Kupas Tuntas Cara Pengulitan Hewan Qurban Sesuai Prosedur Medis
Mengetahui cara pengulitan hewan qurban secara tepat merupakan kunci utama untuk menghasilkan kualitas daging yang bersih, higienis, dan bebas dari kontaminasi kotoran. Kesalahan dalam proses ini tidak hanya membuat proses pemotongan menjadi lambat, tetapi juga berisiko merusak struktur kulit dan menurunkan nilai jualnya.
Saya sering melihat panitia di lapangan terburu-buru melakukan pengulitan sebelum memastikan kondisi fatal hewan. Hal ini tidak hanya melanggar etika kesejahteraan hewan, tetapi juga menurunkan kualitas kebersihan daging karena darah belum keluar sempurna.
Pengulitan harus dilakukan saat hewan benar-benar telah mati.
Pernyataan tegas di atas dikutip langsung dari buku berjudul Teknik Pemotongan Hewan Kurban yang ditulis oleh drh. Supriyanto M.VPH tahun 2021 pada Halaman 88. Memastikan kematian sempurna adalah prinsip absolut yang tidak boleh ditawar oleh siapa pun di area penyembelihan.
Sebelum kita mengayunkan pisau pada kulit hewan, ada beberapa kriteria mendasar yang wajib dipenuhi oleh ternak qurban. Kriteria ini menyangkut umur dan kondisi fisik hewan demi memastikan kualitas daging dan kulit berada dalam kondisi prima.
Menurut Ir. Nanung Danar Dono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN. Eng selaku narasumber dari Fapet UGM, dalam penyembelihan hewan kurban harus memperhatikan beberapa syarat, yaitu jenis ternak, umur ternak, kesehatan ternak, dan waktu penyembelihan. Komponen tersebut saling berkaitan erat satu sama lain.
Syarat Umur dan Kesehatan Ternak Qurban
Ternak kurban juga harus memenuhi syarat kesehatan, yaitu kuat berdiri dan tidak cacat. Selain kesehatan fisik, kepastian umur hewan harus dicek melalui struktur giginya demi keabsahan ibadah dan kualitas kulit.
Berikut adalah acuan umur minimal untuk masing-masing jenis hewan qurban:
- Kambing atau Domba: Berumur di atas 1 tahun atau 1,5 tahun, ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap atau berganti sepasang gigi depan (poel).
- Sapi atau Kerbau: Berumur di atas 2 tahun atau setara dengan 1,5 hingga 2 tahun, ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap atau berganti sepasang gigi depan (poel).
- Unta: Berumur minimal 5 tahun penuh.
Manajemen Waktu dan Puasa Hewan
Waktu pelaksanaan ibadah ini diatur secara ketat berdasarkan syariat dan ketentuan teknis dinas terkait. Penyembelihan dilaksanakan pada hari nahar atau Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) atau di hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Sebelum disembelih, hewan dipuasakan selama 12 jam sebelum proses penyembelihan dilakukan. Puasa ini berfungsi penting untuk mengurangi isi saluran pencernaan sehingga meminimalkan risiko pencemaran kotoran pada daging dan kulit saat proses pengulitan berlangsung.
Sebagai gambaran menyeluruh mengenai regulasi dan tata cara persiapan, berikut ringkasan data acuan berdasarkan petunjuk teknis yang berlaku saat ini:
| Jenis Hewan | Standar Umur Minimal | Durasi Puasa Sebelum Sembelih |
|---|---|---|
| Kambing / Domba | 1 – 1,5 Tahun (Poel) | 12 Jam |
| Sapi / Kerbau | 1,5 – 2 Tahun (Poel) | 12 Jam |
| Unta | 5 Tahun | 12 Jam |
Langkah Demi Langkah Cara Pengulitan Hewan Qurban
Proses pengulitan harus dikerjakan secara sistematis agar kulit tidak robek dan daging tidak kotor. Pelaksanaan yang serampangan biasanya dipicu oleh pisau yang kurang tajam atau teknik penarikan yang terlalu dipaksakan.
Menurut panduan dari Dinas Peternakan Jatim, pengulitan dimulai setelah darah berhenti memancar sepenuhnya. Hal ini untuk memastikan area kerja tetap bersih dari genangan darah segar yang dapat mengontaminasi permukaan daging luar.
Teknik Insisi dan Pembuatan Jalur Kulit
Langkah pertama adalah membuat sayatan lurus di sepanjang garis tengah dada dan perut (linea alba). Sayatan dilanjutkan dari bagian dalam kaki depan menuju dada, serta dari kaki belakang menuju anus.
Gunakan pisau khusus pengulitan (skinner) yang ujungnya agak melengkung ke atas. Desain pisau seperti ini meminimalkan risiko ujung pisau menusuk dinding perut atau merobek lembaran kulit.
Pemisahan Kulit dari Daging Kulit
Setelah jalur sayatan terbentuk, mulailah memisahkan kulit dengan cara menariknya secara bertahap menggunakan tangan kiri. Sementara itu, tangan kanan melakukan penorehan ringan pada jaringan ikat antara kulit dan daging menggunakan pisau.
Posisi pisau harus selalu menghadap ke arah kulit, bukan ke arah daging. Jika pisau terlalu condong ke arah daging, lapisan lemak dan daging akan ikut tersayat sehingga penampilan karkas menjadi tidak rapi.
Kekurangan Metode Pengulitan Tradisional di Lapangan
Berdasarkan pengamatan saya di berbagai masjid, metode pengulitan yang dilakukan secara horizontal di atas tanah memiliki kelemahan besar. Kelemahan utamanya adalah tingginya risiko kontaminasi silang dari tanah, kerikil, maupun bulu hewan itu sendiri.
Sangat disarankan untuk menerapkan metode pengulitan gantung (hoisting) menggunakan katrol. Dengan posisi hewan tergantung terbalik, gravitasi akan membantu penarikan kulit ke bawah secara alami dan menjaga higienitas daging tetap optimal.
Bagi panitia yang membutuhkan koordinasi atau pengawasan kesehatan luar, pelayanan Dinas Peternakan Jatim beroperasi pada hari kerja Senin - Jumat, jam kerja pukul 08:00 - 16:00. Koordinasi yang baik dengan petugas lapangan akan memastikan seluruh proses penanganan daging qurban berjalan aman.
Keberhasilan cara pengulitan hewan qurban sangat bertumpu pada kesabaran, ketajaman alat, dan kepatuhan terhadap higienitas. Menerapkan teknik yang higienis dan memastikan hewan mati sempurna sebelum diproses adalah wujud penghormatan tertinggi terhadap hewan qurban sekaligus jaminan kesehatan bagi para penerima daging.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow