini yang kembali menjadi tempat ibadah resmi, Candi Borobudur sukses mempertahankan identitas sejatinya sebagai peninggalan suci dari Wangsa Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed