Cara Sholat Rebo Wekasan 4 Rakaat untuk Menolak 320 Ribu Bahaya
Menghadapi hari yang diyakini penuh dengan cobaan sering kali menimbulkan kecemasan tersendiri bagi sebagian umat Muslim. Salah satu momen yang kerap memicu perhatian besar adalah malam Rabu terakhir di bulan Safar, atau yang lebih dikenal dalam tradisi Jawa sebagai Rebo Wekasan. Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, banyak masyarakat menjalankan amalan spiritual seperti cara sholat hajat rebo wekasan sebagai bentuk ikhtiar batin memohon perlindungan dari Sang Pencipta.
Tradisi spiritual ini telah berlangsung turun-temurun di Nusantara dengan memadukan unsur syariat Islam dan kearifan lokal. Melalui pendekatan ibadah yang tulus, umat Muslim berharap dapat melewati waktu tersebut dengan aman dan penuh berkah. Ibadah ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai kelemahan manusia di hadapan takdir.
Rebo Wekasan merupakan sebuah tradisi dalam budaya Islam Jawa yang dirayakan secara khusus pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriyah. Secara kebahasaan, kata Safar memiliki arti kuning dalam bahasa Arab. Dalam tradisi masyarakat Arab kuno, sesuatu yang kuning diartikan sebagai pucat, dan pucat dimaknai sebagai simbol kekosongan.
Bulan yang dianggap kosong ini kerap kali dihubungkan dengan berbagai mitos lama sebelum Islam datang. Namun, dalam perkembangannya di Nusantara, para ulama menyelaraskan tradisi ini dengan amalan-amalan yang bernilai ibadah. Fokus utama diubah dari sekadar ketakutan pada takhayul menjadi permohonan perlindungan yang murni kepada Allah SWT.
Hari tersebut diyakini oleh sebagian orang sebagai hari yang penuh dengan bala, malapetaka, musibah, bencana, atau nasib buruk. Berdasarkan informasi dari sufi yang kasyaf dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur karya Syekh Abdul Hamid Quds dan kitab Mujarrobat al-Daerabi, diyakini ada 320 ribu bala atau bencana yang turun untuk setahun pada hari Rabu terakhir bulan Safar tersebut.
Bencana dan ujian yang turun ke bumi sesungguhnya merupakan pengingat bagi manusia agar senantheses meningkatkan intensitas doa dan kepasrahan kepada Zat yang Maha Memelihara.
Sebagai contoh penanggalan historis yang pernah dicatat, pada tahun 1445 Hijriyah yang lalu, Rebo Wekasan jatuh pada hari Rabu, 13 September 2023. Penentuan waktu ini selalu bergeser setiap tahunnya mengikuti siklus peredaran bulan pada kalender Hijriyah, sehingga umat Muslim perlu mencermati kalender terbaru untuk mengetahui waktu pelaksanaannya yang tepat.
Pandangan Para Ulama Terkemuka
Dalam memahami amalan di hari Rabu terakhir bulan Safar ini, terdapat perbedaan sudut pandang di kalangan ulama Nusantara yang sangat penting untuk dipahami agar tidak memicu salah paham dalam beribadah. Perbedaan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana syariat memandang tradisi lokal.
Ulama kharismatik pengasuh PP Al-Anwar Sarang, KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Maimoen, memberikan penjelasan mendalam terkait latar belakang hari tersebut. Beliau mengaitkannya dengan proses awal penciptaan alam semesta oleh Allah SWT.
Mbah Maimoen Zubair menegaskan mengenai pembagian waktu penting dalam sejarah penciptaan dunia ini secara rinci:
"Di hari Ahad Senin Selasa dan Rabu itu bagian penciptaan bumi, makanya Rabu diberi Rebo Wekasan itu waktu berdoa, sebagian ulama ahlu kasyaf mengatakan, pada hari Rebo Wekasan itu tempat tumpuan bala dan cobaan."
Lebih lanjut, Mbah Maimoen juga menjelaskan filosofi di balik penamaan bulan Safar dan kaitannya dengan keselamatan manusia:
"Dinamakan Rebo Wekasan karena bulan Safar, Safar itu (artinya) kuning, setiap yang kuning itu artinya pucat menurut orang Arab, jadi seakan-akan bulan yang kosong itu bulan Safar, seakan-akan Allah swt menciptakan bumi itu pada bulan Safar. Kalau ingat kejadian penciptaan dikembalikan kepada Allah swt maka akan selamat dari bahaya dan bala."
Berdasarkan argumentasi tersebut, Mbah Maimoen memberikan panduan praktis mengenai tata cara pelaksanaan sholatnya. Beliau menyatakan:
"Makanya kalau Rebo Wekasan disuruh sholat empat rakaat membaca surat Al-Kautsar itu dibaca 17 kali kemudian membaca surat Al-Ikhlas 5 kali, dan Al-falaq dan An-Nas."
Di sisi lain, terdapat pandangan tegas dari Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari. Beliau menyatakan bahwa hukum shalat Rebo Wekasan secara khusus adalah haram karena tidak ada asalnya dalam syariat Islam yang eksplisit.
Menurut pandangan beliau, anjuran shalat sunnah mutlak dari hadits shahih tidak berlaku untuk shalat ini sebab anjuran tersebut hanya berlaku bagi shalat yang memang sejak awal disyariatkan. Oleh karena itu, para ulama memberikan jalan tengah agar niat sholat dialihkan menjadi sholat hajat lidaf'il bala (memohon keselamatan dari bencana) atau sholat sunnah mutlak, bukan meniatkannya sebagai sholat khusus bernama Rebo Wekasan.
Tata Cara Sholat Hajat Rebo Wekasan Langkah demi Langkah
Dalam mempraktikkan ibadah ini di rumah atau di masjid, urutan langkah yang jelas sangat membantu agar kekhusyukan tetap terjaga. Dari pengalaman saya memperhatikan jamaah di berbagai daerah, kekeliruan sering terjadi pada jumlah pembacaan surat pendek yang cukup banyak, sehingga membutuhkan konsentrasi ekstra.
Berikut adalah panduan instruksional langkah demi langkah untuk melaksanakan sholat sunnah hajat tolak bala sebanyak 4 rakaat:
- Membaca Niat Sholat Hajat Tolak Bala: Niatkan di dalam hati untuk melaksanakan sholat sunnah hajat mutlak atau sholat lidaf'il bala guna memohon keselamatan, menghindari niat sholat Rebo Wekasan yang berdiri sendiri agar selaras dengan fatwa hukum syar'i.
- Takbiratul Ihram: Berdiri tegak menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan membaca takbir sebagaimana sholat pada umumnya.
- Membaca Surat Al-Fatihah: Membaca surat pembuka Al-Quran ini secara tartil dan jelas pada setiap rakaat.
- Membaca Surat-Surat Pendek Khusus: Setelah Al-Fatihah, baca Surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, dilanjutkan Surat Al-Ikhlas 5 kali, Surat Al-Falaq 1 kali, dan Surat An-Nas 1 kali.
- Rukuk dan Sujud: Lakukan gerakan rukuk, iktidal, dan dua kali sujud dengan tumakninah yang sempurna.
- Bangkit untuk Rakaat Berikutnya: Ulangi tata cara pembacaan surat yang sama pada rakaat kedua, ketiga, hingga rakaat keempat.
- Salam: Akhiri ibadah sholat 4 rakaat ini dengan melakukan salam ke arah kanan dan kiri setelah tahiyyat akhir pada rakaat keempat jika dilakukan sekaligus, atau setiap dua rakaat jika memilih skema dua kali salam.
Kesalahan umum yang sering saya lihat adalah pembaca yang terburu-buru menghitung jumlah bacaan surat Al-Kautsar hingga kehilangan fokus esensi doanya. Anda bisa memanfaatkan jari tangan atau tasbih digital setelah sholat jika merasa kesulitan menjaga hitungan 17 kali di dalam hati saat berdiri.
Untuk mempermudah pemahaman mengenai komposisi bacaan Al-Quran yang wajib dilafalkan dalam setiap rakaatnya, berikut disajikan data terstrukturnya.
| Rakaat | Surat Pendek yang Dibaca | Jumlah Pengulangan |
|---|---|---|
| Rakaat Kesatu | Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas | 17x, 5x, 1x, 1x |
| Rakaat Kedua | Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas | 17x, 5x, 1x, 1x |
| Rakaat Ketiga | Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas | 17x, 5x, 1x, 1x |
| Rakaat Keempat | Al-Kautsar, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas | 17x, 5x, 1x, 1x |
Amalan Tambahan Setelah Mendirikan Sholat
Melaksanakan sholat hajat barulah merupakan langkah awal dari rangkaian panjang pendekatan diri di malam penuh ujian tersebut. Selepas mengucapkan salam, umat Muslim sangat dianjurkan untuk tidak langsung beranjak dari tempat sujudnya, melainkan memperbanyak istighfar dan membaca doa tolak bala khusus yang diajarkan oleh para ulama terdahulu.
Membaca istighfar sebanyak minimal 100 kali dapat menjadi sarana pembersih jiwa dari noda dosa yang mungkin menjadi pemicu datangnya ketetapan buruk. Selain itu, memperbanyak sedekah pada keesokan harinya merupakan alternatif amalan nyata yang sangat ditekankan, karena sedekah dipercaya secara kuat dalam doktrin Islam dapat membentengi seseorang dari berbagai musibah yang tidak terduga.
Keselarasan antara ritual ibadah sholat dengan tindakan sosial seperti berbagi kepada sesama yang membutuhkan akan menyempurnakan makna dari penolakan bala itu sendiri. Dengan demikian, seorang hamba tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri melalui doa, tetapi juga menyebarkan kedamaian dan bantuan nyata bagi lingkungan sekitarnya di masa-masa penuh keprihatinan.
Pendekatan komprehensif ini memastikan bahwa tradisi keagamaan memberikan dampak positif ganda, baik secara vertikal kepada Tuhan maupun secara horizontal kepada sesama manusia. Melalui keteguhan iman dan ketepatan tata cara ibadah yang bersandar pada fatwa ulama otoritatif, ketenangan batin dalam menghadapi pergantian waktu akan senantiasa terjaga dengan baik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow