Banyak yang Keliru Begini Cara Memainkan Ragam Instrumen Musik Tradisional
Mengetahui cara memainkan ragam instrumen musik tradisional maupun modern secara tepat sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para pemula. Banyak orang keliru mengira semua alat musik berdawai bisa dimainkan dengan teknik yang sama, padahal setiap instrumen memiliki karakteristik mekanis unik yang menuntut perlakuan berbeda.
Pemahaman mendalam mengenai teknik bermain ini sangat krusial agar Anda bisa menghasilkan resonansi suara yang jernih dan menjaga keawetan instrumen itu sendiri. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) lewat Modul Seni Budaya bahkan menegaskan bahwa musik tradisional merupakan musik yang berakar pada tradisi masyarakat tertentu serta diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, menjaga keaslian cara bermain menjadi bagian dari melestarikan nilai tradisi tersebut. Melalui artikel ini, kita akan membedah secara teknis panduan langkah demi langkah dalam memainkan berbagai kelompok instrumen musik yang sering memicu kebingungan di lapangan.
Memainkan alat musik tiup tidak sekadar meniupkan angin ke dalam tabung, melainkan tentang bagaimana Anda mengontrol embouchure atau posisi bibir dan aliran udara. Salah satu instrumen melodis tiup yang paling banyak dipelajari di sekolah maupun komunitas musik adalah recorder.
Dari pengalaman saya mengamati para pembelajar pemula, kesalahan umum yang paling sering terjadi adalah meniup recorder terlalu kuat seperti meniup peluit, sehingga suara yang keluar melengking sumbang. Ada beberapa ukuran recorder yang beredar di pasaran berdasarkan dimensinya, mulai dari yang paling besar yaitu sopran, recorder soprano, alto, dan tenor seperti yang dipublikasikan oleh id.yamaha.com.
Meskipun ukurannya berbeda, teknik dasar peniupan dan penjarian tetap memiliki prinsip yang sama. Berikut adalah langkah-langkah berurutan untuk memainkan alat musik tiup seperti recorder dengan benar:
- Posisikan recorder pada sudut sekitar 45 derajat dari tubuh Anda, pastikan kepala tetap tegak dan bahu dalam keadaan rileks.
- Letakkan bagian mouthpiece di antara bibir secara lembut, jangan digigit oleh gigi depan Anda agar aliran udara tidak terhambat.
- Tutup lubang-lubang nada menggunakan bantalan jari secara rapat namun santai, bukan dengan ujung jari, untuk mencegah kebocoran udara yang bisa merusak nada.
- Tiupkan udara secara stabil menggunakan artikulasi lidah seperti mengucapkan kata "du" atau "tu" secara lembut.
Sembari melatih artikulasi tiupan tersebut, Anda bisa mengombinasikannya dengan membaca notasi lagu untuk melatih ketangkasan jari tangan kanan dan kiri secara bergantian.
Rahasia Memetik Dawai Sasando dan Hasapi
Beralih ke rumpun alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik, Indonesia memiliki kekayaan instrumen berdawai yang sangat eksotis dengan teknik bermain yang sangat spesifik. Salah satu yang paling fenomenal adalah sasando, instrumen musik asal Nusa Tenggara Timur yang memiliki sejarah panjang sejak tahun 1950-an.
Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1950-an merupakan masa dimulainya sejarah alat musik sasando modern, ketika seorang pemuda yang pandai di bidang seni diminta untuk membuat alat musik yang unik ini.
Dalam kasus yang sering saya temui saat mendampingi pemula, kesulitan terbesar bermain sasando adalah menyelaraskan petikan tangan kiri dan tangan kanan secara bersamaan pada tabung bambu yang melingkar. Tangan kiri biasanya bertugas memainkan akor atau bas, sementara tangan kanan mengeksekusi melodi utama.
Selain sasando, terdapat pula instrumen petik tradisional lain seperti hasapi dari Sumatra Utara yang memiliki struktur lebih sederhana. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, alat musik ini terbagi menjadi hasapi ende dan hasapi doal, di mana masing-masing jenis tersebut hanya dibekali oleh 2 senar saja menurut data dari Traveloka.
Untuk memainkan instrumen petik berleher seperti hasapi, tangan kiri Anda bertugas menekan senar pada papan jari untuk menentukan tinggi rendahnya nada. Sementara itu, jempol atau jari telunjuk tangan kanan melakukan petikan naik-turun secara ritmis mendekati lubang resonansi instrumen.
Panduan Menggesek Rebab dan Tarawangsa Tanpa Mencicit
Alat musik gesek tradisional menuntut sensitivitas indra pendengaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan alat musik tiup atau petik ber-fret. Kelompok instrumen seperti rebab dan tarawangsa tidak memiliki pembatas nada pada papan jarinya, sehingga akurasi posisi jari Anda menentukan absolut tidaknya nada yang dihasilkan.
Kedua instrumen ini umumnya hanya memiliki komposisi 2 atau 3 senar saja dalam satu perangkat utuh. Kurangnya jumlah senar ini tidak membuat cara memainkannya menjadi lebih mudah, justru tantangannya ada pada kontinuitas tekanan busur gesek.
Berdasarkan pengamatan teknis saya, kesalahan fatal bagi pemula adalah menggesek senar dengan gerakan tangan yang terlalu kaku atau menekan busur terlalu dalam ke senar, yang akhirnya memicu suara mencicit seperti tikus. Berikut adalah opsi posisi dan prasyarat mekanis yang wajib Anda penuhi saat hendak memainkan alat musik tradisional digesek:
- Posisikan instrumen berdiri tegak di atas lantai atau paha Anda, jangan dimiringkan layaknya biola modern.
- Pegang busur gesek (bow) menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, sementara jari tengah dan manis bertugas mengatur ketegangan rambut busur.
- Sentuhkan rambut busur ke senar dengan sudut tegak lurus, lalu tarik secara horizontal dengan memanfaatkan berat lengan Anda, bukan tenaga otot pergelangan.
- Gunakan jari tangan kiri untuk menyentuh senar secara presisi tanpa harus menekannya sampai menyentuh kayu papan jari.
Memahami Karakteristik Ketukan Alat Musik Pukul
Kelompok instrumen terakhir yang tidak kalah penting untuk dikuasai adalah alat musik yang dibunyikan dengan cara dipukul, baik menggunakan alat bantu pemukul khusus maupun langsung menggunakan telapak tangan. Karakteristik utama dari kelompok ini adalah fungsi ritmis dan penjaga tempo dalam sebuah ansambel musik.
| Nama Instrumen | Cara Memainkan | Jumlah Senar | Kategori Fungsi |
|---|---|---|---|
| Sasando | Dipetik | Variatif | Melodis & Ritmis |
| Hasapi Doal | Dipetik | 2 Senar | Ritmis |
| Rebab | Digesek | 2 atau 3 Senar | Melodis |
| Tarawangsa | Digesek | 2 atau 3 Senar | Melodis |
| Recorder | Ditiup | – | Melodis |
Setiap daerah di Indonesia memiliki variasi alat musik pukul yang sangat beragam, mulai dari kolintang, saron, hingga kendang. Ketepatan dalam memilih titik pukul pada instrumen akan sangat memengaruhi warna suara (timbre) yang keluar dari ruang resonansi.
Menariknya, apresiasi terhadap keanekaragaman cara memainkan seluruh instrumen musik ini tidak hanya berkembang di tingkat lokal. Setiap tanggal 21 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Musik Sedunia (World Music Day) sebagai festival global untuk menghormati para musisi di seluruh penjuru bumi.
Gagasan perayaan global ini awalnya dicetuskan oleh Joel Cohen, seorang pemusik asal Amerika Serikat. Ide brilian tersebut kemudian ditindaklanjuti secara resmi oleh Maurice Fleuret hingga akhirnya dipatenkan oleh UNESCO sebagai perayaan internasional tahunan yang kita kenal sampai hari ini.
Kunci utama dalam menguasai instrumen musik apa pun terletak pada konsistensi latihan memori otot (muscle memory) dan kepekaan telinga. Mulailah dengan tempo yang lambat terlebih dahulu untuk memastikan akurasi teknik tiupan, petikan, gesekan, atau pukulan Anda sudah benar, sebelum beralih ke tempo lagu yang sebenarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow